Hogo No Yujin (Protective Friend)

Hogo No Yujin (Protective Friend)
Episode 31~ Cerita Fely



____________________________________________


****


*Dylan Leviano


"Kau benar. Kakak memang sudah meninggal!"


Aku membesarkan mataku karena kaget. Apa yang dikatakannya itu memang benar atau tidak? Tapi, tidak mungkin, kan? Dia tidak bisa meninggal begitu saja.


"Kakak pasti bohong, ya?"


"Beneran, Dylan!"


"Aku masih tidak percaya. Coba ceritakan bagaimana Kakak bisa meninggal? Terus hidup lagi, pula!"


"Baiklah, kalau kau memaksa." Kakakku duduk di pinggir tempat tidur. Sementara aku akan menyimak sambil menyandarkan tubuhku di tumpukan bantal yang sudah ku susun.


****


Chapter 32: [ Cerita Fely ]


****


"Saat itu ...."


****


*Natash Felyshia


-Flashback cerita Kak Fely yang lalu-


Kakak sedang memeriksa salah satu pasien di ruangan di rumah sakitnya. Lalu, setelah kakak selesai memeriksa orang itu, kakak pun pergi kembali ke ruangan kakak.


Saat di sana, kakak terkejut karena kakak bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal di dalam ruangan kakak.


"Siapa kau?!" Kakak bertanya pada orang itu. Tapi, orang itu hanya menatap tajam pada kakak.


Kakak tidak bisa mengenali wajahnya karena tertutup masker dan matanya tertutup kaca mata yang ia pakai.


Rambutnya pendek berwarna coklat ke-jinggaan gitu. Mungkin pirang kali, ya? Ah, sudahlah intinya kakak hanya bisa mengenali warna rambutnya saja. Dia pastinya seorang perempuan. Dan yang paling mengejutkannya lagi, ternyata tinggi badannya lebih pendek daripada kakak. Mungkin, dia masih kecil.


Kakak kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Tapi, anak itu hanya diam saja. Lalu, tak lama kemudian, anak itu mulai bergerak ke arah kakak dengan cepat. Kakak sangat terkejut sekali.


Anak itu melesat melewati kakak. Kakak pikir dia hanya lewat saja dan ingin keluar dari ruangan kakak. Tapi ternyata dugaan kakak salah!


Anak itu memang mendekati pintu ruangan kakak dan pergi. Setelah anak itu pergi meninggalkan ruangan kakak, seketika tubuh kakak terasa sakit. Kakak melirik ke arah perut kakak dan terkejut.


Ternyata, di perut kakak telah tertancap jarum kecil tapi panjang yang telah dilumuri racun pada ujung yang menusuk perut kakak itu. Kakak pun menarik jarum itu secara perlahan sambil menahan sakitnya.


Setelah tercabut, kakak memperhatikan jarum itu. Racunnya sudah memasuki tubuh kakak. Seketika, perut kakak jadi terasa mual dan kepala kakak pusing. Keringat dingin mulai mengucur di seluruh tubuh kakak. Rasa sakit di dada dan hilangnya pandangan mulai muncul.


Kakak berusaha untuk bertahan dan pergi dari ruangan kakak untuk meminta bantuan. Tapi ternyata kakak tidak bisa. Rasanya tubuh kakak tidak bisa digerakkan lagi dan nafas kakak juga mulai sesak.


Saat itu dan detik itu juga, kakak terjatuh di depan pintu dan menghembuskan nafas terakhir kakak.


****


*Dylan Leviano


Back-


"E, eh?! Lalu, karena itulah kakak meninggal?" tanyaku tidak percaya.


"Iya." Kak Fely mengangguk pelan. Setelah itu, ia menundukkan kepalanya.


"Lalu, bagaimana kakak bisa hidup lagi?"


"Kakak hidup berkat bantuan dari Takana."


Mataku tersentak kaget. Tidak mungkin Takana, kan? Memangnya dia bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati? Tidak. Itu pasti bohong!


"Kakak pasti bercanda, kan?"


"Ini sungguhan, Dylan!"


"Hah? Masa? Lalu bagaimana tuh adegannya?" Aku memutar bola mataku malas. Benar-benar tidak percaya. Takana si anak bodoh saja masa bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Pasti bohong!


"Wajahmu menjengkelkan sekali! Nih, akan kakak lanjutkan." Kakakku kembali duduk di tempat tidurku setelah sesaat ia memukul kakiku dengan lembut. "Pas itu, ceritanya si Takana datang ke kamar kakak sebagai pasien. Maksudnya, dia datang menemui kakak untuk meminta obat (mungkin). Dia menemukan kakak sudah tidak bernyawa. Lalu, dengan ajaibnya, dia lah yang telah menghidupkan kakak. Tapi dengan syarat, kakak harus menjadi Oniroshi. Singkatnya, Takana yang sudah mengembalikan nyawa kakak dan Takana lah yang telah menjadikan kakak menjadi Oniroshi."


