
Di kantor ...
Dirga menyandarkan punggungnya di kursi. Ia baru saja selesai menjalani sebuah rapat penting dengan beberapa stafnya.
Hari yang cukup melelahkan. Namun, semua rasa lelah itu terbayar dengan senyum tatkala menatap foto berbingkai kayu yang bertengger cantik di meja kerjanya.
Baby Zav, bayi mungil yang membuat hidupnya yang kelabu kini berwarna. Beberapa jam tak bertemu Baby Zav saja sudah membuatnya rindu dan ingin segera pulang.
"Pak, satu jam lagi ada rapat dengan Pak Hito yang mewakili Anva Group," ucap Jeff yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sang bos.
Dirga menghela napas panjang. Rasanya sangat malas jika harus berhadapan dengan makhluk satu itu. "Dia lagi. Memang Anva Group tidak punya wakil selain dia?"
"Sepertinya ..." jawab Jeff. "Pak Hito sedang dalam masa promosi untuk posisi direktur utama menggantikan Pak Samudra, ayahnya Pak Vino yang akan pensiun."
"Oh ..."
"Semoga saja kerja sama ini bisa memperbaiki hubungan Lintang dengan Anva. Sejak kepergian Pak Azka dan Pak Vino, persaingan masih memanas," tambah Jeff.
Dirga turut mengaminkan. Proyek pembangunan taman hiburan ini sejatinya adalah proyek besar Azka dan Vino yang ditandatangani mereka dua tahun lalu sebelum kematian keduanya. Namun, tuduhan pembunuhan yang dilakukan Azka terhadap Vino telah menciptakan perseteruan kedua perusahaan besar itu dan memutus kerjasama. Membuat keluarga Mahendra harus menanggung kerugian besar berikut tuntutan yang dilayangkan oleh keluarga Vino.
"Kamu saja lah yang wakili. Saya malas ketemu dia. Lagi pula siang ini saya ada janji dengan ..." Ucapan Dirga menggantung.
"Dengan siapa, Pak?" tanya Jeff penasaran.
"Dengan istri saya." Mata Dirga melotot, Jeff seolah menuntutnya sebuah jawaban.
"Bu Alika?"
"Satunya, Jeff! Mana pernah saya makan siang dengan Alika."
Jeff hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf 'O' tanpa suara, kemudian meletakkan map di meja. "Masih ada waktu. Kita rapat saja dulu, Pak."
Dirga pun hanya berdecak sambil bersandar dengan frustrasi.
.............
Hawa panas terasa merambat ketika dua tatapan saling bertemu. Aroma permusuhan itu masih melekat erat di hati masing-masing yang dibalut dan tertutup oleh topeng bernama kerjasama.
Dirga membuang pandangan ketika melihat Hito berjalan ke arahnya dengan senyum kepalsuan.
"Apa kabar Pak Dirga, lama tidak bertemu." Hito mengulurkan tangannya. Basa-basi yang membuat Dirga merasa sangat malas. Ia bahkan tak sudi menyambut uluran tangan itu, sehingga akhirnya Jeff memilih menjadi penengah.
"Baik Pak Hito, terima kasih," sahut Jeff menyambut uluran tangan laki-laki di hadapannya.
"Senang sekali hari ini saya mewakili Pak Samudra untuk membicarakan kelanjutan kerjasama kita yang sempat tertunda selama dua tahun sejak kematian Pak Vino." Hito menekan kata 'kematian' yang membuat ruangan itu seketika hening.
Jeff pun mengangguk, sementara Dirga menanggapi dengan tatapan dinginnya. Tangannya reflek mengepal dan segera ia sembunyikan di balik punggung. Jika saja tidak sedang berada di ruang rapat dan tidak banyak staf yang melihat, Dirga pasti sudah menghadiahi kepalan tinju di wajah pria itu.
...........
Di sisi lain, Lula sedang berada di sebuah salon ternama untuk melakukan perawatan tubuh. Hampir tiga jam ia menghabiskan waktunya di tempat itu. Seorang wanita yang berada di belakang kursi sedang menyisir rambut panjangnya.
"Sudah selesai, Mbak." Karyawan salon wanita itu mengurai rambut Lula dan memastikan semuanya sudah sempurna.
"Terima kasih, Mbak." Lula menatap cermin besar di hadapannya.
"Jadi kamu sedang melakukan perawatan diri ya?"
Suara tak bersahabat yang menyapa itu membuat Lula seketika menatap cermin. Tampak Alika berdiri di sana dengan tatapan penuh kebencian seperti biasanya. Siang ini, ia juga janjian dengan teman-temannya untuk melakukan perawatan tubuh di salon langganannya itu.
"Dia siapa, Al?" tanya seorang wanita cantik dan berkelas yang berdiri di samping Alika.
Alika menatap teman-temannya satu-persatu. "Dia mantan karyawanku."
"Mantan karyawanmu? Serius Al?" tanya salah seorang tampak tak percaya.
"Iya. Tapi akhirnya main belakang dan merayu suamiku. Perebut suami orang yang derajatnya tidak ada bedanya dengan wanita penghibur!"
Sindiran Alika tak lantas membuat Lula membalasnya. Wanita muda itu tetap diam sambil memainkan ponsel di tangannya. Sementara tiga wanita yang bersama Alika terlihat cukup terkejut mendengar ucapan Alika.
"Ya ampun, pelakor toh. Tidak tahu diri sekali," sambung wanita lainnya.
"Kalian harus jaga baik-baik suami kalian. Jangan sampai dirayu perempuan seperti dia," tambah Alika dengan lirikan mata teramat angkuh. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mempermalukan Lula di hadapan semua orang dan ia akan manfaatkan sebaik mungkin.
"Ngeri ya, jaman sekarang sudah tidak melihat suami orang atau bukan. Tinggal dirayu saja." Salah satu teman Alika bergidik menatap Lula.
"Dia tidak pernah memikirkan kalau dia juga perempuan. Coba kalian pikir, hati istri mana yang terima kalau suaminya dirayu wanita lain?" Alika tersenyum puas, ketika perhatian semua pengunjung salon hanya tertuju pada Lula. Dan kini mereka menatap Lula bagai virus yang harus dibasmi.
Alih-alih merasa malu, Lula tersenyum tipis, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan dengan anggun mendekati Alika.
"Istri seperti apa yang kamu maksud? Istri yang membohongi dan menipu suaminya sendiri? Atau istri yang berselingkuh dan bersekongkol dengan laki-laki lain untuk merebut harta suaminya?"
Seketika seluruh tubuh Alika gemetar mendengar ucapan Lula. Bahkan bola matanya seakan tak sanggup berkedip.
"A-apa maksud kamu?" tanya Alika dengan mata melotot.
Membuat Lula tertawa kecil.
"Dan bagaimana dengan pembunuhan terhadap Vino yang akhirnya membuat pacar kamu melakukan sabotase untuk menghilangkan nyawa Azka Mahendra? Kamu lupa? Apa perlu aku ingatkan kronologinya?"
****