
Setelah membeli buku incarannya, Dylan dan kakaknya pun pulang ke rumah. Dari depan pagar Fely senang melihat Lea yang sedang menyiram dan merawat bunga-bunga di halaman dengan baik. Taman di depan rumah jadi terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
Begitu sampai, Fely langsung menghampiri Lea dan melihat-lihat isi tamannya dengan riang. "Leaaaa ... ini cantik banget, loh! Apa kau yang melakukannya sendirian?"
"Iya. Tanpa menggunakan kekuatanku, aku bisa merawat mereka." Jawab Lea, lalu menyiram bunga yang terakhir. Setelah itu, Fely memeluk gadis itu dengan senangnya.
Dylan dan Takana baru tiba di rumah. Dylan membaca komiknya sambil jalan, jadi rada lama. Sementara Takana mengejar-ngejar kucing sejak turun dari bis.
Setelah melewati pagar, Dylan hanya melirik sejenak kakaknya dan Lea, lalu kembali berjalan untuk masuk ke rumah. Ia ingin menyelesaikan komiknya di kamar dengan tenang.
Namun saat baru menginjakkan kakinya di teras, tiba-tiba Takana menarik tangan Dylan dan seketika pintu depan rumah jadi hancur. Memunculkan dua insan yang sedang berkelahi saat ini.
"Dylan-san, terkadang sesekali kau harus peka dengan keadaan di sekitarmu," ujar Takana setelah menarik Dylan untuk menghindari keributan yang muncul dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan ulah dari Tanaka dan Zai.
"Gelud mulu bawaannya." Dylan menyindir, lalu masuk ke rumah tanpa membuka pintu lagi. Tapi begitu lihat keadaan di dalam, Dylan terkejut karena rumahnya benar-benar berantakan. Sangat-sangat berantakan sampai beberapa barang jadi rusak.
Setelah memperhatikan sekitar, lirikan matanya pun sampai pada Asuka yang sedang duduk manis di sofa sambil menonton televisi dan meminum teh. Lalu ada Ethan yang sedang bersembunyi di bawah meja karena takut. Dengan cepat, Dylan menghampiri wanita itu untuk memarahinya.
Setelah Dylan datang, Ethan pun memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu ia berdiri di samping Divan.
Sementara di depan, Fely sepertinya sudah melerai kedua lelaki yang selalu saja ribut setiap saat. Saat ditanya alasannya, mereka pastinya berkelahi karena hal yang sepele.
"Udah, udah!" Fely menjauhkan kedua temannya itu. "Jangan sampai kalian menghancurkan taman indah buatanku– maksudnya bikinan Lea, ya?!"
"Dia yang mulai duluan." Tanaka menunjuk.
"Justru kau yang memulainya!" Zai membalas.
"Kau memukulku duluan!"
"Itu karena kau duluan yang mengejekku!"
"Aku mengatakan fakta tentang dirimu, bukan mengejek!"
"Tapi jangan sampai membuat orang tersinggung!"
"Kau nya saja yang mudah baperan!"
Walau tidak lagi berkelahi, tapi omongan mereka yang berisik membuat kepala Fely jadi pening. "Yah ... setidaknya mereka gak sampai ngancurin seluruh rumah." Batinnya pasrah.
Sementara itu di dalam rumah, Dylan sedang mengomel pada Asuka karena telah membiarkan Tanaka dan Zai mengacak-acak seisi rumah. "Aku gak mau tau. Pokoknya jangan sampai kakakku menyuruhku untuk membereskan ini semua. Mentang-mentang kalian hanya tamu, jangan seenaknya dong!"
Dylan yang masih kesal pun pergi ke kamarnya dan membanting pintu. Kamarnya tidak dibuat berantakan seperti ruang tamu. Dylan melepas jaket, lalu membanting dirinya ke kasur. Ia akan melanjutkan membaca komik.
"A–anu ..." Takana mengetuk kedua jarinya ke depan. "Dylan memang suka marah-marah. Maklumin aja ya–"
"Gak apa-apa. Aku sudah tau tentang dia." Asuka tersenyum pada Takana. Lalu ia membagi tehnya dengan Takana. Tapi lelaki itu menolak dengan menggeleng. Asuka kembali menatap televisi. Ia baru saja menonton berita update di sana sebelum Takana pulang. "Laporkan situasinya."
