HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Zebrangin Koala!



 Dirga membaringkan Lula di tempat tidur yang membuat wanita itu meraih bantal dan menutupi bagian dadanya. Tetapi Dirga dengan cepat menarik bantal itu dan melempar ke sembarang arah.


"Kenapa sih harus ditutup lagi?" protesnya.


Ia lantas menerjang dengan tidak sabarnya. Memeluk tubuh istrinya itu hingga tak dapat bergerak dengan leluasa. Lula hanya dapat menggeliat kecil di bawah Kungkungan Dirga.  


“Ma-Mas ...” Ia mendorong dada telanjang suaminya ketika hendak mencium bibirnya. 


“Apa lagi sih, Lula?” tanya Dirga mulai frustrasi. Sebab Lula terus mengulur waktu sementara Dirga sudah merasa tak tahan lagi.  


Lula menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap suaminya dengan memelas. “Jangan kasar seperti waktu itu,” ucapnya dengan suara gemetar. 


Membuat Dirga langsung tersadar akan kegilaannya. Ya, Lula pasti sangat takut melakukan hubungan itu, mengingat pertama kali dalam keadaan dipaksa hingga menyisakan trauma.


“Kamu jangan pikirkan malam itu lagi. Sekarang fokusnya di malam ini saja.” 


“Tapi benar tidak sakit, kan?” Sekali lagi mencoba memastikan. Ia masih tampak ragu, sehingga Dirga memeluknya. Mengusap punggungnya dengan lembut. 


“Tidak akan. Maaf, Sayang. Kamu pasti ketakutan malam itu, ya?” 


Lula mengangguk pelan. Ia memang masih sedikit takut, karena seingatnya melakukan hubungan suami istri itu rasanya sakit, seperti yang dirasakannya saat pertama kali. 


“Kita pelan-pelan saja, ya.” 


Lula mengangguk lagi. Tetapi kali ini Dirga cukup memahami kondisi istrinya. Mungkin ia harus perlahan menghilangkan kenangan buruk yang terjadi di antara mereka tahun lalu.


Selama beberapa saat ia hanya memeluk dan mencium kening, membiarkan Lula sedikit lebih tenang. 


.


.


.


.


Lula merinding saat merasakan jemari Dirga menelusuri punggung halusnya. Tangan pria itu bergerak dengan lembut hingga membuat Lula terus menggeliat menahan sensasi hangat dan geli dari sentuhan suaminya. 


Dirga membenamkan kecupan di leher, turun ke dada dan kembali lagi ke bibir. Hal yang membuat Lula terhanyut dan melupakan kenangan buruk yang tadi membuatnya ketakutan. 


Tak seperti malam pertama di mana Dirga begitu brutal menjamahnya. Malam ini hanya ada  kelembutan yang penuh cinta. Lula sudah lupa kapan lingerie tipis yang membalut tubuhnya terhempas di ujung tempat tidur, yang kemudian ditendang oleh Dirga hingga teronggok di lantai. 


Sensasi hangat kembali ia rasakan ketika kulit mereka bersentuhan. 


“Jangan takut, Sayang! Tidak akan sakit,” bisik Dirga, yang kemudian melahap bibir manis itu dengan rakus. 


Dalam balutan selimut, ia mengarahkan senjata andalannya ke tempat yang seharusnya. Meskipun masih dihantui rasa takut, namun Lula sudah pasrah dan membiarkan Dirga mengungkungi tubuhnya. 


“Emh!” Dirga memejamkan mata ketika merasakan hangat di bagian bawah tubuhnya setelah berhasil melakukan penyatuan. Sebuah kenikmatan tak terhingga yang baru ia dapatkan setelah sekian lama. 


Pria itu terdiam beberapa saat dan tak bergerak. Menatap mata istrinya yang berada di bawahnya. 


“Tidak sakit kan?” 


Lula menggeleng dengan malu-malu. Kemudian melingkarkan tangannya di punggung suaminya. Dirga pun memulai penjelajahannya yang luar biasa. Bergerak dengan liar dan tak terkendali.


Lenguhan mulai terdengar. Seisi kamar telah dipenuhi dengan perpaduan suara sepasang manusia yang mabuk oleh kenikmatan dunia yang melenakan. 


Dirga mencium kening sesaat setelah mencapai pelepasan yang begitu dahsyat. Terdiam beberapa saat dengan napas terengah-engah.


"Aku sayang kamu," bisiknya dengan mesra seraya menjatuhkan tubuhnya di sisi sang istri.


Keduanya pun berpelukan melepas rasa lelah.


.


.


.


Pagi hari Lula terbangun dengan tubuh letih setelah malam panjang yang menguras tenaga. Semalam Dirga melahap tubuhnya habis-habisan bagai singa yang kelaparan. Ia mengulangi lagi kegiatan panasnya menjelang subuh dan baru berhenti saat Baby Zav terbangun.


Lula tersenyum menatap Dirga yang masih tertidur pulas dengan Baby Zav di pelukannya.



"Selamat pagi, Sayang," bisik wanita itu yang kemudian mencium kening.


Lula menyibak selimut dan hendak beranjak dari tempat tidur. Mungkin mandi dapat mengurangi rasa lelah. Selain itu tubuhnya juga terasa lengket. Namun, ketika kakinya menyentuh lantai, tiba-tiba ia merasakan sakit di pangkal pahanya.


"Perasaan malam kedua. Tapi kok rasanya tidak beda jauh sama malam pertama, ya?"


****