
“Ah, Mama ini kalau ngomong tidak pakai rem,” gerutu Dirga sambil melirik Mama Diana dengan ekor matanya.
“Kan memang benar. Memang salah?”
“Ya tidak.” Akhirnya menyerah dan ikut membenarkan ucapan Mama Diana.
Wanita paruh baya itu duduk di sisi putranya seraya sesekali menciumi pipi gempil cucunya. “Emh, wanginya cucu oma.” Kemudian melirik Dirga yang masih duduk diam. “Oh ya, kamu harus secepatnya menikahi Lula secara resmi, biar status kamu jelas dan tidak jadi suami rasa duda lagi.”
“Iya, Mah. Setelah semua urusan beres. Aku masih harus mengurus Alika.” Dirga terlihat murung setelah menyebut nama wanita yang sudah menjadi istrinya selama dua tahun itu.
“Apanya lagi sih? Kan tinggal urus perceraian.”
“Kan tidak semudah itu, Mah.”
Tangan Mama Diana terulur mengusap bahu putranya itu. Ia pun ikut merasa prihatin dengan apa yang terjadi.
“Yang penting kita semua sudah tahu siapa Alika. Mama lega karena kamu tidak terjerumus semakin dalam sama dia,” ucap Mama Diana membuat Dirga menunduk lesu. Ia teringat semua peringatan Mama Diana yang selama ini diabaikan.
"Maaf, Mah." Hanya kata itu yang dapat terucap di bibirnya.
.
.
.
.
Mulai malam ini, Dirga memutuskan untuk tinggal di rumah Mama Diana untuk sementara waktu. Pria bertubuh tinggi tegak itu enggan pulang ke rumah pribadinya. Karena rumah itu hanya akan mengingatkan pada Alika dan segala kenangan buruknya.
Kini ia sedang berada di tempat favoritnya, balkon rumah lantai dua yang sering kali menjadi tempatnya merenung. Setidaknya Dirga menjadi lebih tenang, setelah seharian berada dalam situasi yang menguras emosi.
“Mas, kamu sedang apa di sini?”
Suara panggilan itu membuat Dirga tersadar dari lamunan. Lula berdiri tepat di sisinya dengan berpegangan pada pembatas balkon.
“Tidak ada, hanya menenangkan diri.” Ia menatap Lula sekilas. “Zav mana?”
“Sudah tidur,” jawabnya singkat.
Lula menatap kagum pada taman luas yang berada di bagian belakang rumah mertuanya. Lampu-lampu bercahaya kuning itu menciptakan suasana romantis.
“Memang kamu menempati kamar yang mana?” tanya Dirga sok polos. Padahal ia tahu kamar mana yang ditempati istri sirinya itu.
“Aku di kamar sebelah mama.”
“Kenapa bukan di kamarku?” Memberi sebuah pertanyaan menjebak yang membuat Lula mengalihkan pandangan dari taman.
“Memang di kamar kamu ada apa, Mas?”
“Ada aku lah!” celetuk Dirga sambil tertawa kecil, menciptakan kerutan tipis di kening Lula. “Ya kan kamu nanti kesepian tidurnya, kan aku bisa temani.”
“Ada Zav yang menemani aku kok.”
Dirga tersenyum menggoda. Hal yang paling ia sukai adalah ketika menggoda Lula dan membuat pipi wanita itu kemerahan. Jelas terlihat, meskipun di balkon pencahayaan temaram karena hanya ada satu lampu yang menyala.
“Tapi kalau sama aku beda loh.”
“Kamu akan merasa lebih hangat kalau ada aku.” Ia meraih jemari Lula dan mencium punggung tangannya.
Membuat Lula menarik napas dalam-dalam. “Kemana saja kamu, Mas? Selama mengandung Zav, aku dianggurin sama kamu. Sekarang baru mau menghangatkan. Kamu tidak merasa kalau itu telat?” sindir Lula dengan telak.
Ini ada apa sih? Mama sama Lula sepertinya lagi julid. Dari tadi kena sindir melulu.
Dirga tersenyum kecut.
“Ya maaf, Sayang.”
.
.
.
Keesokan harinya ...
Dirga mengunjungi sebuah rumah sakit. Menurut kabar yang ia dapat dari Jeff, Mentari, gadis yang pernah menjalin kasih dengan Azka sedang menjalani fisioterapi di rumah sakit tempat Dokter Allan praktek.
Dirga merasa perlu bertemu dengan gadis itu untuk menanyakan beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Sebab ia tak pernah mengetahui sebelumnya bahwa Azka memiliki seorang kekasih.
Melewati sebuah ruangan berpintu kaca, pandangan Dirga menyapu sekeliling. Hingga menemukan sosok gadis yang kata Jeff bernama Mentari sedang berada di sudut ruangan itu. Sepertinya sedang latihan berjalan. Alis Dirga saling bertaut. Bukan gadis berambut panjang itu yang menyita perhatiannya, tetapi seseorang yang sedang bersamanya.
“Jeff? Sedang apa dia di sini?”
“Menemani Mentari lah!” Dokter Allan tiba-tiba hadir di sana dan menjawab gumaman Dirga.
“Ah kamu. Bikin kaget saja. Untung punya jantung kuat.” Sambil sesekali melirik Jeff dan Mentari. “Ngapain Jeff di sini?”
“Kamu sendiri?” Bukannya menjawab, Dokter Allan malah balik bertanya.
“Aku perlu bertemu dengan gadis itu untuk menanyakan beberapa hal.”
“Bukannya kemarin Jeff sudah menjelaskan semuanya? Mentari itu pacarnya si Azka yang tahu semua kejadian pembunuhan Azka dan Vino. Makanya si Hito menyekap dia selama ini?”
“Iya, aku mengerti. Tapi masih ada yang mengganjal.”
“Sudah! Jangan dipikirkan yang mengganjal. Semua sudah jelas, jadi kamu tidak perlu memikirkan hal lain lagi selain rencana menikah secara resmi dengan Lula. Si Mentari biar Jeff saja yang urus, jangan kamu!”
“Memangnya kenapa kalau aku?” tanya Dirga yang masih belum mengerti arah pembicaraan saudara sepupunya itu.
“Soalnya kalau kamu yang urus, nanti mau dijadikan istri lagi!” sindir Dokter Allan membuat Dirga melotot tajam.
“Sialan kamu!”
.
.
.