Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 36~ Takana dan Tanaka



DUAR!


"Takana-Chan!"


Takana terkena serangannya itu. Dirinya terlempar jauh sampai menabrak sebuah pohon yang ada di belakangnya. Takana langsung tidak sadarkan diri di bawah pohon itu.


"Khu khu~ Tidak akan ada yang bisa selamat jika sudah terkena racun ku itu." Si Manusia Kucing itu tersenyum dan sesekali ia tertawa keras.


Tanaka hanya bisa memandang adiknya yang ia pikir sudah sekarat itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Ta, Takana-Chan... anata wa..." (kamu...) Tanaka bergumam-gumam. Ia menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya. Terlihat setetes air bening telah terjatuh ke tanah dari matanya Tanaka. "I, ini semua salahku!"


Tanaka terisak. Ia berusaha untuk menahan tangisannya itu. Ia mengerutkan keningnya. Merasakan sakit di dadanya dan seketika timbul rasa dendam. Dendam yang sangat berat. Emosinya meningkat. Amarahnya memuncak. Ia sedikit mengerutkan keningnya dan bergumam, "Ini bukan salahku."


Mata Tanaka membesar dan pupilnya itu mengecil. Ekspresi marah yang ia keluarkan. "Ini semua adalah salah si makhluk aneh itu!"


Lalu dengan cepat, Tanaka kembali berdiri. Ia berbalik badan dan menatap tajam pada si Manusia Kucing itu. Lalu, di sekitar tubuhnya, ia mengeluarkan beberapa cahaya biru yang gelap. Api yang membara. Sosok Tanaka seketika jadi menyeramkan. Apakah jika dia marah akan jadi seperti itu?


"Makhluk aneh! Kau harus bertanggung jawab. Aku akan membuatmu merasakan rasa sakit seperti yang adikku rasakan! Lebih singkatnya lagi, aku akan membunuhmu!" bentak Tanaka. Lalu, dia tidak akan berdiam diri terlalu lama. Setelah mengatakan itu, Tanaka langsung menyerang si Manusia Kucing itu dengan api birunya yang semakin besar.


Si Manusia Kucing itu masih bisa menghindar dengan cara melompat. Tapi, Tanaka masih akan terus menyerang dengan kekuatan yang sama. Si Manusia Kucing itu juga masih bisa tetap menghindar dengan cara yang sama.


"Aku akan membuat makhluk ini kewalahan sendiri dengan gerakan yang ia perbuat. Pokoknya aku harus tetap menyerangnya!" batin Tanaka sambil terus melemparkan bola apinya.


"Heh, seorang kucing akan selalu bisa mencari jarak untuk menghindar dari serangan musuhnya. Pokoknya, sekarang juga, aku akan membuat manusia yang satu ini kelelahan sendiri karena telah menggunakan powernya terlalu banyak. Setelah itu, aku pasti akan menyerangnya!" batin si Manusia Kucing itu dengan senyumnya.


Sambil menyerang, Tanaka juga selalu memperhatikan bentuk gerakan dan fisik dari si Manusia Kucing itu untuk mencari kelemahannya. Sampai akhirnya, Tanaka pun menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya untuk tetap melirik ke arah objek itu.


"Itu dia! Matanya. Mata sipit makhluk itulah yang telah mengetahui serangan-serangan ku untuk menghindar. Jadi, kalau aku hilangkan mata itu, mungkin saja dia tidak akan bisa melihat lagi dan aku akan jadi lebih mudah untuk mengenai sasaranku." Pikir Tanaka. Ia akan memulai rencananya itu. Ia terdiam sejenak sambil mengumpulkan serangan yang lebih penuh dan matanya itu membibik sasarannya.


"Dapat!"


WUUUSSHH....


BOOM!


Tanaka berhasil mengenai matanya si Manusia Kucing itu. Ia tidak terlalu yakin kalau si Manusia Kucing itu benar-benar sudah kehilangan matanya. Tapi, keyakinan Tanaka mulai bertambah sejak ia mendengar suara teriakan si Manusia Kucing menahan rasa sakitnya. Saat di situ, Tanaka mulai merasa senang karena ia pikir musuhnya itu bisa dikalahkan dengan mudah olehnya. Tapi, Tanaka, Sepertinya kau jangan senang dulu karena....


