
Suara ketukan pintu yang terdengar mendesak untuk dibuka memaksa Dirga untuk terbangun dari tidur nyenyak. Mimpi indahnya membuyar seketika. Pria itu melirik jam di layar ponsel. Matanya terbelalak heran, ini masih pukul empat pagi. Entah siapa yang telah mengetuk pintu sepagi ini.
Dengan sisa kantuk, ia pun pasrah dan membuka pintu. Kerutan di keningnya semakin dalam saat mendapati Jeff di hadapannya dengan mimik wajah gelisah.
"Apa sih kamu?" tanyanya kesal seraya menggosok mata. Ia semakin heran menyadari Jeff sudah rapi dengan kemeja. "Jangan bilang Pak Arman ngajak ketemuan lagi!"
"Bukan, Pak. Saya mau pulang! Mami saya barusan telepon, Mentari mules katanya."
Dalam keadaan belum sadar sepenuhnya akibat kantuk, Dirga mendengus kasar. "Ya suruh ke kamar mandi kalau mules, Jeff."
Jeff menipiskan bibirnya. Jika saja Dirga bukan bos, ia pasti sudah memaki pria itu. "Bukan mules itu, tapi istri saya mau lahiran!"
Terkejut, mata Dirga langsung membulat penuh. "Apa, lahiran?"
Jeff mengangguk cepat. "Iya. Saya sudah pesan tiket penerbangan ke Jakarta. Pesawat berangkat kurang dari tiga jam lagi. Jadi saya harus cepat ke bandara, Pak."
"Eh, tunggu! Saya kan mau pulang juga!"
"Kan kerjaan kita di sini belum selesai. Jadi Bapak masih harus di sini," ucap Jeff menekan.
Seharusnya pekerjaan mereka telah selesai setelah pertemuan dengan Pak Arman. Namun, semuanya menjadi berantakan karena ulah pria itu.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus pesan tiket untuk saya di penerbangan yang sama!" Tanpa permisi, ia menutup pintu. Membuat Jeff menggaruk kepala dengan frustrasi.
Nasib jadi bawahan!
.
.
.
Jeff tak dapat membendung rasa bahagia dan haru yang menghangatkan hatinya saat menatap tubuh kecil yang sedang berbaring pada sebuah kotak kaca transparan.
Tangisan melengking dari bayi berjenis kelamin perempuan itu memenuhi seisi ruangan. Jeff mengusap ujung matanya yang berair.
Dengan perasaan berdebar-debar ia mendekati putrinya dan mencium pipi lembut nan menggemaskan itu.
Sepanjang Mentari proses persalinan tadi, Jeff tak meninggalkan Mentari sedetik pun. Saat tiba di bandara, Jeff langsung mengarah ke rumah sakit, setelah mendapat telepon dari Mami Joanna bahwa Mentari telah dilarikan ke rumah sakit.
Berbeda dengan Dirga yang sangat panik saat kelahiran Zav, Jeff rupanya cukup tenang dan selalu berusaha menenangkan istrinya setiap kali mengerang kesakitan akibat kontraksi.
Setelah perjuangan antara hidup dan mati, akhirnya Mentari melahirkan seorang bayi perempuan.
Dan ternyata sebahagia ini menjadi seorang ayah. Jeff baru paham. Pantas saja Dirga begitu bahagia dan bangga setiap kali menggendong putranya. Terlebih, saat Lula membawa putra mereka berkunjung ke kantor. Bos nya itu akan sangat bangga mengenalkan putranya pada beberapa rekan bisnis yang kebetulan datang.
"Sayang, terima kasih sudah menjadi ibu dari anakku. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dalam membesarkan dia." Jeff menyerahkan buket bunga mawar merah tanda cinta kepada istrinya.
Mentari tersenyum menyambut suaminya dengan pelukan.
"Terima kasih, Sayang," balas Mentari dengan mengeratkan pelukan. "Aku beruntung sekali memiliki kamu."
.
.
.
.
"Hey, jagoannya ayah! Lagi belajar jalan ya?" Ia memeluk dan menghujani pipi gempil itu dengan ciuman. "Ibu mana, Sus?"
"Ibu di kamar, Pak! Sepertinya lagi beres-beres."
"Ya sudah, saya ke kamar dulu, ya. Tolong pegangin Zav. Kalau ada yang cari saya atau ibu, bilang nggak ada!"
Meskipun terlihat heran, namun wanita itu mengangguk saja. Majikannya itu memang terkadang aneh dan semaunya sendiri.
"Baik, Pak!"
Dirga segera beranjak menuju kamar. Sebuah kotak perhiasan mahal sudah berada di tangannya untuk ia persembahkan kepada sang istri. Ketahuan pergi ke diskotik pasti membuat Lula berpikir yang macam-macam. Maka Dirga harus menyiapkan sesuatu sebagai sogokan untuk meluluhkan koalanya itu.
Begitu memasuki kamar, tampak Lula sedang merapikan lipatan pakaian ke dalam lemari. Senyum cerah pun menghiasi wajahnya saat menyadari kedatangan sang suami.
"Mas, kamu sudah pulang?"
Kerinduan terasa begitu kuat di antara keduanya yang dilepaskan melalui pelukan erat. Seperti biasa, Lula akan membenamkan wajahnya di dada suaminya itu dan menyesap aroma tubuhnya.
"Aku pikir dia akan marah karena tahu aku ke klub malam," ucap Dirga dalam batin.
"Aku pikir kamu masih lama di luar kota."
"Tidak. Aku pulang lebih awal karena kangen kamu!" Sebuah kalimat gombal yang berhasil membuat Lula seperti melayang di udara.
"Oh ya, Mas. Aku ada berita bahagia untuk kamu."
Kening Dirga berkerut. Raut wajahnya penuh tanya. "Berita bahagia apa?"
"Tadi aku habis dari dokter kandungan. Kata Kak Allan aku hamil lagi, Mas," ucap Lula penuh semangat, membuat Dirga melotot tak percaya.
"Yang bener?"
"Iya." Sambil meraih sebuah alat tes kehamilan yang tadi digunakan olehnya di rumah sakit.
"Alhamdulillah. Akhirnya Zav punya adek." Tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, ia memeluk istrinya dan mencium bibirnya berulang-ulang. "Si Allan bilang apa? Janinnya sehat, kan?"
"Sehat, Mas. Cuma katanya aku tidak boleh stress. Jadi Kak Allan menyarankan untuk liburan. Ke Jepang, Turki, Paris, Singapura ...."
Belum selesai Lula menyebutkan beberapa nama negara lainnya, Dirga sudah meletakkan jari telunjuknya di depan istrinya itu, sehingga Lula terdiam seketika.
"Kamu tenang saja. Nanti kita pergi."
"Yang benar, Mas?" Mata Lula mulai berbinar saking bahagianya.
Dirga mengelus rambut istrinya dengan penuh cinta. "Iya, Sayang! Kita akan pergi ke dokter kandungan lain maksudnya. Sepertinya Dokter Allan Hadikusuma sudah gila."
****
Lula 😤😤😤😤