HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kebenaran Yang Tersembunyi



Dirga sudah rapi dengan pakaian kerja dan dasi yang melilit kerah kemejanya. Dengan diiringi bunyi siulan yang terdengar riang gembira, ia menyisir rambut. Kemudian menatap pantulan dirinya di cermin dengan penuh rasa bangga.


Sangat keren!


Ia baru sadar memiliki wajah tampan rupawan dan untuk kali ini, ia ingin memuji diri sendiri. Namun, mendadak senyum yang terlukis di wajahnya memudar, ketika teringat akan bisikan gaib yang benar-benar merusak mood-nya pagi ini.


Semalam, sebelum pulang ke rumah ia sempat bertemu dengan sepupunya, Dokter Allan dan pria itu berhasil membuat Dirga kesal setengah mati.


Kamu tahu tidak, Giany selalu merapikan pakaianku setiap mau berangkat kerja. Kamu begitu juga, tidak? Ucapan Dokter Allan masih terngiang jelas di telinganya.


Dirga mendengus kesal dan melempar sisir ke atas meja hingga membuat beberapa alat make up milik Alika yang berjejer rapi menghambur. Sebagian bahkan jatuh ke lantai dan menimbulkan suara pecahan kaca. Seketika, aroma parfum mahal menyeruak memenuhi seisi kamar.


Dirga menarik napas dalam-dalam.


Memiliki fisik mendekati kata sempurna rupanya bukan sebuah jaminan untuk bahagia. Karena selama ini, waktunya terbuang untuk memenuhi segala keinginan Alika. Namun, Alika sendiri hampir tidak pernah menaruh perhatian terhadapnya.


"Jangankan sekedar merapikan kemeja dan dasi, bertanya sudah makan saja tidak pernah."


Ya, Alika sama sekali tidak pernah melakukannya. Pagi-pagi istri pertamanya itu sudah menghilang bagai ditelan Bumi dan baru kembali di malam hari. Pagi ini pun ia sudah pergi entah ke mana.


Lalu bagaimana dengan Lula? Apakah dia akan berbeda?


Dirga menarik dasi dan menjambak rambutnya sendiri hingga terlihat cukup berantakan. Lalu kemudian keluar kamar.


Melewati dapur begitu saja, Dirga melirik Lula yang sedang membantu Mbok Darmi membersihkan peralatan makan bekas sarapan tadi.


"Aku berangkat!" ucap Dirga terus berjalan menuju pintu.


Kerutan tipis terukir di kening mulus Lula ketika melihat suaminya menuju pintu dengan penampilan yang cukup berantakan.


"Loh Mas ..." Lula terheran dibuatnya, karena Dirga tak pernah membiarkan penampilannya berantakan jika akan keluar rumah.


Wanita dengan tubuh langsing bak gitar spanyol itu pun segera mengekor di belakang sang suami. "Mas, dasi dan rambutnya kenapa berantakan begitu?"


"Ah ini ... aku buru-buru ke kantor. Tidak sempat merapikan." Dirga membalikkan tubuhnya dan menatap Lula yang berdiri dalam jarak kurang dari tiga meter dari tempatnya berdiri.


"Sini aku rapikan dulu, Mas. Masa mau ke kantor pakaiannya begitu." Lula pun langsung berdiri tepat di hadapan Dirga. Membenarkan rambut dan kemeja suaminya hingga benar-benar rapi.


Sehingga Dirga memiliki kesempatan untuk menikmati kecantikan Lula dari jarak dekat. Pria itu pun bersorak dalam hati.


"Sudah, Mas," ucap Lula dengan senyuman manis di bibirnya.


"Terima kasih, Sayang." Mencium kening dengan penuh kelembutan, mumpung tak ada Alika di rumah. Sebab jika wanita itu masih bergentayangan di rumah, tentu saja Dirga tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Lula.


"Oh ya, Mas ... bagaimana kalau siang ini kita makan siang di luar."


"Makan siang?" Dirga menatap Lula dengan kerutan di alis. Sebab tak biasanya Lula mengajaknya untuk makan di luar. Selama sebulan belakangan, Lula lebih senang memasak.


"Iya, makan siang. Tapi aku mau berdua saja," ujar Lula tampak penuh harap.


"Tapi Zav bagaimana? Di bawa juga?"


"Kan aku bilang berdua. Kalau ada Zav kan namanya bertiga."


Membuat Dirga menepuk dahinya. "Iya juga, sih. Berarti Zav ditinggal di rumah dengan Suster Vira?"


Lula menggeleng pelan. "Mama mau bawa Zav ke rumahnya. Aku sudah siapkan asi buat dia yang cukup sampai sore. Jadi kita bisa makan siang bersama."


"Boleh. Aku jemput di rumah?" tanya Dirga.


"Tidak usah. Soalnya aku mau ke salon dulu. Nanti aku kabari di mana tempat untuk bertemu." Dirga kembali terheran. Meskipun muncul beberapa pertanyaan di benaknya, namun ia tak begitu menghiraukan.


"Ya sudah, Sayang. Aku berangkat ya. Kabari saja."


"Hati-hati di jalan, Mas."


Ia mencium kening lagi, sebelum akhirnya menuju mobil dan meninggalkan rumah. Sementara Lula menatap mobil milik suaminya yang perlahan menjauh membentuk titik kecil dan menghilang di kejauhan.


Hari ini akan aku tunjukkan semua kebenaran yang tersembunyi, Mas.


.


.


.