HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Bonus 08-



Tak jauh berbeda dari kebahagiaan yang dirasakan Jeff dan Mentari, kehidupan Dirga dan Lula pun diselimuti kebahagiaan. Jika dulu pulang ke rumah terasa hambar bagi Dirga, kini pulang adalah sesuatu yang paling ditunggu olehnya. 


Karena begitu tiba di rumah, senyum teduh penuh cinta akan menyambutnya lengkap dengan aroma masakan yang menggugah selera. Juga seorang bayi kecil menggemaskan yang selalu dapat menghilangkan rasa jenuh setelah seharian bekerja di kantor. 


Sembilan bulan berlalu sejak pernikahan keduanya. 


Saat ini sudah tiga minggu Dirga dan Jeff berada di luar kota. Pembangunan sebuah taman hiburan yang merupakan kerjasama dengan ANVA Group memaksa keduanya untuk jauh dari keluarga. 


Tidak mudah memang, Zav sudah menginjak usia satu tahun dan sedang lucu-lucunya. Hal yang membuat Dirga merindu di setiap harinya, sehingga melakukan panggilan video begitu memiliki waktu senggang. Panggilan ‘ayah’ dengan pengucapan belum sempurna dari Zav saja sudah mampu menghilangkan penat yang memenuhi kepalanya. 


Sementara Jeff sedang harap-harap cemas menanti kelahiran anak pertamanya yang diperkirakan tinggal menghitung hari. Kadang ia berdebar-debar memikirkan akan seperti apa buah hatinya, apakah akan mirip dirinya atau ibunya, dan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah? Apakah akan ada rasa bangga setiap kali menggendongnya seperti yang ia temukan pada wajah Dirga saat menggendong putranya? 


Jeff tak tahu lagi, yang pasti keinginannya hanya segera menyelesaikan pekerjaan agar cepat pulang ke rumah dan menemani sang istri menjelang persalinan. 


*


*


*


“Bapak yakin Pak Arman minta ketemu di sini?” Pandangan Jeff menyapu seisi ruangan sebuah tempat hiburan malam. Dari tempat mereka berdiri sekarang, sudah tampak jelas hura-hura dan aroma alkohol yang menyeruak.


“Katanya sih begitu.” Jawaban singkat dari Dirga menciptakan kerutan tipis di dahi Jeff. 


"Masa janjian di tempat seperti ini? Apa tidak ada tempat lain? Restoran misalnya."


"Kamu kayak tidak tahu Pak Arman saja. Dia kan sudah beberapa kali menawarkan barang bagus."


"Barang bagus?" Mimik muka Jeff penuh tanya.


"Itu!" Dirga menunjuk sebuah kursi, di mana beberapa wanita berpakaian terbuka sedang duduk, dan satu hal yang disadari Dirga, Jeff tidak pernah mau menginjakkan kaki di tempat hiburan malam dan benci dengan minuman memabukkan.


"Pulang saja lah, Pak!" ajaknya.


"Pak Arman bagaimana?"


"Kan bisa ketemu besok."


Baru saja Jeff akan melangkah, beberapa wanita cantik yang menyajikan dada terbuka dan paha mulus mendekat. Mereka menatap seperti singa lapar, tubuh kokoh yang terbalut pakaian serba mahal itu saja sudah cukup untuk menjelaskan, bahwa dua pria yang baru saja tiba berasal dari kelas atas, dan merupakan santapan lezat bagi para wanita itu. 


“Hai Mas ganteng, sudah pesan meja belum? Kita temenin, ya.” 


Jeff merinding kala seorang wanita cantik bergelayut manja di lengannya. Pria itu menatap sang bos seolah meminta pertolongan. Alih-alih menolong, Dirga pun seperti sedang kesulitan untuk melepaskan diri dari wanita yang menatap mereka dengan buasnya. 


“Kalau ketahuan istri ke tempat seperti ini, bisa digantung saya, Pak!”


“Kamu pikir saya tidak?” Dirga menggunakan lengannya untuk mendorong wanita itu agar menjauh sebagai bentuk penolakan. Wajah datarnya menggambarkan ketidaksukaan. 


Tak tahan, Jeff pun menghempas dengan kasar tangan salah satu wanita yang merangkulnya. “Maaf, kami kemari untuk bertemu teman, bukan untuk jajan, jadi jangan harap ada tips!” 


Di saat yang sama, para wanita itu pun mulai menjauh. 


“Cantik-cantik ya, Jeff!” celetuk Dirga menatap tubuh seksi dan paha mulus yang semakin menjauh dari pandangannya. 


Rahang Jeff pun terbuka lebar. Padahal tadi bosnya itu bertingkah seolah tak peduli, namun sekarang malah memuji. “Sama yang begituan Bapak tertarik?” 


“Saya laki-laki normal, Jeff. Tertarik dengan wanita cantik itu wajar.” 


“Yang penting jangan colek sembarangan, saya takut Bapak disuruh tanggung jawab!” 


“Kamu ini suuzon terus sama saya!” 


Tak jauh dari mereka berdiri, tampak seorang pria berusia kira-kira empat puluh tahunan sedang duduk bersama beberapa wanita berpakaian terbuka. Jeff menyenggol lengan sang bos dan menunjuk pria tersebut dengan sorot matanya. 


“Buaya juga dia!” Dirga masih tak percaya bahwa pria yang meminta bertemu di tempat itu sedang duduk santai sambil menikmati minuman. 


“Pulang sajalah, Pak. Itu Pak Arman juga sepertinya sedang mabuk. Mau bicara apa dengan orang yang sedang mabuk?” 


"Badjingan juga ya, ngajak kita ketemu malah mabok."


Getaran ponsel yang berada dalam saku celana Dirga memotong obrolan mereka. Dirga mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Wajah polos tanpa make up dengan piyama tampak memenuhi layar ponsel ketika Dirga menggeser simbol kamera. 


“Iya, Sayang!” Dirga tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.


“Kamu di mana, Mas?” Sebuah pertanyaan yang membuat Dirga gelagapan. Betapa bodoh dirinya yang tidak sadar sedang berada di mana dan malah menjawab panggilan video itu. Tentunya Lula akan berpikir yang bukan-bukan.


“Aku di restoran—” Sebuah kebohongan baru saja terucap.


Mata Lula memicing. Kecurigaan mulai merasuk saat melihat lampu-lampu di belakang suaminya. Lula pun sudah mampu menebak di mana sebenarnya sang suami sekarang. “Kamu ke diskotik, Mas?” 


“Maaf, Sayang. Ini tadi mau ketemu Pak Arman. Ada Jeff juga kok di sini!” Ia mengarahkan layar ponsel ke wajah Jeff untuk meyakinkan istrinya. 


Di sana Lula sudah menunjukkan mimik wajah seorang istri yang garang.


“Aku tidak mau tahu, kamu harus pulang ke hotel sekarang juga! Awas aja kalau jajan sembarangan!” 


“Iya, Sayang. Aku pulang sekarang.” 


Bibir Jeff terkatup menahan tawa.


“Sokor! Memang enak disatronin istri?” 


.


.


.