Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 41~ Maaf



"Nah, Dylan! Kau terlihat manis sekali, haha...." Tanaka tertawa kecil sambil menepuk tangannya.


Aku hanya membuang muka dari Tanaka sambil mengerutkan keningku. Aku kesal sekali. Dan sekarang, mungkin saja wajahku agak memerah. Sungguh! Saat aku melihat diriku di kaca, aku sangat terkejut. Pakaiannya benar-benar menjijikan. Berwarna pink dan sekarang si Tanaka malah menambahkannya dengan telinga kucing dan ekor yang ia ikatkan pada pinggangku.


TRIING~ TRIIING~


Ponsel Tanaka berdering. Ia pun merogoh saku celananya dan mengambil ponsel itu. "Ah, tunggu sebentar, Takana-Chan! Onii-chan ingin menerima telpon ini dulu. Dan, bagaimana kalau Dylan saja yang memakaikan baju pada Takana?"


Aku membesarkan mataku karena terkejut. "Eh?! Ogah amat! Tidak mau!"


"Ya sudah kalau begitu. Biasa saja, dong! Ah, sebentar, ya?" Tanaka tertawa kecil. Lalu, ia pun pergi keluar kamarku untuk menerima telepon itu di tempat yang lebih sepi.


"Dylan-san terlihat imut sekali!" batin Takana.


Aku melirik ke arah Shota itu yang ada di sampingku. Dia ternyata sedang menatapku. Tapi, saat aku menengok ke arahnya, ia lun langsung membuang muka. Aku sedikit agak geser dari Takana. Aku duduk di pinggiran tempat tidurku, agak jauh dari si Takana.


Huh, untuk apa Kakak menyuruhku memakai baju Maid seperti ini? Jika dia ingin aku menjadi pelayan tamunya, ya tidak harus memakai baju ini juga, kan?


KRIEET....


Tanaka kembali ke dalam kamarku. Ia memasukan ponselnya kembali ke saku celananya. Lalu setelah itu matanya melirik ke arahku. "Eh, Dylan? Kakakmu baru saja telpon tadi. Dia akan pulang ke rumah dan membawa tamunya. Ayo kita siap-siap!"


Tanaka menghampiri Takana. Ia langsung membantu adiknya untuk memakai baju Maid yang sama sepertiku. Cuma hanya beda motif saja.


Tak lama kemudian, Takana pun akhirnya selesai didandani oleh Kakaknya itu. Aku tersentak kaget saat melihat penampilan Takana. Dia terlihat manis sekali. Sungguh! Walaupun dia itu cowok, tapi dia terlihat cantik saat memakai baju itu.


Bajunya sangat pas dengan dirinya. Dan Takana pun menjadi Maid yang terlihat cantik. Dia memang cowok yang cantik. Tapi, sedangkan aku?


Tubuhku jadi terlihat lebih gemuk dan roknya ini sangat menyebalkan. Aku kesulitan dalam berjalan dengan rok besar dan panjang ini!


Huh, untung saja warna baju Maid ku tidak terlalu mencolok seperti Takana. Bajunya Takana berwarna pink. Pink yang sangat cerah.


Ah sudahlah! Intinya aku tidak ingin memakai ini. Tapi, aku sengaja melakukan ini karena memang kemauan dari kakakku sendiri. Payah!


****


Chapter 41: [ Maaf ]


****


TOK~ TOK~


"Nah, itu pasti kakakmu, Dylan!" kata Tanaka sambil berjalan mendekati pintu.


Kebetulan sekali! Kakakku cepat sampai. Aku ingin bilang kalau aku sangat menyesal karena telah membentaknya. Pokoknya, detik ini juga, aku akan meminta maaf padanya sebelum terlambat.


"Eh? Dylan tunggu di sini saja! Biarkan aku yang membuka pintunya. Jangan keluar, ya? Berikan kejutan untuk kakakmu." Ujar Tanaka sambil menghalangi langkahku.


"Eh? Jadi aku tidak boleh keluar dari kamarku sendiri, gitu?" Aku menelengkan kepalaku.


"Bukan seperti itu. Intinya, kamu sekarang jangan keluar dulu, ya? Tunggu suruhan dariku, baru kau boleh keluar." Tanaka perlahan membuka pintu. Lalu, ia pun keluar dari kamarku dan meninggalkan diriku bersama dengan Takana di dalam kamarku sendiri.


TOK~ TOK~


"I, iya, sebentar!"


