HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kenangan Buruk



“Aku kenal dia dari seorang teman, sebelum aku bekerja pada Bu Alika. Simon pernah hampir melecehkan aku, tapi aku ditolong seseorang.” Jawaban Lula membuat kemarahan semakin terasa menembus ke ubun-ubun. Bukannya merenggangkan genggamannya, Dirga malah semakin erat mencengkram tangan istrinya. 


“Bagaimana bisa dia hampir melecehkan kamu?” 


Dirga masih menatap tajam. Ingatan Lula pun berputar ke masa lalu, ketika ia hampir saja kehilangan kehormatannya karena ulah Simon dan teman-temannya. 


“Jawab!” pekik Dirga membuat Lula terlonjak. 


Meskipun ragu, namun ia tetap menjawab dengan menahan genangan air mata yang memenuhi bola matanya. “Malam itu aku diajak makan malam sama teman. Aku tidak tahu kalau mereka akan menginap di hotel. Aku ditinggal berdua dengan Simon dan—” 


“Dan apa?” Seolah Dirga tak sabar menunggu penjelasan selanjutnya, ia terus mencecar Lula dengan pertanyaan. 


“Dia memaksaku untuk masuk ke kamar. Saat itu ada pegawai hotel yang menolongku,” lirih Lula.  


Hawa panas tiba-tiba merambat ke seluruh tubuh Dirga. Tangannya terkepal marah hingga membuat urat-urat di tangannya terlihat menonjol. Jangan lupakan semburat merah di wajahnya yang jelas melukis ketegangan. 


Brak! Ia meja dengan kemarahan memuncak. Membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka. Beruntung Mama Diana berada cukup jauh, sehingga tak mendengar suara gaduh yang baru saja ditimbulkan putranya.  


Dirga melirik ke arah Simon. Meskipun pria itu menutupi sebagian wajahnya dengan buku menu dan juga kaca mata hitam yang membingkai matanya, namun Dira sangat yakin bahwa pria itu masih saja memandangi Lula. Jika saja bukan sedang di tempat ramai, Dirga pasti sudah menghajarnya habis-habisan. 


“Kita pulang sekarang!” kesal Dirga melepas tangan istrinya. 


Lula meraih selembar tissue dan mengusap ujung matanya yang telah basah. 


“I-iya, Mas! A-ku mau ke toilet sebentar.”


Tanpa menunggu sahutan dari suaminya, Lula melangkah menuju toilet. Sedangkan Dirga terdiam seraya menghela napas panjang demi mengurai rasa marah yang menguasai dirinya. 


.


.


.


.


“Wah cucumu ganteng sekali loh, Jeng!” ucap seorang wanita mencubit gemas pipi Baby Zav yang tengah berada di pangkuan Mama Diana. 


Mama Diana tersenyum penuh kebanggan. Sangat lama ia menantikan saat-saat ini, di mana dirinya memiliki seorang cucu dan dipamerkan kepada teman-temannya. 


“Nanti juga anakmu ketemu jodohnya, Jeng. Oh ya, karena aku lagi seneng, jadi hari ini aku yang traktir. Jeng-jeng boleh pesan apa saja.” 


Beberapa wanita terdengar bersorak penuh semangat. Kapan lagi dapat traktiran sepuasnya. Ada yang memesan makanan dan minuman, ada pula yang mengobrol dengan Mama Diana karena begitu penasaran dengan sosok istri kedua Dirga. 


“Mama!” panggil Dirga yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Beberapa teman Mama Diana pun menyapa, Dirga sesekali menyahut seraya melempar senyuman ramah. 


“Kenapa Dirga?” tanya Mama Diana. 


“Kita pulang yuk. Aku ada urusan mendadak, Mah,” jawab Dirga. 


“Oh ... ya sudah.” Mama Diana menatap teman-temannya. “Aku pulang dulu ya, Jeng. Nanti aku yang bayar semuanya.” 


“Makasih loh, Jeng Diana!” sahut mereka bersamaan. 


Setelah berpamitan dan membayar tagihan makan teman-temannya, Mama Diana kembali ke mejanya. Dirga sudah kembali lebih dulu dengan membawa Baby Zav.


"Loh, Lulanya mana, Dirga?" Mama Diana melirik ke kanan dan kiri dan tak melihat keberadaan sang menantu.


"Ke toilet, Mah," jawabnya santai. Sesekali menciumi pipi putranya. Setidaknya keberadaan Baby Zav dapat mengurangi rasa marah yang bersarang di hatinya. Memeluk dan menciumi putranya membuat Dirga merasa damai.


Ia melirik sebuah meja di mana tadi Simon berada. Namun, pria itu sudah tak terlihat di sana.


"Simonyet tadi mana, ya?"


.


.


.