
Vann yang duduk di atas pohon masih memainkan tabnya. Ia merekam para Oniroshi itu dari kejauhan. Terlihat di tabnya, ada seekor makhluk hitam miliknya yang diam-diam berjalan menghampiri Shikoo.
Vann kemudian memencet tombol lain dan makhluk itu langsung melompat, lalu menendang kepala Asuka. Kemudian dia menarik kaki Shikoo untuk dibawanya.
"Ah ini mudah." Gumam Vann dalam hati.
"Ugh, tak akan kubiarkan kau membawa dia!" Asuka kembali berdiri, lalu menginjak bumi. Seketika kristal es mengikuti makhluk tak terlihat itu dan memerangkap tubuh Shikoo agar makhluk itu tak dapat membawanya.
Namun ternyata Mana Asuka tak ada gunanya. Kristal es itu seketika meleleh dengan cepat dan tubuh Shikoo kembali dibawa makhluk itu. Dari kejauhan, Vann yang melihat hal itu langsung berujar dalam hati. "Huh, elemenku api. Melawan es itu mudah."
"Hei, berhenti di sana!" Fely mengarahkan tangannya ke depan. Seketika muncul beberapa benang merah yang menghampiri tubuh Shikoo dan makhluk itu. Saat ingin melilitnya, tiba-tiba benang tersebut terbakar. Serangan Fely gagal.
"Ck, terpaksa kita harus mengejarnya!" Leaa sedikit maju, lalu mengayunkan tangannya ke depan. Akar-akar pohon yang ada di sekitarnya pun bergerak dan menghampiri makhluk tak terlihat tersebut. Lagi-lagi akar-akar itu malah terbakar oleh Mana yang dimiliki makhluk tersebut.
"Ck, Mana kalian tak berguna." Batin Vann sekali lagi. Ekspresinya tetap sama. Tapi makhluk yang ada di dalam tab Vann itu terlihat tertawa keras. Makhluk itu pindah posisi dan mengangkat tubuh belakang Shikoo, lalu membawanya terbang.
Sebelum terbawa terbang tinggi, Shikoo membuka mata. Matanya kali ini berwarna merah dua-duanya. Ia melirik tajam ke makhluk yang membawanya walau ia sendiri tak dapat melihat makhluk itu.
Shikoo mengeluarkan cakar, lalu menyerang makhluk yang berusaha menculiknya. Makhluk milik Vann tentu saja terkejut dengan serangan itu dan tak sengaja ia menjatuhkan tubuh Shikoo. Tapi untungnya karena belum terlalu tinggi, Shikoo berhasil mendarat dengan kedua tangan dan kakinya.
Telinganya berubah menjadi telinga rubah dan muncul ekor yang tebal. Lalu rambutnya berubah menjadi hitam keseluruhan. Sosoknya berubah jadi lebih ganas dari sebelumnya. Ia bergerak dengan merangkak seperti binatang, lalu dengan kedua kaki dan tangannya, ia melompati pohon dan berhasil mendapatkan makhluk terbang tak terlihat itu.
"Aw! Kurang ajar! Kenapa dia bisa tahu??" Makhluk itu terjatuh. Sebelum sempat berdiri lagi, Shikoo terlihat mengeluarkan aura api biru dari tubuhnya dan mulai mengumpulkan Mana. Tak lama kemudian, Shikoo melempar sebuah bola api ke makhluk itu.
Dengan cepat, Vann langsung mengeluarkan makhluknya dari dalam tab untuk menghindari serangan itu. Untungnya masih sempat. Makhluk hitam miliknya pun kembali dengan selamat. "Hah ... hampir aja aku mati."
"Kau bodoh." Ucap batin Vann. Makhluk itu tentu mendengar suara batin tersebut dan langsung membalasnya, "Aku hanya lengah tadi! Aku tak tau kenapa dia bisa tiba-tiba berubah gitu. Padahal tadi lagi tak sadarkan diri."
"Hah ... kita mundur dulu. Yang penting kita udah tau Oniroshi yang diinginkan tuan putri." Vann berdiri dari tempatnya, lalu pergi. Diikuti oleh makhluk hitam miliknya.
...****************...
"Huh, dia kabur. Dasar pengecut!" Shikoo berkacak pinggang, lalu menonaktifkan Mana-nya. Lalu tak lama, teman-temannya yang lain pun datang menghampiri.
"Kau gapapa?" tanya Leaa yang melihat penampilan baru Shikoo. Sebenarnya ia sudah sering lihat. Tapi untuk orang yang baru bertemu dengannya, tak akan tau apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki itu.
