
"Takana!" Dylan berteriak lalu membantu Takana yang sedang kesulitan karena serangan dari Bell secara tiba-tiba. Ia mengambil 1 buku, lalu memukul kepala Bell Dan melepaskannya dari Takana.
Setelah berhasil, Bell mengincar orang lain. Dylan dan Takana terkejut melihat penampilan gadis itu yang berubah drastis. Jadi lebih mirip dengan makhluk yang ada di depan kelas. Tapi kini telah muncul empat makhluk yang serupa di dalam kelas.
Semua murid yang panik terpaksa harus meninggalkan kelas dengan tergesa-gesa. Mereka semua sangat ketakutan, bahkan sampai tak peduli dengan keadaan sekitar. Mau lari ke manapun juga tidak tahu, asal dirinya bisa selamat dari makhluk-makhluk itu.
Semua murid yang berubah jadi Oni pun keluar kelas untuk mengejar yang lainnya. Kecuali Bell yang terlihat sedang jalan menabrak pintu belakang kelas yang tertutup. Entah dia tidak bisa membuka pintu, atau memang malas membukanya.
"Ternyata ada makhluk yang lebih bodoh dari Takana." Dylan bergumam dalam hati. Ia pun kembali berdiri. Begitu juga dengan Takana. Mereka berdua akan berwaspada dan pergi keluar kelas juga untuk mencari tempat aman.
"Dylan-san. Makasih." Ucap Takana dengan senyum manisnya. Dylan hanya mengangguk, lalu Takana mengajaknya untuk melarikan diri dari kelas dan sekolah itu karena ia merasakan kekuatan yang besar yang telah menguasai sekolah.
Namun sebelum pergi, Dylan masih melihat Irvan yang sedang mengerjakan ujiannya. Semua kursi dan meja berantakan, kecuali tempat dia. Dengan santainya, lelaki itu masih sempat menghitung untuk mendapatkan jawabannya.
Dylan yang kesal dan masih peduli dengannya pun mulai menegur. Diawali dengan menggeprak meja Irvan dan membentaknya. "Oy! Gak nyadar tempat, apa?!"
"Apa?" Lelaki itu membalas singkat setelah menatap Dylan dengan tatapan kosong khasnya.
Dylan semakin menggeram, lalu bertanya, "Kau sedang apa sih?! Cepat pergi dari sini!"
"Ngerjain soal. Aku belum selesai."
"Liat tempatmu, woy! Sekarang sudah, jangan ngerjain ini lagi!" Saat Dylan ingin merebut kertas ulangan Irvan, tiba-tiba Irvan menunduk sampai dahinya menyentuh meja. Kemudian sebuah kursi pun terbang ke arah Dylan.
Dengan cepat, Takana menangkap kursi itu dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke pojok ruangan. Reflek Takana dan Irvan sangat cepat sampai menyadari kehadiran kursi tersebut. Irvan menunduk untuk menghindarinya tadi.
"Dylan-san! Kau baik-baik saja?" tanya Takana sambil memperhatikan sekeliling tubuh Dylan. Tapi lelaki itu hanya diam saja. Ia mencari pelaku yang telah melempar kursi itu. Matanya kembali melirik ke makhluk menyerupai Bell yang berdiri di depan pintu. Tapi kini telah menghadap ke arahnya dari posisi yang sama.
Pasti Bell lah yang telah menyerang dengan kursi. Setelah mata Dylan bertemu dengan tatapan kosong dari Bell, makhluk itu menganga dan dari mulutnya mengeluarkan tiga tentakel hitam yang menggeliat. Lalu setelah meraung kecil, makhluk itu berlari menghampiri Irvan dan berniat ingin mencengkram kepalanya.
"Hogball." Dengan cepat, Irvan langsung mengeluarkan pelindung airnya yang berbentuk seperti gelembung yang mengurung seluruh tubuhnya. Setelah makhluk itu menyentuh gelembung tersebut, Irvan mengeluarkan ledakan kecil yang membuat makhluk itu terlempar kembali ke belakang.
Lalu setelah itu, Irvan mulai beranjak dari kursinya. Kemudian gelembungnya itu kembali mengeluarkan ledakan kecil dan mengeluarkan tetesan air. Tangan Irvan mulai menengadah, lalu dari butiran-butiran air yang keluar dari gelembungnya itu menjadi satu di hadapan telapak tangan Irvan.
Bola air berukuran sedang pun terbentuk. Lalu Irvan meluncurkan bola air tersebut ke arah Bell. Lagi-lagi makhluk itu terdorong sampai tubuhnya membentur tembok karena serangan tersebut. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan ada sesuatu yang keluar dari mulut Bell.
Dylan dan Takana terkejut melihatnya. Sebuah makhluk hitam kecil seperti cumi-cumi gemuk keluar dari dalam mulut Bell. Begitu keluar, Irvan menghentakan satu kakinya di tempat. Lalu seketika sebuah lubang bercahaya biru keluar di bawah makhluk itu. Kemudian dari dalamnya, muncul pancuran air yang deras dan kuat. Sangking kuatnya sampai bisa menembus langit-langit kelas dan menghancurkan tubuh makhluk itu menjadi abu.