"Eh, kau sudah tau?" Takana terkejut. Asuka padahal sedang tidak berada di tempat kejadian saat para Oni menyerang supermarket tadi.
"Yah ... aku tahu dari berita, hehe ...."
Seketika Takana langsung memasang wajah melasnya. Ia pikir, Asuka bisa merasakan keberadaan Oni sejauh berkilo-kilo meter. Tapi ternyata tidak.
"Kayaknya ada sekitar 10 Oni lebih yang masuk dan menyerang orang-orang di tempat itu. Aku dan Irvan yang menghabisi mereka." Jawab Takana, lalu ia menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Sebenarnya ... sebagian besar si Irvan yang melawan mereka, hehe ...."
"Oh? Kalian bertemu dengan kedua pasangan serasi itu di sana?" tanya Divan yang duduk di samping Asuka.
"Eh? Pasangan?"
"I–iya ... Irvan dan darlingnya si Bella."
"Ah, aku pikir mereka tidak saling menyukai. Hanya sebatas darling dan tuannya."
"Hmm ... Oni Itu muncul karena merasakan keberadaan kalian di tempat itu. Ini jadi semakin buruk," ujar Asuka. Lalu ia pun berdiri dari Sofanya. "Sepertinya cepat atau lambat, kita harus kembali ke Akademi. Bahaya kalau di sini terus. Bisa-bisa ... manusia tak berdosa pun ikut jadi korban."
"Wah! Ke Akademi! Di mana tempat itu?"
"Tentu saja di Jepang!"
"Eeeh ... aku yang lahir di sana pun tidak tahu ada tempat seperti itu!"
"Kau akan segera mengetahuinya." Asuka tersenyum sambil meneleng. Lalu ia pergi ke kamar Fely untuk menghubungi seseorang. Tak lama setelah itu, Tanaka dan Zai kembali masuk. Mereka bekerja sama untuk membereskan ruang tamu yang dibuat berantakan.
"Yeay, aku akan mendapat teman baru dari sana. Kasih tau Dylan, ah~" Takana pun pergi ke kamar Dylan dengan senangnya. Ia berharap Dylan tidak terganggu dengan kehadirannya.
"Umm ... Cewekmu mau ke mana?" tanya Ethan setelah Takana pergi.
"Dia mau menghubungi ketua di markas. Tapi Asuka itu hanya Tuanku. Sebagai darling, aku wajib melayaninya setiap saat."
"Kau pasti menyukainya, kan?"
"Tidak, kok. Aku hanya menjalankan tugasku." Divan pun pergi dari tempatnya. Ia keluar untuk mencari udara segar. Tapi sambil berjalan, lagi-lagi ia teringat dengan kejadian 10 tahun lalu. Di mana saat itu adalah tahun paling buruk untuk para Oniroshi. Oniroshi diambang kepunahan dan banyak yang kehilangan keluarga mereka saat bencana itu terjadi.
...****************...
Supermarket yang mereka kunjungi tadi terjadi masalah, jadi Irvan dan Bell pun mengunjungi toko buah langsung untuk membeli pepaya. Lagipula tujuan utama mereka memang membeli buah.
"Sosis yang kamu mau gak dapet. Tapi setidaknya kita bisa membeli pepayanya gak apa-apa, kan, Van?"
Irvan hanya mengangguk.
Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan toko. Sepertinya mereka berdua harus cepat-cepat pulang karena sudah di luar terlalu lama. Sebelumnya mereka izin pada Ibu Bell untuk tidak berlama-lama pergi karena beliau di rumah juga ingin pergi. Tidak ada yang menjaga rumah.
"Huum ... kayaknya kita terlalu lama pergi. Ibu udah jalan belum, ya?"
"Dia kalau pergi, pasti kuncinya ditaruh di bawah keset." Jawab Irvan, lalu melihat ke arlojinya. "Lagipula kita baru pergi 30 menit lebih."
...****************...
Saat tiba di rumah, Irvan dan Bell sangat terkejut dengan keadaan rumah mereka yang setengah hancur. Karena khawatir dengan ibunya, mereka pun bergegas memasuki rumah itu. Dalamnya benar-benar berantakan.
"Kayak habis kerampokan ..."
"Bell, coba cari ibu sekarang. Aku akan periksa dapur."
"Ba–baik, Van!" Bell akan memeriksa atas. Ia bergegas menaiki tangga dan mencari keberadaan ibunya. Di atas hanya ada 2 kamar. Kedua ruangan itu, Bell tidak menemukan apapun.