Tanaka hampir sampai di depan pintu. Tanaka membukakan pintu untuk dua orang di depan sana. "Selamat datang kalian... eh?" Tanaka terkejut. Karena Kak Fely telah membawa seorang laki-laki ke rumahnya.


"Ah, Tanaka-kun! Perkenalkan, dia namanya Elthan." Kak Fely melambai kecil pada Tanaka, lalu dirinya pun memperkenalkan tamu baurnya itu pada Tanaka.


Tanaka hanya terdiam saja. Lalu, Ethan mengulurkan tangannya dengan niat ingin berjabat tangan dengan Tanaka. Setelah lama mematung, Tanaka pun akhirnya menggerakkan tangannya. "A, aku Tanaka."


"Aku Elthan. Panggil saja aku Ethan." Lelaki bernama Ethan itu pun tersenyum tulus pada Tanaka dengan kepalanya yang agak sedikit dimiringkan.


Tanaka hanya mengangguk. Ia kembali diam. Selang beberapa detik, Tanaka menggelengkan kepalanya cepat. Lalu, setelah itu Tanaka lun membuka pintu depan lebar-lebar untuk membiarkan Kak Fely dengan Ethan- tamunya- itu masuk.


Tanaka meminggir. Membiarkan mereka berdua masuk terlebih dahulu. Setelah mereka berdua (Kak Fely dengan Ethan) masuk, Tanaka pun kembali menutup pintunya. Ia melihat gerak-gerik Kak Fely yang terlihat dekat sekali dengan Ethan.


"Laki-laki itu siapa, ya?" batin Tanaka penasaran.


Aku tidak tahu, kenapa Tanaka bisa kaget saat melihat laki-laki bernama Ethan itu.


Kak Fely mengajak Ethan ke dapurnya. Lalu, mereka berdua pun duduk di meja makan.


"Ethan? Anu... tunggu sebentar, ya? Aku akan menyiapkan makanan." Ujar Kak Fely cepat. Lalu, setelah itu Kak Fely pun beranjak dari kursinya. Ia melangkah ke arah lemari makanan. Tapi, tiba-tiba saja langkahnya sempat terhenti saat mendadak si Tanaka muncul di samping Kak Fely.


"Tunggu, Fely-chan. Biar aku saja yang menyiapkannya. Kau hibur saja tamu mu itu. Karena, aku punya sebuah kejutan, hehe...." Tanaka menjentikkan jarinya sambil menutup mata dan tersenyum.


Kak Fely membesarkan matanya, tersenyum dan mengangguk. Lalu setelah itu, Kak Fely kembali menemani Ethan di meja makan. "Maaf, ya? Makanannya akan segera datang!" kata Kak Fely pada Ethan yang ada di depannya.


Ethan tertawa kecil sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan. "Ah, tidak masalah. Aku bisa menunggu!"


Kak Fely dan Ethan pun kembali berbincang-bincang. Lalu, tak lama kemudian, mereka dikejutkan dengan sosok seseorang yang datang mendekati meja makan mereka.


"I, ini makanan untuk kalian."


Itu suara Takana yang sedang berjalan pelan menghampiri Kak Fely dan Ethan. Ia terlihat malu-malu saat membawakan makanan untuk kedua orang di meja makan itu.


"Manis sekali~" puji Ethan saat melihat penampilan Takana. Takana hanya tersenyum malu. Sepertinya dia agak tersipu. "Wah~ Terima kasih untuk makanannya." Kata Ethan lagi dengan perasaan senang.


Takana tertawa kecil sambil mengangguk, lalu ia pun berbalik badan dan berlari kecil sambil mengangkat roknya.


"Haduh, imutnya~ Eh, anak itu siapanya kamu?" tanya Ethan.


Kak Fely tersentak kaget. Karena sedari tadi ia hanya memperhatikan penampilan Takana yang super imut baginya dan pakaiannya itu yang terlalu mencolok. "Ah! Dia itu saudara kandungnya Takana!" jawab Kak Fely cepat.


Ethan mengangguk paham. "Oh... haha..."


Takana kembali ke kamarku. Oh tidak! Sekarang giliranku. Haduh, sudahlah ini hanya sebentar saja. Hanya menaruh minuman dan makanan lainnya di atas meja, lalu kembali lagi ke kamarku. Sudahlah! Aku juga tidak ingin menatap mereka berdua.


"Dylan, ayo cepat!" Tanaka mendorongku keluar kamar. Sialan! Orang itu main dorong aku saja! Kalau minuman ini jatuh dan tumpah bagaimana?!


Ah, baiklah! Sekarang waktunya. Aku akan memberanikan diri untuk maju dengan penampilan seperti ini ke depan mereka untuk memberikan minuman pada mereka. Aku mulai berjalan.