Selang beberapa detik kekuatan itu menghilang, Irvan berlari kecil menghampiri Bell yang tak sadarkan diri. Sepertinya gadis itu telah kembali seperti semula. Ia hanya dirasuki oleh makhluk hitam tadi. Begitu juga dengan semua murid yang bertingkah aneh. Mungkin makhluk itu muncul dari ledakan mochi tadi dan langsung mengambil tempat di tubuh menusia untuk dijadikan tubuh barunya yang dapat ia kendalikan dengan mudah.
"Bell-chan!" Merasa keadaan sudah aman, Takana pun berlari menghampiri temannya. Kata Irvan, Bell baik-baik saja. Lelaki itu akan menggendongnya sampai ia sadar kembali.
"Apa-apaan tadi?" gumam Dylan sambil memperhatikan keadaan kelasnya yang sangat kacau. "Sekolah kita muncul wabah virus cumi-cumi, kah?"
"Saat Bell menyerang ku tadi, aku merasa kalau makhluk itu ingin mengambil semua energiku." Takana menyentuh lehernya yang kena gigit oleh Bell. Di sana awalnya terasa sakit. Tapi sekarang sudah tidak.
"Tapi ... anak-anak yang lain sudah pada kena. Kalau begitu ... apakah satu sekolah ini akan saling menyerang? Apakah makhluk itu bisa menyebar ke manusia lain yang masih normal?" tanya Dylan pada Takana. Dia pasti tahu sesuatu mengenai kejadian ini. Tapi nyatanya, Takana tidak tahu apa-apa.
"Ledakannya mirip seperti yang tadi," ujar Irvan. Ia menggendong Bell di punggungnya, lalu berjalan mendekati jendela. Ia ingin memeriksa sesuatu. Takana dan Dylan yang penasaran pun mengikutinya. Dari jendela itu, mereka dapat melihat keadaan satu sekolah benar-benar kacau.
Seperti diserang oleh sekawanan zombie, tapi yang kali ini beda spesies. Semua orang berlari menghindari para monster yang mengejar. Lalu ada banyak orang dari taman yang dekat dengan gerbang sekolah. Dylan terkejut melihat semua orang panik di sana. Mereka ingin keluar dari sekolah, tapi sesuatu telah menghalanginya sehingga mereka pun terjebak.
Seperti ada dinding yang jaraknya 5 meter dari gerbang keluar sekolah. Tapi tidak terlihat. Dinding yang transparan telah menghalangi semua orang itu agar tidak bisa keluar. Sebagian besar, mereka yang ada di sana adalah warga sekolah yang masih normal. Teriakan ada di mana-mana.
Lalu tak lama, muncul tiga ledakan berasap di sana. Sama seperti ledakan sebelumnya. Dylan dan Takana terkejut melihatnya. Kecuali Irvan yang masih menatap biasa kerumunan di sana. Tapi ia juga merasakan kengerian yang akan muncul begitu asap-asap itu menghilang.
Dugaan dan kecemasannya ternyata benar. Begitu asap-asap di sana menghilang, semua orang yang terkena ledakan tadi langsung berubah menjadi Oni yang saling menyerang manusia normal lainnya sampai akhirnya, manusia normal di sana pun seluruhnya telah berubah menjadi Oni.
"Ada penghalang yang telah menutupi seluruh sekolah." Irvan menyadari satu hal. Untuk memastikannya, ia ingin memeriksanya langsung ke luar gedung. "Ayo kita pergi."
Takana dan Dylan mengangguk paham. "Ayo kita lompat dari sini saja!" tegas Takana.
Dylan sempat mengangguk untuk mengiyakan. Tapi tiba-tiba ia langsung membentak Takana. "Tidak! Kau gila? Kita sedang berada di lantai tiga, woy! Bagaimana mungkin kita bisa mendarat dengan aman?"
"Kaki mu beda dengan kakiku!"
"Kalau begitu, kita lewat tangga saja." Irvan berbalik badan dan langsung berlari mendekati pintu keluar kelas. Dylan dan Takana mengikutinya. Memang lebih aman lewat jalan biasa. Tapi masalahnya, ada beberapa Oni juga di depan sana.
Sebelum keluar kelas, mereka bertiga memeriksa keadaan dulu. Takana menyarankan untuk menyerang mereka tanpa menggunakan kekuatan lebih agar tidak mengakibatkan luka yang fatal. Tapi kalau menurut Irvan, makhluk-makhluk itu lemah terhadap air. Sama seperti yang ia lakukan tadi saat menyembuhkan Bell.
"Oke, bagaimana rencana kita?" tanya Takana.
"Kita akan menerobos mereka." Irvan menurunkan tubuh Bell, Lalu memberikannya pada Dylan. "Tolong jaga dia sebentar. Bawa dia bisa kan?"