"Kalian para Oniroshi pemula sangat tidak berguna. Melindungi adikku saja tidak bisa!" Shikoo menyentuh luka tusuk di perutnya itu. "Ck, dia jadi menderita karena sakitnya."
"Kalau gitu, ayo kita pulang dulu." Ujar Asuka. Semuanya pun mengangguk dan akhirnya mereka kembali ke rumah Fely.
Saat sampai di sana, Fely langsung mengobati Shikoo. Tapi wanita itu rada takut karena Shikoo terus membentak dan memarahinya karena pengobatannya tidak benar.
"Ah aku masih merasakan sakit. Kau ini seorang healer atau bukan, sih?!"
"Ma–maaf! Aku akan lebih hati-hati."
Di lain tempat, Bell dan Irvan memandang sikap Shikoo dengan heran. Lalu tak lama, Bell bertanya, "Kenapa Shikoo bisa jadi galak gitu, ya? Sebelumnya pendiem banget."
Leaa yang duduk di sampingnya pun menjawab, "Lebih tepatnya itu Kuroo. Bukan Shikoo."
"Eh, maksudnya?" Bell meneleng. Irvan hanya mendengarkan saja.
"Aku udah lama kenal sama Shikoo. Ah lebih tepatnya Shiroo dan Kuroo."
"Jadi mereka dua orang?"
Leaa mengangguk. "Huum. Saat Shiroo dan Kuroo bergabung, mereka dipanggil Shikoo. Jadi Shikoo itu sebenarnya ada dua orang dalam satu tubuh. Mereka kepribadiannya sangat berbeda."
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka bisa bergabung begitu?" tanya Bell yang semakin penasaran.
"Shiroo dan Kuroo itu saudara kembar. Kuroo dulunya adalah pemimpin bangsa Beast. Dia juga menjadi Oniroshi terkuat pada masanya. Tapi beda dengan Shiroo yang tak mau melatih kekuatannya karena terlalu takut. Makanya dia tak bisa bertarung dan kemampuannya hanya teleportasi.
"Berbeda jauh dengan Kuroo yang sudah tumbuh jauh lebih kuat. Tapi sayang, Kuroo meninggal duluan karena dia gugur dalam perang 10 tahun lalu. Tapi anehnya, arwah Kuroo malah menetap di tubuh Shiroo. Makanya saat mereka bergabung, penampilan mereka jadi hitam putih dan dipanggil dengan nama Shikoo." Leaa berhenti bercerita. Singkatnya, kisah Shikoo seperti itu.
"Kayaknya yang Kuroo itu lebih galak dari yang lain." Bell berbisik pada Irvan. Tapi tiba-tiba Kuroo dari kejauhan pun membentaknya. "Oy! Aku dengar itu!!"
"Huweee ... maaf!" Bell jadi takut dengan tampangnya, lalu bersembunyi di belakang Irvan.
"Sudahlah. Sebaiknya sekarang kita kembali ke Akademi." Asuka datang dari dapur. Lalu Divan juga muncul membawakan barang-barang milik Asuka. "Kalian semua harus ikut."
"Iya. Kau ingin mencari adikmu, kan? Kayaknya dia ada di dunia lain."
"Itu gara-gara kalian yang gak bisa menjaga adikku!" Kuroo menunjuk-nunjuk kasar pada Asuka. "Lain kali kau harus lebih hati-hati!!"
"Sudah-sudah ..." Lenard menarik baju belakang Kuroo lalu mengangkatnya. Kuroo yang pendek dan kecil, pastinya mudah diangkat dengan satu tangan. Dia jadi terlihat seperti anak kucing.
"Aaaah! Pak tua, jangan memperlakukanku seperti ini!" Kuroo memberontak minta diturunkan.
"Sudahlah, diam! Lebih baik kita cepat pergi dan saat di sana, kalian beristirahatlah dulu."
"Baik, Lenard-Dono."
...****************...
Dylan mengerutkan kening, lalu perlahan membuka mata. Warna pertama yang ia lihat adalah coklat. Seluruhnya coklat. Ia juga merasa pengap dan kakinya terasa seperti sedang ditarik oleh seseorang. Ia tak bisa bergerak, ada yang mengikat tangannya.
"Eh apa ini?! Aku di dalam karung?" batin Dylan setelah tersadar sepenuhnya. Tangannya terasa sakit karena tertindih oleh tubuhnya. Ia juga merasakan cairan mengalir dari kepalanya dan itu terasa sakit juga.
