
“Ba-baju zebra?” Suara Lula terdengar gemetar. Tanpa dapat dikendalikan, tatapannya langsung tertuju ke sudut kamar, di mana beberapa paper bag berisi lingerie belanjaannya masih berjejer rapi.
“Iya. Kamu kan tadi beli banyak lingerie. Kamu mau pakai yang mana dulu, Sayang? Yang rendanya di atas apa di bawah? Apa jangan-jangan ada yang tidak pakai renda sama sekali?”
Tangan Dirga mulai bergerak dengan nakal menjelajahi pinggang. Lula merinding, tatapannya mengikuti ke mana tangan suaminya tertuju.
Napas Lula mendadak tertahan oleh rasa terkejut. Wajah sedihnya perlahan mulai berubah, berganti dengan rona merah. Ia masih ingat dengan jelas betapa centil gayanya tadi merayu Dirga. Padahal sebenarnya Lula hanya sekedar menjahili saja tanpa berniat untuk serius.
“Mas, aku mau keluar sebentar!” Lula akan berdiri dari duduknya, namun Dirga menarik pergelangan tangannya, sehingga Lula terjatuh di pangkuannya.
“Kamu tidak akan bisa kemana-mana karena kuncinya sudah aku sembunyikan.”
“Hah?”
Terkejut luar biasa, tatapan Lula langsung tertuju pada gagang pintu. Kunci yang biasanya menancap di sana sudah tak terlihat lagi. Dirga benar-benar licik, sepertinya ia telah mempersiapkan semuanya secara dengan baik, bahkan saat mereka masih marahan.
Dirga mencium pipi kanan Lula. Tangannya masih melingkar erat di pinggang.
“Menurut kamu ... Enak tidak, kalau kita berdua terkurung di kamar ini?”
Lula langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak!”
“Kenapa? Kan kita bisa praktek yang diajarkan si Allan sama kita beberapa waktu lalu. Kamu masih ingat dengan woman on top?”
Rasanya seluruh tubuh Lula merinding saat itu juga. Dirga memeluknya dengan sangat erat yang membuat wanita itu kesulitan bernapas. Pikirannya sudah menebak apa yang akan dilakukan Dirga kepada dirinya malam ini.
“Mas, jangan sampai aku teriak, ya? Mama dan semua penghuni rumah ini bisa dengar loh!” ancam Lula dengan bersungguh-sungguh.
Pandangan Lula pun berkeliling meneliti dinding dan langit-langit kamar itu. Dan memang benar, semua kamar di rumah Mama Diana memang didesain kedap suara. Dirga sudah tak tahan dibuatnya. Ekspresi terkejut, takut sekaligus malu yang ditunjukkan Lula sekarang berbanding terbalik dari sikap centil menggoda yang ia tundukkan dengan berani di mall tadi.
Demi apapun, Dirga seakan sudah tak sanggup menahan tawanya. Menjahili Lula malam ini pasti akan sangat menyenangkan.
“Lula ... kamu tidak takut berada satu kamar dengan duda bernafsu?” ucap Dirga membuat Lula terlonjak. Hampir saja wanita itu terjatuh dari kursi jika Dirga tak menahannya, karena ia teruss menggeser posisinya hingga berada di ujung tempat duduk.
Tanpa memberi aba-aba, Dirga menggendong Lula dan menjatuhkannya di tempat tidur. Tubuh Lula pun semakin gemetar. Semakin malu saja dibuatnya.
“Kamu bilang mau guling-guling manjalita di kasur.” Ujung jarinya menelusuri wajah Lula yang mulai memucat. Jari telunjuknya berhenti di bibir. Dirga mendekatkan wajahnya dan membuat Lula refleks merapatkan kedua matanya. Pria itu berbisik dengan mesra, “Bagaimana kalau guling-gulingnya berdua saja?”
Deg!
Deg!
Deg!
“Ma-Mas, kamu mau apa, sih?” Tangan Lula menahan kuat-kuat dada suaminya yang dalam posisi yang nyaris menindihnya.
Semakin pucatlah wajah Lula karena ulah suaminya. Baru saja mulutnya terbuka untuk berteriak, sudah dibungkam duluan oleh Dirga dengan meletakkan jari di bibir wanita itu.
“Mau lihat koala imut yang pakai baju zebra,” bisiknya dengan menggoda.
****
🤭🤭🤭