ZLUUURRRR!


"EH?!"


Tanaka mendongak cepat ke atas. Ia melihat ada beberapa tentakel yang menjulur dari bawah tanah yang ada di sekelilingnya. Tentakel itu semakin melebar dan terus melebar, lalu saling menutup sampai seperti kurungan untuk menjebak Tanaka. Tanaka sangat terkejut. Ia akan keluar dari beberapa tentakel yang perlahan mulai menutupi pandangannya itu.


Ia melompat tinggi ke atasnya untuk mencapai lubang yang masih belum tertutup oleh tentakel itu. Tapi, tiba-tiba saja lompatan Tanaka terhenti karena sesuatu dari bawah telah menarik kakinya. Tanaka pun kembali terjatuh ke tanah. Lalu, ia mendengar sesuatu. Ia terkejut karena di sekitarnya telah tumbuh beberapa tentakel kecil lainnya yang menggeliat ke arahnya.


Tanaka tidak bisa ke mana-mana. Jalan satu-satunya keluar dari sana adalah lewat lubang yang hampir menutup di atas sana itu. Secara perlahan, tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Kakinya telah penuh oleh lilitan tentakel itu, dan banyak yang lainnya juga mulai menyelimuti tubuh Tanaka.


Semakin banyak dan semakin menggeliat di tubuhnya. Tanaka berusaha untuk melepaskan diri dari sana dan dengan sekuat tenaga ia akan mengeluarkan kekuatannya. Tapi tidak bisa. Karena semenjak ia merasakan kalau tentakel itu telah menyerap energinya, Tanaka jadi tidak ada niat untuk mengeluarkan kekuatannya dalam keadaan saat ini.


Lalu, sesuatu yang besar pun muncul. Tentakel dengan lubang kecil di ujungnya. Terlihat seperti mulut lintah yang akan menghisap darah Tanaka.


Setelah tentakel yang besar itu muncul, bagian mulut tentakelnya mulai menempel ke leher Tanaka. Setelah tentakel itu menempel, tiba-tiba saja Tanaka merasakan rasa sakit di


dadanya. Ia pun mulai memberontak karena kesakitan. Tapi apa daya, seluruh tubuhnya telah dililit oleh tentakel menjijikkan itu.


Sampai akhirnya, semua lubang mulai tertutup dan mengurung Tanaka yang ada di dalam bungkusan karet itu. Sebelum dirinya kehilangan kesadaran, ia sempat melihat wajah seorang wanita dari lubang yang belum tertutup di depannya itu. Wanita berambut panjang terurai dengan kalung berlian di lehernya. Entahlah... Apakah Tanaka bisa mengingat ciri-ciri wanita itu? Karena sekarang ini, ia sudah pingsan duluan di dalam kantung karet itu. Ia juga tidak tahu bagaimana keadaan si Manusia Kucing yang telah ia serang tadi. ~


****


Chapter 36: [ Takana dan Tanaka ]


****


Back-


"Aku memang tidak berdaya. Setelah kejadian itu, aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan Takana. Yang membuatku bingung adalah, kenapa Takana masih bisa hidup setelah ia terkena racun dari si Kucing hitam itu?" Mata Tanaka melirik ke arah Takana yang ada di sampingnya untuk meminta jawaban.


"Ah, a, apa kakak lupa? Aku kan bisa menyembuhkan diriku sendiri. Mau separah apapun lukaku, keadaanku, tetap saja aku masih bisa bertahan, kan? Kecuali kalau serangan itu langsung mengenai jantungku." Jelas Takana.


"Ah! Itu berarti kau memiliki kekuatan untuk memulihkan diri sendiri, dong!" kata Kak Fely.


Takana mengangguk "Iya." sambil tersenyum. "Tapi, kekuatan itu sudah tidak ada lagi." Takana melanjutkan.


Seketika, Kak Fely terkejut. "E, eh! Kenapa bisa tidak ada lagi? Ke mana?"