Saat langkahku hampir dekat ke dapur, Ethan melirik ke arahku. "Eh? Hei, ada yang datang lagi?" Kak Fely membesarkan matanya lalu melirik ke arahku.


"Eh, Dylan? Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Kak Fely tidak percaya.


Aku sedikit menunduk dan menjawab, "Emm... untuk melayani kalian. Kan kakak sendiri yang suruh."


Kak Fely terkejut. "Eh?! Kakak hanya ingin kamu mempersiapkan hidangannya saja. Tapi jangan berpakaian seperti Maid juga, dong. Jangan terlalu manis, ah!" jelas Kak Fely.


Aku terkejut. "Eh! Tapi kata Tanaka...."


"Eh? Tanaka? Tunggu! Jangan bilang kalau kamu dipermainkan lagi sama si Tanaka!"


"Eh?!"


Jadi, bukan suruhan kakakku?! Aku berpakaian seperti ini karena memang kemauan Tanaka sendiri? Itu berarti, aku sudah dipermainkan olehnya! Tanaka bodoh! Berani-beraninya dia membohongiku! Lihat saja pembalasanku nanti....


****


Aku pun berganti pakaianku. Lalu, karena seluruh penghuni rumah ini disuruh untuk makan bersama di dapur, jadi aku terpaksa untuk ikut juga dengan mereka.


Hidangan malam ini adalah Ayam Goreng dengan Udang Saus tiram. Ditambah dengan nasi hangat, minumannya Es teh dan Jus Mangga. Kelihatannya enak. Tapi, yang tidak enaknya itu adalah kenapa tidak ada susu di atas meja?


Huh, kalau begitu, aku harus mengambilnya sendiri. Aku pun turun dari tempat dudukku, lalu berjalan mengarah ke lemari es. Aku membuka lemari itu dan mengambil sebotol susu dingin di dalamnya.


"Dylan? Kamu mau minum susu lagi?!"


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba saja kakakku menegurku. Aku pun menengok ke belakang dengan tatapan dingin. "Iya. Memangnya kenapa?"


"Kurangi minum susu, Dylan! Nanti penyakitmu kambuh lagi!" larang Kakakku.


"Ah, berisik! Aku tidak peduli. Susu itu minuman kesukaanku. No Milk, no life!" Aku membantah. Bodo amat. Dengan santainya dan tidak mendengarkan ocehan Kakakku, aku menuang susu itu ke dalam gelasku.


"Kau itu, ya! Kalau dibilangin selalu saja seperti itu. Apa kau tidak mempedulikan kesehatanmu?!" bentak kakakku.


"Tidak." Jawabku singkat. Harus seperti itu. Kalau tidak, maka Kakakku tidak akan berhenti mengoceh.


Tapi ternyata, kali ini dia benar-benar murka padaku. Kak Fely belum menyerah. Dia pun beranjak dari kursinya dan berjalan cepat ke arahku. Lalu, cahaya merah sedikit keluar dari tubuh kakakku dan seketika benang merah muncul dari tangannya.


Benang merah itu menjulur ke arahku. Aku pikir, Kakakku akan menyerangku, tapi ternyata benang-benang itu hanya merebut gelas dan botol susu yang ada di genggamanku. "Mulai sekarang, botol susu ini Kakak sita!"


"He, hei! Kembalikan itu!" Aku berusaha untuk merebutnya kembali. Tapi sayang tidak bisa kerena terlalu tinggi.


"Tidak boleh, Dylan! Aku tidak akan memberikanmu susu ini lagi."


"Tidak, kakak! Kalau susunya dibiarkan begitu saja, nanti bisa basi."


"Tidak boleh! Kau jangan melawan padaku, ya?!"


"Berisik! Berikan itu padaku!"


Kami berdua pun mulai ribut. Berusaha untuk merebut botol susu yang terikat oleh benang merah melayang milik kakakku itu.


Kakakku menyebalkan sekali! Aku ingin menghabiskan susu itu. Cish! Benangnya terlalu tinggi. Kalau begitu, apa boleh buat....


BRUK!


Aku mendorong kakaku. Lalu, karena dirinya kehilangan keseimbangan, ia pun terjatuh ke lantai dan seluruh benang merahnya itu menghilang. Susu yang ada di udara itu pun terjatuh. Terjatuh menimpa....


PRANG!


"AAAAKH! Aduh!"