Di lantai bawah, Irvan mencari ke dapur dan kamar mandi. Sosok ibu Bell tidak ada di sana. Tapi ia menemukan beberapa bekas cakaran di dinding. Ia pun menyentuh bekas itu dan memeriksanya.
"I–ini bukan ulah perampok,"
"Kyaaaa!!"
"Bell? Bellaaa!" Setelah mendengar teriakan itu, Irvan langsung pergi ke tangga. Setibanya di sana, ia dikejutkan oleh sesosok Oni besar berbentuk slime yang merayap di tembok-tembok di sekitarnya.
Oni Itu telah membungkus tubuh Bell dengan cairannya yang lengket. Makhluk itu tidak menyerang, tapi ia membawa kabur Bell lewat jendela. Tentu saja Irvan tidak akan membiarkannya.
Ia bergerak maju untuk menyerang Oni itu. Tapi tiba-tiba ada yang menendang perutnya sampai lelaki itu terdorong kembali ke belakang. Ia terkejut tak melihat siapapun di dekatnya. Tapi baru saja seperti ada yang menyerangnya dan rasanya lumayan sakit.
Lalu saat ingin melangkah maju sambil meraba-raba sekitar, seseorang itu kembali menyerang Irvan dengan memukul kepalanya kanan dan kiri, kemudian melempar tubuhnya ke langit-langit ruangan sampai tubuhnya tembus ke atap genteng.
"A–ada apa sebenarnya?!" batin Irvan yang masih keheranan dengan sosok tak terlihat tersebut. Ia tidak bisa balas menyerang. Melihatnya saja tidak bisa.
Ia akan mencoba menyerang dengan asal-asalan. Setidaknya sampai sosok itu mengenai Mana-Irvan. Tapi tak satupun berhasil. Yang ada ia malah tambah terluka karena kena serangan musuh.
"Aku tak ada waktu untuk melawan hantu. Aku harus menolong Bell!" batinnya.
Irvan turun dari atap dengan melompat, lalu kembali mengejar si slime yang menculik Bell. Tapi saat slime Itu mendekati jalan raya dan selokan di sana, Oni itu memasuki lubang" kecil dan Irvan tidak bisa meraihnya.
Sebelum masuk, tubuh Oni Itu menjadi kecil. Irvan tidak tahu bagaimana bisa tubuh Bell muat untuk masuk ke lubang-lubang yang kecil tersebut.
Karena sudah kehilangan jejak Bell, Irvan akan pergi meminta bantuan pada teman-temannya di rumah Dylan. Namun lagi-lagi saat ia ingin pergi, dirinya kembali diserang oleh sosok tak terlihat tersebut.
Ia dipukuli di tempat. Walau tidak menggunakan Mana, tetap saja terasa sakit. Irvan mengeluarkan Perisai Gelembung untuk melindunginya, lalu melarikan diri bersama gelembungnya.
Ia sepertinya berhasil melarikan diri dari makhluk tak terlihat itu. Sesegera mungkin, Irvan berlari dan melompati atap rumah dan gedung di sana sampai ia bisa tiba di sebuah rumah–tempat berkumpul teman-temannya– untuk meminta bantuan.
Namun saat ia hampir sampai, Irvan mendarat di salah satu rumah dan tak sengaja ia melihat Oni slime yang tadi. Mumpung jejaknya masih terlihat, ia lebih memilih untuk melenyapkan Oni Itu dan mencari keberadaan darlingnya yang hilang.
Dari tempatnya, lelaki itu melompat tinggi ke arah si Oni dan langsung menginjak makhluk itu. Aspal di sekitarnya retak, tapi Oni tersebut malah terpecah belah menjadi beberapa bagian, lalu bersatu kembali dalam satu tubuh, setelah itu pergi menjauh dari Irvan.
Dengan teksturnya yang seperti jelly, makhluk itu dapat bergerak cepat dan menyelinap ke lubang-lubang kecil. Untuk yang kedua kalinya, makhluk itu menghindari Irvan dengan memasuki gorong-gorong kecil. Lagi-lagi Irvan tidak dapat mengejarnya.
Ia pun memanjat bangunan dan kembali melihat Oni Slime di persimpangan jalan yang dekat dengan rel kereta.