"Kan kekuatan itu sudah kuberikan padamu untuk menghidupkan Onee-chan kembali."


"Eh, Benarkah?"


"Iya."


Hmm..., aku mengerti sekarang. Kenapa kakak bisa punya kekuatan yang seperti itu. Apalagi, kakuatan untuk menyembuhkan orang lain. Ternyata, kekuatan yang ia miliki itu berasal dari pemberian Takana!


Tanaka menelengkan kepalanya. "Eh? Apa maksudmu?"


"Apa yang terjadi setelah itu?"


"Ooh..." Tanaka mengangguk. Lalu, ia kembali menatap adiknya dengan ekspresi sedih. "Setelah itu, kakakmu ini dibawa oleh si Manusia Kucing itu dan kamu masih berada di dalam hutan itu. Kita berpisah saat itu. Benar, kan?"


Takana membesarkan matanya karena kaget. "Eh?! Jadi si Kucing itu berhasil menangkap Onii-chan?!"


"Iya."


"Lalu, apa yang mereka lakukan pada kakak! Katakan padaku!" Takana semakin mendekat pada Tanaka.


"Hmm..., aku tidak begitu ingat. Tapi intinya, si Manusia Kucing itu menyiksa Onii-chan di rumahnya. Ia memaksaku untuk menjadi kelinci percobaannya. Karena, aku pikir, dia itu adalah si pencipta bencana. Tapi, berkat alat-alat aneh dan ramuan-ramuan yang makhluk itu berikan padaku, aku pun jadi memiliki tentakel hitam ini juga!" Tanaka menunjukkan tentakelnya, lalu memainkannya. Ia mengelus-elus kepala adiknya dengan tentakel itu.


"Onii-chan hentikan!"


"Haha..., maaf." Tanaka kembali menyembunyikan tentakelnya itu di dalam punggungnya lagi.


"Jadi..., tentakel itu kau dapatkan dari hasil percobaan aneh dari penjahat mu itu?" Aku mulai bertanya.


Tanaka mengangguk. "Iya. Karena, kalian semua pasti tahu, kan? Kalau sebenarnya, hanya diriku saja lah seorang Oniroshi yang mempunyai tentakel Oni. Prosesnya memang menyakitkan. Tapi, pada akhirnya berkat Manusia Kucing itu, aku mendapatkan kekuatan yang lebih hebat lagi." Jelas Tanaka. "Dan proses yang paling menyakitkan itu adalah, saat si Manusia Kucing itu mencongkel mataku dengan paksa untuk dijadikan makanannya." Tanaka menaikkan poni kanannya untuk memperlihatkan mata kanannya yang bolong itu.


Lalu tak lama kemudian, ia kembali menutup mata itu dengan poninya. Lalu, mata kirinya melirik ke arahku. "Haha...,. untungnya aku bisa selamat dari maut itu. Ini semua berkat Dylan. Terima kasih sekali lagi, ya?" Ia membungkuk sedikit dan tersenyum padaku.


Dengan bingung, aku hanya bisa mengangguk saja. Karena, pada saat pertama kali aku bertemu dengan Tanaka, keadaanya itu memang sangat mengenaskan. Ia dikurung di dalam sebuah ruangan. Tertempel di dinding dengan kaki dan tangannya yang terikat. Kenapa hanya dengan ikatan tali seperti itu saja, Tanaka tidak bisa melepaskan dirinya. Kupikir, dia itu adalah Oniroshi yang kuat.


Ah, sudahlah... sekali lagi aku berkata, aku malas memikirkan semua ini. Lebih baik aku memakan Mie ku saja. Sudah mekar ternyata. Kuahnya juga sudah mulai hilang. Sebaiknya aku cepat menghabiskan makanan ini.


"Iya. Adikku itu memang hebat." Aku tersentak. Eh? Kak Fely baru saja memuji diriku?


"Saat Dylan menyelamatkanmu, padahal dirinya juga sedang dalam bahaya. Karena, saat itulah Dylan diculik oleh seseorang yang tidak ia kenal. Dan sekarang, dia nyaris saja ingin dibawa oleh orang asing lainnya. Kenapa ada orang yang mengincar Dylan?" tanya Kak Fely bingung.