Walaupun kakakku telah menjelaskan cerita omong kosongnya yang panjang itu, tetap saja aku masih tidak percaya dengan kejadiannya. Ini kan aneh! Tidak ada manusia yang bisa menghidupkan manusia yang telah meninggal!


"Jadi begitu. Hah, tetap saja aku tidak percaya." Gerutu ku sambil membuang muka dari kakakku.


"Kau itu, ya?! Kau mau dipukul, hah! Kenapa kau tidak pernah percaya pada kakak, sih?!" Kakakku mulai mengoceh lagi, kan? Dia cepat marah, sih!


"Ya jelas tidak percaya lah! Mana ada orang yang sudah mati bisa dihidupkan lagi?! Apalagi yang ngehidupinnya itu orang bodoh!" Aku membalas bentakan kakakku.


"Ini memang kejadian yang nyata, Dylan! Mana mungkin kakak berbohong padamu."


"Aku tetap tidak percaya. Titik! Tanpa bukti, aku tetap tidak akan percaya." Mataku kembali melirik tajam ke Kak Fely. "Lagipula, bagaimana kakak bisa tahu kalau Takana lah yang telah menghidupkan kakak kalau kakak sendiri tidak melihatnya?"


"...!" Kakakku mengerutkan keningnya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaanku. Eh, tapi ternyata bisa. Tadi itu dia hanya diam sejenak. Apa untuk mencari jawaban? Atau mencari alasan lain yang akan membuatku percaya? Hmm....


"Tentu saja kakak tau karena Takana lah yang telah menceritakannya pada kakak!" Sepertinya itu hanya sebuah alasan.


"Benarkah? Kau percaya sekali pada anak Jepang itu." Gumam ku dengan nada yang menjengkelkan (kalau menurut kakakku).


"Tentu saja aku percaya! Karena Takana telah berbaik hati sudah menyelamatkan nyawa kakak."


"Hah, tetap saja-"


"Takana itu anak yang baik hati dan pemberani juga. Kakak menyukainya. Dia tipe laki-laki yang kakak inginkan. Dia telah merubah hidup kakak. Yaitu menjadi seorang Oniroshi yang ditugaskan untuk membunuh setan. Walaupun tidak ada penghasilannya, tapi kakak senang bisa membantu banyak orang. Dan kalau bukan karena Takana lah, kakak tidak akan bisa pulang ke rumah ini dan bertemu denganmu lagi." Kakak menceritakan tentang Takana apa memujinya?


Tapi sepertinya, ia memuji Takana. Cish! Untuk apa sih, Shota sialan itu ia puji-puji. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa kelebihan Takana. Menyebalkan sekali!


"Dan..., karena kakak telah menjadi Oniroshi, kakak dapat memiliki beberapa kekuatan yang luar biasa. Termasuk, kekuatan untuk menyembuhkan orang lain dengan cepat. Kau juga harus berterima kasih pada Takana karena berkat dia lah nyawamu selamat saat kau tercebur ke dalam sungai yang deras itu." Kak Fely melanjutkan.


Aku tersentak. Tapi, aku berusaha untuk mengendalikan ekspresi ku agar tidak terlihat seperti orang yang kaget. Aku menatap dingin pada Kakakku. "Maksud kakak apa, ya? Bukan kah saat itu, Kakak yang sudah menolongku dan bukanlah Takana."


"Memang Kakak yang menyembuhkan mu. Tapi, kalau bukan karena Takana yang memberikan kekuatan pada kakak, maka kakak tidak akan bisa menyelamatkanmu." Jelas kak Fely.


Penjelasan kak Fely memang masuk akal. Tapi, apakah Takana memang sosok laki-laki yang seperti Kak Fely deskripsikan?


****


*Takana Utsuki


Kembali lagi ke sekolah-


Sekarang sudah jam istirahat. Aku akan keluar dari kelas bersama dengan Kiky-san. Dia murid baik yang telah mengajakku untuk bermain bersamanya.


"Kau mau jajan apa nanti?" tanya Kiky-san mengejutkanku.


"Entahlah kita lihat saja nanti!" jawabku cepat.


Kiky-san tertawa kecil. "Haha, Takana kamu itu lucu, ya?"


"Tuh kan! Benar-benar lucu, deh!" Kami menghentikan langkah sejenak. Lalu, si Kiky-san mencubit kedua pipiku dengan gemasnya sambil tertawa. Lalu, tak lama kemudian, ia melepaskan pipiku. Dia menatapku dengan bingung, lalu menyentuh rambutku dengan tangan kanannya. Ia menelengkan kepalanya.


