Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 53– Element



Seorang wanita cantik berambut pendek berwarna putih baru saja tiba di tempat pertemuan yang sebagian tanahnya telah hancur karena ledakan tadi. Wanita itu memakai pakaian minim dengan membawa sebuah busur yang terlihat bercahaya dan terbuat dari es yang padat, tapi cukup ringan. Ia tidak membawa anak panah karena cukup mengucapkan skillnya, anak panah itu akan muncul sendiri.


Kembali ke saat ini. Irvan dan Bell hanya menceritakan pengalaman mereka sebelum ke sekolah. Saat ini, mereka berdua menceritakannya pada Dylan dan Takana di depan kolam renang sekolah. Lebih tepatnya di depan kamar mandinya.


Sebelumnya Irvan dan Bell mengeringkan tubuh mereka dengan handuk yang terdapat di sana. Setelah itu baru bercerita. Hanya sampai kemunculan wanita itu saja yang bisa Bell ceritakan panjang lebar. Setelahnya, ia hanya memberitahu sesingkat-singkatnya.


"Setelah itu, kami pun diselamatkan oleh wanita itu." Bell selesai bercerita. Ia ingin kembali menguncir rambutnya, tapi Irvan melarangnya karena masih basah. Terpaksa, Bell pun menurutinya.


"Udah? Gitu doang?" Dylan melipat tangan ke depan lalu menaikan alis. "Mana yang pentingnya?"


"Eeeh ... bagian pentingnya itu ada pada dua Oni dan wanita itu, loh!" Bell menjawab dengan tegas, lalu melirik ke Takana. "Apa kau tau mereka-mereka itu, Na?"


"Ah, hmm ..." Takana tersentak, lalu mulai memikirkannya. Sejujurnya ia tidak tahu soal kedua Oni kembar yang menyerang kedua temannya. Tapi sepertinya ia mengingat sesuatu. "Kalau tidak salah ... Onii-chan pernah memberitahuku kalau ada Oniroshi yang memiliki kekuatan yang sama sepertinya."


"Apa wanita es itu?" Bell bertanya lagi.


"Ah, aku tidak tahu. Lupa. Pokoknya level terkuat dari semua Oniroshi itu adalah level 15. Dikatakan ... dia sudah membasmi ratusan Oni di dunia ini dengan kekuatannya yang hebat!" jelas Takana.


"Jadi ... apakah ada banyak Oniroshi di luar sana?" Dylan pun bertanya. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi tertarik dengan pembicaraan ini.


"Dulu banyak. Tapi sekarang ... beberapa dari kami telah dibasmi oleh kekuatan gelap dari Onirida. Yaitu bos dari seluruh Oni yang kediamannya masih tersembunyi.


"Onii-chan memberitahuku kalau dulu, bos dari para Oni itu pernah disegel dan dihilangkan kekuatannya. Tapi karena ada satu Oniroshi yang berkhianat, Onirida itu dapat bangkit kembali dan kini dia berencana akan balas dendam pada semua Oniroshi di seluruh dunia."


Setelah penjelasan Takana, Dylan menyentuh dagu dan memikirkannya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata selain manusia-manusia yang ia anggap membosankan, di dunia ini ada beberapa manusia berkemampuan khusus yang sedang melindungi dunia dari ancaman jahat.


"Ah, kalau begitu ... kalian ini sudah level berapa?" tanya Dylan pada Irvan dan Takana yang merupakan Oniroshi yang selalu dekat dengannya.


"Aku level lima setengah!" Takana menjawab dengan bangga.


"Tujuh." Irvan mengangkat sedikit tangannya. Takana yang terkejut sekaligus kagum pun langsung melirik ke lelaki itu. "Wah! Untuk seorang Oniroshi yang masih muda, kau cukup hebat, ya? Kapan-kapan bertarung dengan Takana, yuk!"


"Ah, iya ... ngomong-ngomong aku belum tau kekuatanmu." Dylan melirik ke Irvan, kemudian lirikannya berpindah ke Takana. "Kekuatanmu juga tidak jelas. Nama kekuatanmu itu sebenarnya apa, sih?"


"Eeeeh ... Dylan-san bukannya udah tau, ya?"


"Aku masih belum paham."


"Kalau gitu, tebaklah~"


"Kasih tau aja susah amat, sih?!" Dylan membentak. Hal itu membuat Takana sedikit takut dan langsung menjawabnya. "A–aku ... aku bisa mengeluarkan api! Elemen ku juga api! Ah!"


Takana mencoba untuk mengeluarkannya lewat telapak tangannya. Tapi karena tidak fokus, ia jadi hilang kendali dan apinya malah terjatuh dan membesar. Dengan cepat, Irvan langsung mengeluarkan jurusnya dan memadamkan api itu sebelum semakin besar.


"Wah! Api biru! Keren banget, Takana!"


"Yah ... tapi masih ada kekuatan yang belum bisa aku kendalikan." Jawab Takana sambil mengelus-elus kedua tangannya. Lalu setelah itu ia melirik ke Irvan. "Eh, lalu kau ini ... pengguna elemen air?"


Irvan mengangguk. "Sebenarnya aku juga bisa menggabungkan elemen es. Tapi masih belum tau cara menggunakannya." Ia akan mencobanya sekarang. Tapi saat mengarahkan tangan ke kolam renang, tiba-tiba beberapa butiran air dari sana mendatangi Irvan.


Lelaki itu mencoba untuk membekukannya, tapi tidak terjadi apa-apa. Karena tidak bisa menunjukkannya, ia pun berhenti mengendalikan air di kolam renang itu lalu kembali melirik ke Takana.


