HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Mas Jeff Mah Gitu!



Dirga duduk di sofa sambil sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Dengan dengusan frustrasi, ia menatap ke arah tangga. Hampir dua jam lamanya ia menunggu Mama Diana dan istrinya.


"Kenapa wanita-wanita itu harus lama kalau dandan? Tidak mama, tidak Lula semua sama saja."


Akhirnya, ia memilih bangkit dan menyusul ke kamar, namun baru saja akan melangkah, Lula dan Mama Diana sudah terlihat menuruni tangga.


"Maaf, menunggu lama," ucap Mama Diana tanpa rasa bersalah.


"Kayak nunggu buka puasa tahu, Mah."


"Baru juga dua jam sudah marah-marah," balas Mama Diana.


Membuat Dirga menatap Lula dari ujung kaki ke ujung kepala. Gaun berwarna navy itu membuat kulitnya tampak lebih cerah. Sangat cantik dan anggun.


"Berangkat yuk. Kita bisa telat ini."


"Acaranya kan belum dimulai, Dirga!" ketus Mama Diana yang merasa Dirga terlalu terburu-buru.


"Tapi ini kan hari penting, Mah. Tidak enak kalau sampai terlambat."


.


.


.


.


Sementara itu di ruangan lain .... 


Jeff sudah terlihat tampan sempurna dengan setelan jas dan dasi kupu-kupu yang melilit kerah kemejanya. Pria itu berdiri di depan cermin memastikan penampilannya sempurna di hari yang istimewa ini.


“Ah, Mas Jeff memang ganteng. Sayang lebih memilih Mbak Mentari dari pada saya,” ucap Shanty yang sedang membenarkan jas yang dikenakan Jeff.  


“Shan, saya pilih Mentari itu untuk cari bahagia. Kalau pilihnya kamu namanya cari musibah.” 


Wanita bertubuh ramping layaknya model terkenal itu merengut. Jeff kerap menyindirnya dengan telak.


“Padahal saya bisa loh jadi istri dan mantu yang baik untuk Mami Joanna.” Ia mengusap-usap dada Jeff dan merapikan bagian jas yang tampak kusut.


“Dih, Mas Jeff mah gitu!” ucapnya dengan suara lembut dan manja. “Kalau tidak bisa jadi istri, jadi simpanan juga boleh. Saya mah rela demi Mas Jeff.” Sambil mengedipkan kelopak matanya dengan gaya centil seperti biasanya.


Jeff bergidik ngeri. Tetapi untuk pertama kalinya ia tersenyum.


“Ya sudah, nanti saya jadikan kamu simpanan. Lumayan disimpan di gudang buat pengusir serangga.” 


“Mas Jeff mah raja tega!” ucapnya dengan suara bas yang berat.


“Katanya mau jadi simpanan.” 


"Kalau cuma di gudang mah ogah!" Ia membuang pandangan dengan kesal. "Eh, sudah yuk, keluar! Mbak Mentari sudah menunggu dari tadi." Ia melingkarkan tangan di lengan pria itu.


Meskipun merasa risih, tetapi Jeff tetap pasrah lengannya dirangkul wanita jadi-jadian itu. Begitu keluar dari ruangan, tampak Mentari berdiri di depan cermin dan langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.


Baik Jeff dan Mentari langsung menundukkan pandangan saat tatapan mereka saling bertemu.


Mentari begitu terpaku menatap Jeff. Rasa malu tiba-tiba menjalar. Malam ini, pria yang memiliki selisih usia sepuluh tahun darinya itu tampak lebih muda dan tampan.


"Sudah tatap-tatapannya. Nanti bisa dilanjut sepuasnya di kamar pengantin!" ucap Shanty dengan tawa kecil di bibirnya.


Semakin malu saja Mentari dibuatnya. Ia menundukkan kepala berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Jangankan tatap-tatapan. Pegang-pegangan, peluk-pelukan, ciuman, sampai kuda-kud ..." Ucapan Shanty menggantung.


Wanita setengah-setengah itu langsung mengatupkan bibirnya saat Jeff menghadiahinya tatapan tajam.


"Bicara begitu sekali lagi saya tendang kamu ke Cappadocia!"


"Ah, Mas Jeff mah gitu. Galak-galak seksoyy!"


*


*


*