
"Kamu tega sama aku," ucap Dirga yang tampak tak rela kehilangan malam indahnya.
"Bukan masalah tega tidak tega, Mas. Kan masih banyak waktu. Besok-besok kan bisa."
Dirga berdecak. "Kamu mah tega."
"Tegaan mana sama Mas yang meninggalkan aku selama ..." Ucapan Lula tiba-tiba menggantung saat menyadari raut wajah sedih suaminya. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kamu."
"Tidak apa-apa. Maaf, Sayang."
"Nanti juga ada waktunya aku pakai baju zebranya. Sabar ya, Mas." Ia tersenyum dengan tatapan penuh cinta.
Dirga menarik napas dalam-dalam. Memang ucapan Lula ada benarnya. Tetapi Dirga benar-benar tidak ingin kehilangan malam bersejarah dalam hidupnya ini. Ia bahkan sudah meminta bantuan Shanty untuk mempersiapkan segalanya.
“Aku mau lihat Zav sebentar ya.” Lula menunjuk sebuah meja di sudut ruangan itu.
"Ya sudah, aku mau temui Jeff dan Allan dulu," sahutnya dengan malas.
Sementara Lula menghampiri Mama Diana yang sedang menggendong Zav sambil mengobrol dengan keluarga lain, Dirga beralih ke meja di mana Dokter Allan dan Jeff sedang duduk bersama wanitanya masing-masing.
"Eh, pengantin baru! Selamat ya, akhirnya ketemu tulang rusuk yang pas, setelah dua tahun kesasar di tulang rusuk yang salah," sindir Dokter Allan seraya tertawa kecil.
Tak terima dengan sindiran saudara sepupunya, Dirga pun membalas. "Memang kamu, perebut tulang rusuk orang!"
Dokter Allan seketika membungkam.
"Mas Dirga selamat ya," ucap Mentari dengan senyum semanis madu, sehingga Jeff melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Tidak usah lebar-lebar kalau senyum. Apa lagi kalau senyum ke suami orang. Pak Dirga itu buaya," bisik Jeff.
"Iya, Kak. Maaf."
Mentari menunduk malu dengan bibir mengatup. Calon suaminya itu memang sangat posesif dan cemburuan. Malah sekarang menggenggam tangannya dengan erat di bawah meja.
“Hai semua, bagaimana acaranya? Keren kan ya? Ya iya, wedding planner-nya kan Shanty yang syantik membahana." Seorang wanita istimewa yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
"Keren, Shan. Kamu memang wanita yang luar biasa." Dirga menaikkan jari jempolnya.
"Tapi awas kamu kalau nikahan saya berantakan!" ancam Jeff.
"Tenang Mas Jeff, beres pokoknya." Wanita setengah jadi itu duduk di sisi Dirga. Seperti biasa dengan gayanya yang centil.
"Eh Mas ganteng, aku lagi tungguin undian doorprize-nya. Semoga aja ada namaku di sana. Lumayan kan paket bulan madu ke Cappadocia gratis."
Suaranya lembut dengan penuh pengharapan, pernikahan Dirga dan Lula memang menawarkan hadiah paket bulan madu ke luar negeri yang akan diundi untuk para tamu.
"Itu kan paket bulan madu, Marimar. Kalau kamu yang dapat, mau bulan madu sama siapa?"
"Mau ikut Mas Jeff sama Mbak Mentari. Kan Mas Jeff sama Mbak Mentari juga mau nikah. Pasti Mas Dirga kasih mereka paket bulan madu ke Cappadocia juga, kan?"
"Ya sudah, semoga kamu yang dapat. Nanti kalau naik balon udara tidak usah turun. Capek saya punya tetangga kayak kamu!" gerutu Jeff.
"Ah, Mas Jeff mah gitu," sahutnya lembut dengan bibir mengerucut.
"Berarti kamu setan dong. Kamu kan pernah jadi pihak ke tiga dalam hubungan orang." Dirga kembali menyindir yang membuat Dokter Allan melotot.
.
.
Tawa mewarnai obrolan seru mereka. Shanti menceritakan pengalaman hidupnya yang dramatis hingga lupa waktu. Gayanya yang centil, suaranya yang halus dan bahasa tubuhnya yang lemah gemulai menjadi hiburan tersendiri.
Pengundian hadiah pun berlangsung. Para tamu berkumpul untuk mendengarkan dengan harapan akan ada namanya di salah satu tamu yang beruntung.
Tepuk tangan meriah menggema ketika satu persatu nama pemenang undian disebutkan.
"Shantoso Aji Kusumo."
Hening! Pandangan para tamu berkeliling mencari.
Entah sudah beberapa kali panggilan dari alat pengeras suara itu, namun sang pemilik nama belum juga menyahut.
"Kalau begitu kita batalkan saja ya, Shantoso Aji Kusumo kayaknya tidak mau paket ke Cappadocia," ucap sang pembawa acara.
"Memang siapa Shantoso Aji Kusumo?" tanya Dirga menatap orang-orang hadapannya.
"Shantoso Aji Kusumo?" Shanti seketika tersadar dan langsung berdiri dari duduknya. "Eh, jangan dibatalin! Itu nama saya!"
Baik Dirga, Jeff dan Allan melongo. Apa lagi saat melihat betapa paniknya Shanty karena takut namanya akan dibatalkan.
"Jadi nama kamu sebenarnya Shantoso?" tanya Jeff membuat Shanty mengangguk pasrah.
Dirga tertawa kecil.
"Makanya Shan, jangan ingatnya sama nama panggung doang. Sekali-sekali ingat juga sama nama yang bakal terukir di batu nisan kamu!" sembur Dirga.
Shantoso Aji Kusumo merengut.
"Mas Dirga mah gitu!" ucap Shanty dengan suara bass yang berat.
.
.
.
.
Nama panggung \= Shanty
Nama Nissan \= Shantoso Aji Kusumo
Dirga be like 🙄🙄😱