Oh tidak! Botol susu itu menimpa kepala Ethan. Saat ini, lelaki itu sedang mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Saat ia mengangkat sedikit tangan kanannya dari kepalanya, terlihat cairan berwarna merah pun mulai mengalir dari kepala bagian atasnya. Kepalanya berdarah!


Pastinya berdarah dan sepertinya sakit sekali. Karena, botol susu itu terbuat dari beling. Lalu, saat membentur ke kepalanya seketika botol susu itu langsung pecah dan serpihan bekingnya terjatuh ke lantai.


Kak Fely sangat terkejut melihat tamu istimewanya itu terluka karena ulahnya. Tidak, ini semua karena ulahku. Aku telah membuat kesalahan besar lagi!


Kak Fely pun berjalan cepat menghampiri Ethan. "E, Ethan! Ma, maafkan aku. Ini salahku. Oh tidak! Aku akan membereskan ini semua dan Ethan, kau diam dulu. Aku akan mengobatimu. Tapi sebelum itu, aku ingin membereskan pecahan beling ini." Panik Kak Fely. Ia pun memunguti pecahan beling itu satu per satu, lalu tiba-tiba saja karena tidak berhati-hati....


"Aw!" Tangannya jadi kena beling itu, kan!


"Eh, hei? Kau tidak apa-apa?" tanya Ethan cepat sambil menggenggam tangan Kak Fely yang terluka. Ethan memegang tangan Kak Fely itu dengan tangan kanannya. Padahal, tangan kanannya itu sudah ada bercak darah.


Kak Fely pun mendongak. Melihat sosok Ethan yang sudah sangat dekat dengannya. Ethan pun turun dari tempat duduknya, lalu ia berjongkok menghadap ke Kak Fely.


Setengah wajahnya berwarna merah akibat dari darah yang mengalir dari lukanya itu. Dan sampai sekarang pun, darahnya masih belum berhenti mengalir juga.


Kak Fely jadi semakin panik. "Wa, waaa! E, Ethan! Kau harus merawat dirimu dulu. Sebentar, aku akan ambilkan-"


"Tidak usah. Aku saja." Tanaka menyela. Ia pun beranjak dari kursinya, lalu berjalan ke arah kamar kakaku. Tak lama kemudian, ia pun kembali keluar kamar dengan sebuah kotak P-3K di tangannya.


Tanaka pun membuka kotak itu, dan mengeluarkan sesuatu. Ia akan menghentikan pendarahannya dahulu. Tanaka mengambil kapas lembut dan perban. Meneteskan sedikit obat di lapas itu, lalu ia pun menempelkan kapas itu ke luka yang ada di kepala Ethan. Menekannya sedikit, lalu kembali mengangkatnya.


Terdengar suara erangan Ethan yang menahan sakit. Suara itu telah membuat Kak Fely menjadi semakin cemas dengan keadaan pemuda laki-laki yang baru ia temui itu. "Ah, Ethan! Bertahanlah." Bisik Kak Fely.


Tanaka melirik ke arah tangan Kak Fely yang sedang menggenggam lengan Ethan itu. Seketika, ia pun langsung memasang wajah dingin. Ada apa dengan Tanaka? Dia tidak seperti biasanya.


****


"Nah, sudah."


Tanaka kembali berdiri setelah ia selesai mengobati luka Ethan dan membalut kepalanya dengan perban. Lalu, setelah itu, Kak Fely pun membantu Ethan untuk berdiri kembali dan duduk di kursinya.


"Terima kasih." Ucap Ethan pada Kak Fely. Lalu, pandangan matanya beralih ke Tanaka. Ia tersenyum dan mengucapkan kata yang sama. "Terima kasih juga. Dan maaf sudah merepotkan kalian."


Kak Fely tersentak. "Ah, tidak Ethan! Kau tidak bersalah. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Maaf, aku sudah membuatmu terluka." Kak Fely menundukkan kepalanya dengan perasaan menyesal.


Aku menggeleng pelan. Tidak tega melihat kakakku seperti itu. Seharusnya aku yang meminta maaf dan bukan dia. Kakakku tidak bersalah. Dari tadi, aku terus yang melakukan banyak kesalahan dan telah membuat kakakku kesal.


Tidak. Aku tidak boleh berdiam diri sepeti seorang pengecut. Aku juga harus meminta maaf. "Anu... aku juga minta maaf untuk kejadian ini. Semuanya salahku. Maaf."


Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mengucapkan kata "maaf" pada Kakakku. Bukan hanya pada Kak Fely, tapi untuk semuanya juga. Karena, aku adalah manusia dengan banyak kesalahan dan dosa....


To be Continued-