Semuanya terdiam. Mereka mulai berpikir. Tapi, tidak dengan diriku. Aku tidak terlalu mempedulikan masalah itu. Malahan, aku sendiri juga sudah melupakan kejadian itu. Kenapa mereka malah mengungkitnya lagi?


Yang ingin ku ketahui sekarang ini adalah, arti dari coretan darah di jendelaku!


"Tanaka. Apa kau bisa memberitahuku arti dari tulisan Jepang di jendelaku tadi?" tanyaku sambil memakan Mie ku yang sudah dingin.


Semuanya tersentak. Ah, ekspresi itu lagi. Seketika mereka jadi terdiam. Mereka pasti tidak ingin memberitahuku. Ah, sudahlah.... Lagi-lagi aku harus mencaritahu arti kata itu sendiri.


"Anu..., Dylan-san, artinya sangat mengejutkan. Aku takut kau jadi cemas jika mengetahui arti kata itu." Ujar Takana.


"Iya. Sebaiknya, kau tidak usah tahu arti itu." Timpal Tanaka.


Semakin mereka melarang ku, maka semakin membuatku penasaran. "Tidak apa. Aku akan mendengarkan. Kumohon beritahu aku!" Aku memaksa.


Takana dan Tanaka tersentak. Mereka menggeleng pelan. Tapi, tak lama kemudian mereka pun akhirnya menjawab pertanyaanku.


"Kata itu dibaca, Shinee." Kata Tanaka. "Yang artinya, 'Mati kau!'" Lanjut Takana.


"Ha? Hanya itu saja?" Aku memasang wajah biasaku. "Tidak membuatku terkejut, tuh!"


"Eh! Tapi, seseorang yang menulis kata itu akan datang kembali. Dia mengincar salah satu dari kita." Ujar Takana.


Aku sedikit kaget. Hanya sedikit. Tapi, aku akan berusaha untuk tidak mempedulikannya. Jika Kucing Hitam atau Manusia kucing yang mereka ceritakan itu memang benar ada dan menyerang ke rumahku lagi, ya tinggal telpon polisi saja. Itu mudah. Biar polisi yang akan membunuh makhluk itu.


"Oh iya, aku lupa! Aku harus pergi ke pasar hari ini untuk membeli bahan makanan buat besok. Aku harus cepat bersiap!" panik Kak Fely.


Aku terkejut. Saat melirik ke jam tanganku, aku kaget kerena sekarang sudah mau jam 7. Aku terlambat ke sekolah!


Aku langsung beranjak dari kursiku dengan cepat dan meninggalkan sarapan Mie ku yang masih tersisah sedikit. Takana juga melakukan hal yang sama sepertiku.


Untungnya, aku sudah mempersiapkan semuanya. Sekarang, aku hanya tinggal mengambil tasku dan memakai sepatu. Setelah itu, aku juga harus segera pergi ke halte sebelum Bus menuju ke sekolah itu tiba. Kalau aku terlambat, maka Bus itu akan meninggalkanku dan aku tidak bisa ke sekolahku.


Ah, ini semua salah ceritanya Tanaka yang panjang. Dan salahku juga. Ngapain aku mendengar ceritanya itu? Ah, bodo ah! Pokoknya sekarang targetku yang pertama adalah halte Bus itu!


"Hei, Dylan. Katanya kamu akan terlambat ke sekolah, kan?" Tanaka muncul di belakangku dan memegang pundakku.


Aku menengok ke belakang dan mengangguk cepat. "Iya. Kau jangan menggangguku. Aku ingin pergi dari sini!"


"Oh..., aku bisa membantu kalian. Ayolah! Aku akan mengantar kalian." Tanaka tersenyum padaku. Kok tiba-tiba dia mau mengantarku, ya? Jangan sampai dia berbuat yang aneh-aneh padaku. Awas saja!


"Baiklah, ayo! Cepatlah!"


"Oke."


"Eh? Dylan-san menerimanya? Hmm..., perasaanku jadi tidak enak, nih." Kata Takana dalam hati.


To be Continued-