"Takana? Kenapa rambutmu warnanya putih begini? Apa jangan-jangan kamu terserang penyakit atau diam-diam kau menyembunyikan umurmu? Apa kau mewarnainya?" tanya Kiky-san.


Aku tersentak. "Ah! Entahlah. Dari dulu sudah seperti ini. Aku terlahir dengan rambut putih." Jawabku jujur.


"Ooh, mungkin karena keturunan, ya? Hmm..., aku mengerti!" Kiky-san mengangguk paham. Lalu, ia kembali bertanya, "Pastinya keluargamu yang lainnya juga mempunyai rambut berwarna putih, kan?"


Aku mengangguk pelan. "I, iya. Tapi, keluargaku hanya kakakku saja."


"Eh? Hanya kakakmu? Apa kau tidak memiliki orang tua?" tanyanya lagi.


"Iya. Aku tidak punya. Aku tidak tahu di mana orang tuaku berada. Pokoknya, dari dulu aku hanya bersama dengan kakakku saja."


"Kasihan juga. Kok aneh, ya? Orang tuamu kok menghilang begitu saja? Ke mana mereka? Apa kau tidak mau mencari mereka?"


"Tidak apa. Lagipula, dari kecil aku memang sudah dibuang oleh orang tuaku."


"Kasihan sekali!"


"Sudahlah, tidak usah dicemaskan. Sekarang, ayo kita jalan lagi ke kantin. Nanti keburu masuk lagi." Aku kembali melangkahkan kakiku. Begitu juga dengan Kiky-san yang berada di sampingku.


"Kalau kau hanya berdua dengan kakakmu saja, lalu kau tinggal di mana sekarang?"


"Di rumah Dylan-san."


"Ooh..., pantas saja kalian selalu bersama."


"Iya. Haha...."


TEP!


"Ah, itu dia!"


Tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki yang cepat mendekatiku dari belakang. Aku akan menengok ke belakang. Tapi tidak sempat karena, seseorang yang di belakang itu telah merangkul tubuhku dan mengejutkan kami berdua.


"Hai Takana. Kita bertemu di sini! Kebetulan sekali." Sapa orang itu.


"Eh? Kau siapa?" Aku tidak tahu siapa dia. Dia itu seorang murid perempuan berambut coklat pendek.


"Ish! Masa tidak tahu, sih?! Aku ini Lisa Lucianta. Sudah lama tidak bertemu, ya?"


Aku akhirnya ingat. Tanpa sadar, aku membesarkan mataku. "Oh, Lisa-san. Aku senang bertemu denganmu lagi. Sudah lama sekali, ya?" Haha, ternyata Lisa-san si mantan pacar Kei-san.


"Iya. Kau masa tidak mengenalku, sih?"


"Maaf! Kau terlihat berbeda. Apa kau memotong rambutmu?" tanyaku.


"Iya. Dengan seperti ini, aku jadi lebih cantik, kan? Hehe...."


"I, iya mungkin!" Eh astaga, pipiku memanas. Aku harus tahan ekspresi ku jangan sampai memerah!


"Iya. Hei, kau mau ke mana?" tanya Lisa-san.


"Ke kantin."


"Oh, kalau begitu ayo kita pergi bersama, haha!" Lisa-san menarik tanganku sambil berlari. Aku pun mengikutinya dengan cepat.


"He, hei! Tunggu aku!" teriak Kiky-san yang masih tertinggal di belakang. "Ah, sialan! Aku sudah menyimak dan sekarang mereka meninggalkanku!" gerutunya.


Haduh, maaf Kiky-san. Aku lupa denganmu hehe....


****


Di kantin-


Kami membeli banyak makanan sampai meja kantin yang kami tempati penuh dengan makanan dan minuman. Tapi sebenarnya, Lisa-san lah yang telah membeli makanan itu semua. Apa dia sanggup menghabiskannya?!


"Ayo makan! Am! Aum! Aamm..."


Ternyata benar. Selera makan si perempuan yang satu ini memang sangat besar, ya? Hehe....


"Hei? Kenapa kalian diam saja? Ayo makan ini!" Aku tersentak. Ia memberikan aku sebuah potongan bakso yang ia tusuk di garpu.


Aku menerimanya dengan senyum. "I, iya. Terima kasih banyak."


Lalu, Lisa-san juga memberikan makanannya pada Kiky-san. Kami memakan makanan itu. Enak sekali. Ternyata, makanan di Indonesia jauh lebih enak daripada Jepang, ya? Haha.... Apalagi dengan bola-bola daging ini. Mereka menyebutnya dengan Bakso, kan?