"Wah ... kenapa kau begitu yakin kalau ada elemen es juga dalam dirimu?" tanya Takana penasaran.


Mata Irvan sedikit membulat. Sepertinya ia tersentak mendengar pertanyaan Takana. Ia jadi teringat dengan seseorang. Kekuatan yang ia dapatkan itu ada hubungannya dengan wanita es yang menyelamatkannya dari serangan iblis tadi. Karena sedang tidak ingin bercerita, Irvan hanya menggeleng, lalu menjawab, "Cuma dugaan."


Takana mengangguk, lalu melirik ke arah Dylan. Tak lama setelah itu, tiba-tiba saja bel masuk pun berbunyi. Mereka bertiga tersentak dan akan bersedia untuk masuk ke dalam kelas. Mereka semua pun pergi meninggalkan kolam renang.


Namun saat ingin pergi juga, tiba-tiba Takana merasakan kehadiran makhluk lain yang diduganya sebagai Oni. Saat ingin mencarinya, tiba-tiba Bell menarik tangan Takana untuk ikut dengannya. "Takana kenapa bengong? Ayo, nanti keburu ada guru masuk!"


"A–ah, iya, hehe ..." Takana tertawa kecil. Lalu ia bertanya, "Eh, kenapa tubuh kalian bisa basah pas sampai ke sekolah? Bukannya ... kekuatan air Irvan tidak membuat tubuhnya basah dan tidak mengenaimu, ya?"


"Aah ... begitu."


Irvan berbalik badan dan memberitahukan sesuatu pada Takana. "Intinya yang ingin kami beritahukan adalah ... berhati-hatilah pada Oni kembar itu. Mereka sepertinya lebih kuat dari yang dulu."


Takana hanya mengangguk kaku. Lalu ia bergumam dalam hati, "Haruskah aku memberitahu soal ini pada Onii-chan?"


...****************...


Saat tiba di kelas, Takana dan Dylan pergi ke tempat duduknya masing-masing. Begitu juga dengan semua murid yang ada di sana. Saat salah satu dari mereka selesai menyapu kelas, sang guru yang mengajar pelajaran pertama pun datang.


Guru itu meletakkan tasnya di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam sana. Setelah itu, ia memanggil ketua kelasnya dan guru memberikan beberapa lembar kertas padanya.


"Eh? Apa ini?" tanya si ketua kelas heran.


"Loh? Kalian lupa? Kan hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester! Jadi jawablah soal-soal ini dengan benar, ya?"


Semuanya terkejut. Mereka kira jadwalnya masih ada 4/3 hari lagi. Tapi ternyata sekarang. Mereka semua pun protes dan memberikan beberapa pertanyaan. Salah satunya adalah, "Bu! Kenapa mendadak sekali? Bukannya ulangannya hari Rabu, ya?"


"Iya. Di jadwalnya begitu."


"Hmm ... ibu sendiri juga tidak tahu. Ini perubahan jadwal dari kepala sekolah. Semua kelas juga sama, kok! Sekarang kerjakan saja, ya anak-anak?" Lalu guru itu meminta si ketua kelas untuk memberikan masing-masing murid kertas ujian tersebut.


Dylan mengeluhkan hal itu. Ia sebenarnya belum terlalu siap karena ia tidak sempat belajar banyak setelah mengalami beberapa kejadian aneh di dekatnya.


Setelah ia dapat soal ujiannya, Dylan terkejut karena mata pelajaran pertamanya itu adalah fisika. "Ah, sial. Aku baru belajar IPA kemarin. Belum sempat ke fisikanya." Belum mulai saja, ia sudah merasa pusing melihat soal-soal ujian itu. Tapi apa boleh buat, mau tidak mau, ia harus mengerjakannya sekarang.


Begitu juga dengan murid lainnya.


*


*


*


Sementara itu di rumah Dylan, memutuskan untuk pergi mencari Ethan karena ia khawatir dengan lelaki itu yang mendadak menghilang dari kamarnya. Apalagi, keadaannya juga belum sehat.


Setelah bersiap-siap, Fely izin dulu pada Tanaka yang ada di rumah sedang bermain game, setelah itu ia baru keluar rumah. Tapi saya di depan pintu, Fely terheran dengan keadaan cuaca hari ini. Kenapa tiba-tiba langit jadi gelap dan berawan hitam?


Sebelumnya ia sempat membaca berita kalau cuaca hari ini akan baik-baik saja. Cerah seperti biasa. "Ada apa ini?" Fely mendongak memperhatikan langit gelap yang terlihat aneh dan tidak biasa. "Kan kalau mau hujan, pastinya ada muncul angin kencang. Tapi ini hanya mendung, dan rada gelap. Awannya terlihat bergerak memutar."


"Ini memang bukan mendung biasa."


Fely terkejut mendengar suara Tanaka di belakangnya. Lelaki bermata satu itu terlihat sudah mengeluarkan empat tentakel hitamnya yang biasa ia gunakan sebagai senjata. Fely yang heran pun bertanya, "Apa yang akan terjadi sekarang?"


Tak lama, petir menggelegar. Tanaka yang masih menatap awan sempat melihat petirnya. Cahaya kilat itu memancarkan warna merah muda yang terang. Lelaki itu sedikit menyipitkan mata, lalu bergumam, "Dia kembali."


"E–eh, siapa?!"


"Persiapkan dirimu, Fely untuk pertempuran dan berhati-hatilah."


*


*


*


To be continued–