"Hmm ... oke deh." Dylan mengangguk, lalu ia sendiri kembali berdiri sambil menggendong Bell. Sementara Takana dan Irvan akan memikirkan caranya untuk keluar.
Namun saat Dylan ingin ikut mendengarkan juga, matanya tak sengaja melihat cahaya berwarna merah yang muncul dari jendela hancur dekat dengan tempat duduknya. Tak lama, cahaya itu semakin besar dan mulai berbentuk.
Dylan menepuk-nepuk pundak Takana untuk memberitahunya tentang cahaya tersebut. Tapi tiba-tiba angin berhembus kencang memasuki kelas, lalu sebuah serangan fisik yang besar mengarah pada mereka bertiga. Takana dan Irvan akan mengeluarkan pelindung mereka, tapi tak sempat sepenuhnya.
Akhirnya karena serangan itu, membuat pintu depan sampai dua jendela serta dindingnya pun hancur. Tubuh Takana dan Irvan terpental keluar kelas. Begitu juga dengan Dylan dan Bell.
"Aduh ... aku jatuh dari tempat tidur lagi, kah?" Bell akhirnya bangun setelah tubuhnya membentur Dylan. Ia bangun terduduk dan melihat sekeliling. Semuanya berantakan, termasuk teman-temannya yang tergeletak di lantai.
"Haha ... mudah sekali." Seseorang muncul dari depan jendela. Di tangannya dia memegang tubuh ular yang panjang dan dapat bergerak seperti ular sungguhan. Memang beneran, sih. Ternyata ular itulah yang ia gunakan sebagai senjata berupa cambuk berunsur bumi. "Kalau begini doang, aku akan bisa menyelesaikan tugasku."
"Ah ..." Takana kembali bangun sambil menyentuh kepala. Ia melirik tajam ke arah satu makhluk berwujud iblis yang ada di dalam kelas. "Si–siapa lagi kau?!"
"Oh? Itu dia. Kau pasti Takana, kan?" Iblis itu menunjuk.
"Kau tau namaku? Tapi aku tidak tahu siapa kau! Kenalan dulu, lah!"
"Aku Lucid. Oni yang paling disayangi oleh tuan kami! Dan di sana ada adikku–"
"Jadi kalian dua orang?" Takana menyela.
"Aku–"
"Tak peduli mau berapa banyak. Kalian adalah makhluk yang menyebalkan!" Tubuh Takana dipenuhi cahaya biru yang berkobar seperti api. Lalu dengan satu tangan, ia mulai mengumpulkan kekuatan. Lalu saat waktunya tiba, Takana berlari menghampiri Oni itu dan mulai menyerangnya dengan bola api. Dua bola api diberikan, lalu yang terakhir ia mengumpulkan energi dan mengeluarkan satu bola api berukuran sedang terbentuk. Dengan kedua tangan, Takana mendorong bola api itu ke arah lawannya bersama dengan tubuhnya juga. Terjadi ledakan setelah hantaman tersebut.
Irvan langsung berdiri untuk ikut membantu Takana dan mencari lelaki itu yang sosoknya menghilang setelah ledakan tadi. Tapi tak lama kemudian, tubuh Takana kembali muncul dari kumpulan asap. Ternyata ia melompat mundur sampai berdiri di samping Irvan.
Takana mengelap keringat yang mengalir sampai bawah dagunya. Lalu dengan napas yang terengah-engah, ia bergumam, "Fiuh, aku sudah lama tidak mengeluarkan kekuatan yang besar. Apakah seranganku berhasil?"
"Takana! Kau baik-baik saja?" tanya Bell yang khawatir. Takana hanya mengangguk. Lalu ia teringat dengan keadaan Dylan dan langsung berbalik badan. Ternyata Dylan sedang menopang tubuhnya di meja sambil memegang pinggang.
"Sakit banget asli." Keluh Dylan dan menggerutu. Takana menghembuskan napas lega karena Dylan baik-buruk saja. Tapi saat disangka semuanya telah aman, tiba-tiba mereka kembali dikejutkan oleh suara tawa yang mengerikan.
Dylan kembali berdiri tegak walau tumbuhnya terasa sakit. Takana dan Irvan mulai mengeluarkan energi mereka untuk berwaspada. Bell bersembunyi di belakang Irvan karena ketakutan.
"Khu khu khu ... hanya itu saja kemampuanmu? Aku bahkan tidak tergores sama sekali, loh~"
Semuanya terkejut melihat penampilan yang berbeda dari Oni Itu. Serangan Takana sebelumnya berhasil ia tangkis dengan mudah. Dan sekarang, seluruh lengannya terlihat dilapisi oleh kulit yang terbuat dari batu yang kuat. Senjatanya juga telah diupgrade dengan cepat dan sekarang ular itu berubah menjadi cambuk besi yang panjang dengan ujung seperti kapak.
"Khu khu ... sekarang sini anak-anak manis~ Main sama kakak~"
*
*
*
To be continued–