Dirinya ingin berteriak, tapi sehelai kain membekap mulutnya. Dylan tidak tau keadaan sekitar dan dirinya ada di mana saat ini. Yang ia rasakan hanya kakinya yang ditarik seseorang dengan suhu yang dingin.
Lalu tak lama kemudian, muncul suara keributan, tapi Dylan tak tau apa itu. Ia juga mendengar suara orang berteriak. Saat kegaduhan itu muncul, dirinya tidak ditarik-tarik lagi oleh orang misterius itu. Ia penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.
Setelah kegaduhan itu hilang, seseorang merobek karung yang membungkus setengah tubuh Dylan. Untuk sesaat, jarak pandangnya menipis karena silaunya cahaya dari luar. Tapi pada akhirnya, ia dapat melihat jelas kembali. Ternyata sekelilingnya adalah hutan.
"Ah, Dylan-san! Kau gapapa?" Itu Takana. Ia melepaskan kain yang menutup mulutnya. Lalu di sampingnya, Dyaln juga melihat Tanaka yang sedang melepaskan ikatan Zai.
Dylan bangun terduduk, lalu melirik sinis ke Takana. "Daripada kau bertanya begitu, mending lepasin aku!"
"Oh iya!" Takana tertawa kecil, lalu berlutut di belakang Dylan. Ia melepaskan tangan darlingnya. Setelah itu, Dylan mengelus pergelangan tangannya dan melihat lengan. "Ck, siku ku terluka. Ah ini menyakitkan."
"Fiuh, beruntung aku masih hidup!" Zai menghela napas kasar, lalu ia berdiri dan menepuk-nepuk celana serta bajunya yang kotor. "Ah ga bisa hilang. Ada sungai ga ya di sini?"
"Daripada itu, coba kita cari jalan keluar dulu." Usul Tanaka lalu menghampiri tiga mayat seseorang yang tak jauh dari sana. Ia memeriksa tubuh orang itu dan mengambil peralatan yang dibawanya, seperti tas dan ada pisau juga.
Zai memeriksa tubuh orang yang lainnya. Ia menemukan daging dan apel dari dalam tasnya. Ia pun melempar apel itu ke Dylan. "Untuk sementara, isi perut dulu."
"Hm." Dylan menangkap apel itu, lalu ia berdiri.
"Dylan-san. Tolong nunduk sebentar." Ujar Takana setelah mengambil kain dari dalam karung. Dyaln pun menurutinya. Takana membersihkan darah di pipi sampai dahi Dylan. Dylan sempat meringis sakit, tapi Takana mencoba untuk berhati-hati.
"Ah sebenarnya apa yang terjadi–Uwaaa!!" Dylan terkejut melihat Tanaka mengangkat kepala serigala dari mayat di depannya. Saat Dylan perhatikan, mayat itu bukanlah manusia. Melainkan binatang yang berbentuk seperti manusia. "Ka–kau membunuh makhluk ini?"
"Iya. Mereka ingin menculik kita tadi. Entah untuk apa. Jadi aku membela diri dan menyelamatkan kita semua." Tanaka berdiri, lalu memakan buah yang ia temukan. Setelah itu, ia menggendong tas dari mayat itu, lalu melirik ke bekas gesekan di tanah. "Coba kita ikuti ini. Mungkin bisa menunjukkan tempat kita muncul ke dunia ini."
"Ini dunia yang berbeda dari dunia kita. Sebaiknya kalian berhati-hati." Zai melempar sebuah parang ke Dylan. Dylan terkejut dan langsung menangkap gagangnya. Untungnya tidak terkena mata pisaunya.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat." Tanaka jalan duluan. Diikuti oleh temannya yang lain.
"Dunia yang berbeda? Aku pikir ... tempat ini sama aja kayak dunia manusia." Ujar Dylan sambil melirik ke sekitar. Datu tumbuhan sampai pepohonan juga sama seperti dunia asalnya. Tapi yang aneh, tempat itu sangat sepi. Bahkan Dylan belum melihat satupun makhluk hidup seperti serangga di hutan itu.
"Kau tak tahu apa-apa. Dunia ini dipenuhi makhluk buas. Hah ... kita gak beruntung malah pindah ke sini." Jawab Tanaka, lalu mempercepat gerakannya.
...****************...
Di tempat para mayat yang dibunuh Tanaka tadi didatangi oleh beberapa makhluk yang satu ras dengan mayat-mayat tersebut. Mereka seekor werewolf yang kelakuannya sama seperti manusia.
Salah satu dari mereka mengendus mayat itu dan juga beberapa bercak darah. Kemudian mereka menggeram dan langsung pergi mencari asal dari darah asing yang mereka temukan.
*
*
*
To be continued –