"Kali ini, tidak akan kubiarkan lolos." Batinnya. Irvan melompati beberapa atap rumah dan sampai di rel kereta tersebut. Ia berada dekat di belakang si Oni. Makhluk itu terkejut begitu melihat Irvan yang bisa menemukannya dengan cepat.
Oni itu pun masuk ke terowongan. Terpaksa Irvan harus mengejarnya lagi sampai dapat. Ia juga tidak ingin membuang banyak waktu dan akan segera mengakhirinya.
Di depan terowongan itu, Irvan menghentakan kakinya dengan kuat, lalu seketika semburan air yang kuat muncul dari bawah tanah dan membuat lubang di tubuh Oni tersebut. Seketika setelah bagian-bagian tubuh makhluk itu berpecah belah, tubuh Bell keluar dari dalamnya. Si Oni juga menjadi kecil setelah mengeluarkan tubuh gadis itu.
"Bella!" Begitu melihat darlingnya terkapar lemas di sana, Irvan langsung menghampirinya. Ia tidak akan membiarkan Oni Slime kembali menyentuh temannya itu.
Namun sebelum kembali mengeluarkan Mana-nya, Irvan kembali mendapatkan serangan lain yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Akibat serangan itu, tubuhnya terhempas ke samping dan membentur dinding terowongan.
Lelaki itu meringis sakit pada lengan kanannya. Saat dilihat, sudah mengeluarkan darah. Secara perlahan, Irvan melirik ke arah serangan tadi. Tak jauh dari sana ia melihat ada satu Oni yang tak asing di matanya. Ia pernah melihat makhluk itu di sekolah. Tak lain dan tak bukan, sosok itu adalah Onirida yang pernah menyerang sekolah. Lucid, dan saudara kembarnya, Lucia.
Luka yang diterima Irvan tadi akibat dari sabetan cambuk ularnya Lucid. Irvan melihat darahnya telah berhenti mengalir dan ia mengelapnya dengan ujung lengan baju. Lukanya seperti sayatan yang besar, tapi ada bekas memar kebiruan dan tiba-tiba rasa sakitnya menyebar ke seluruh lengan kanannya sampai leher.
"Asik~ Racunku bekerja ternyata." Lucid membiarkan ular itu hidup dan melilit lengannya. Ia terlihat senang melihat musuhnya meringis kesakitan akibat serangannya.
"Hei, kan jangan sampai membunuhnya." Balas kembarannya yang sedang duduk santai di pinggir dinding sambil memakan permen karet dan memainkan senapannya. "Kalau misi ini gagal lagi, kau yang akan dibunuh Wan, loh!"
"Ah~ Gak bisa apa aku sedikit bersenang-senang? Kau selalu menghalangi."
"Aku cuma memperingatimu saja."
"Ck, ini jebakan. Aku harus cepat membawa pergi Bell dari sini." Irvan kembali berdiri secara perlahan dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia akan menahan luka tersebut untuk sementara waktu. Ia menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri bersama Bell selagi kedua Onirida itu berdebat sesuatu yang tak dimengertinya.
Irvan mendapatkan waktu yang pas. Ia memasang perisai gelembung, lalu dengan cepat menghampiri Bell yang jaraknya tak jauh darinya. Ia pun menggendong darlingnya tersebut dan langsung pergi ke luar terowongan di hadapannya.
"Kan ... dia kabur." Lucia yang melihatnya langsung berujar seperti itu. Ia membuat balon dari permen karet, lalu memecahkannya. Ia pun berdiri dan berjalan pelan keluar dari terowongan tersebut. "Sekarang biar aku saja yang tangkap dia. Kau terlalu membuang waktu."
"Ck, gangguin aja. Mangsaku itu cuma mau main kejar-kejaran."
"Masa bodo dengan kesenanganmu. Akan aku tangkap dia."
"Ets! Aku yang akan menangkapnya duluan! Wleeek!" Lucid pergi duluan bersama peliharaan ularnya yang bisa ia jadikan senjata. Sementara itu, Lucia tetap diam di tempat sambil mengumpulkan kekuatan.
Setelah itu tubuhnya mengeluarkan cahaya dan cahaya-cahaya tersebut terpecah belah menjadi beberapa bola bercahaya kecil yang membentuk sebuah Bom Mochi yang imut. Makhluk-makhluk kecil itu pun berterbangan dengan cepat dan menuruti perintah Lucia untuk mencari mangsanya.
"Kita lihat, siapa yang akan mendapatkan Oniroshi itu duluan."
*
*
*
To be continued–