Tak lama kemudian, Lisa-san akhirnya berhasil menghabiskan semua makanannya itu. Kami berdua terkejut. Perempuan berparas cantik itu ternyata memang gemar makan, ya? Tapi walaupun dia sudah makan banyak, tetap saja tubuhnya tidak pernah gendut!


"Haha..., aku kenyang!" kata Lisa-san lemas sambil mengelus perutnya yang sedikit membesar karena penuh dengan makanannya.


"Sepertinya kau makan banyak sekali." Ujar Kiky-san.


"Iya. Aku memang suka seperti ini. Makan banyak tapi tidak pernah gemuk, haha..." Hehe..., lagi-lagi dia terkekeh seperti itu.


"Eh, ngomong-ngomong, aku tidak melihat kalian jajan." Lisa-san kembali bicara.


"Oh! Aku hanya membeli permen." Jawabku.


"Begitu juga dengan diriku." Jawab Kiky-san.


"Oohh...," Lisa-san mengangguk. Lalu ia kembali membuka mulutnya. "Eh, ngomong-ngomong, kemarin bagaimana perjalanan Study tour kalian? Menyenangkan tidak?"


Aku tersentak. Aku tidak menjawab. Karena Study tour kemarin sangat kacau dan nyaris saja memakan banyak korban karena serangan dari para Oni jahat dan pemimpin mereka yaitu, Aprilia-sensei.


Kiky menjawab, "Awalnya memang menyenangkan. Tapi, aku tidak mengerti dengan yang terakhirnya."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Ya..., awalnya kan berjalan lancar dan menyenangkan. Tapi, saat aku bangun setelah aku tidur malam di dekat tenda dengan yang lainnya, aku sudah melihat diriku berada di depan teras rumah, loh!" jelas Kiky. "Ini aneh, kan?" lanjutnya.


Ya, saat pulang dari Study tour itu, aku dan Onii-chan membawa semua teman-temannya Dylan-san yang masih tertidur ke rumahnya masing-masing.


"Lalu, yang lebih anehnya lagi, tasku sendiri malah tertukar dengan anak yang lainnya. Baru di kelas tadi, kami kembali bertukaran tas. Ternyata, pengalaman ini bukan hanya padaku. Tapi, semua anak di kelas juga." Kiky-san lanjut menjelaskan.


Yaaah..., Onii-chan pasti salah memberikan tas dan barang-barang mereka! Jangan sampai Kiky-san mengetahui kejadian yang sebenarnya. Tapi sepertinya tidak mungkin dia bisa tahu. Karena, Onee-chan pasti telah menghapus ingatan semua murid kelas 3-A, kan? Termasuk juga dengan Kei-san.


"Kenapa bisa serontak seperti itu? Ah! Aku tidak sempat untuk ikut, sih. Aku juga ingin mengetahui apa yang telah terjadi." Gerutu Lisa-san.


"Ah, sudahlah..., tidak usah dibahas lagi. Karena itu sudah berlalu. Yang penting kita semua bisa pulang dengan selamat." Ujar Kiky-san. Lalu, ia melirik ke arahku. "Oh iya, Takana? Apa Dylan juga merasakan hal yang sama?" tanyanya.


Aku tersentak. Oh tidak, aku harus jawab apa ini? Tenang-tenang. Aku harus pintar menjawabnya dan jangan sampai membuat Kiky-san dan Lisa-san curiga.


"Umm..., entahlah. Aku tidak tahu. Saat Dylan-san pulang ke rumah, dia terlihat lesu sekali. Lalu keesokan harinya dia malah sakit dan tidak sempat menceritakan pengalaman saat ia jalan-jalan. Aku juga tidak tahu dia tidur di depan rumah apa enggak. Dan beruntungnya, barang bawaan Dylan-san tidak ada yang hilang maupun tertukar dengan yang lainnya." Jelasku.


Kiky-san mengangguk paham. "Waah, kalau begitu enak dong. Pagi ini merepotkan sekali. Aku sampai lelah mencari barang-barangku yang tertukar dengan orang lain."


"Tunggu! Ini kan aneh. Kenapa hanya temanmu yang namanya Dylan itu saja yang tidak mengalami kejadian seperti yang dialami teman satu kelasnya? Semuanya mengalami hal yang sama. Tapi, kenapa Dylan tidak?" pikir Lisa-san sembari bertanya padaku.


Aku tersentak kaget. Lagi-lagi perempuan itu malah mempersulit. Aku harus jawab apa, ya?!


Dari tampangnya, Lisa-san sepertinya sudah mulai curiga denganku. Haduh, bagaimana ini?!


To be Continued-