
Langkah kaki Mentari terhenti saat indra pendengarannya menangkap suara lantang seorang pria meneriakkan namanya. Gadis berparas ayu itu memutar tubuhnya, dari kejauhan ia menatap seorang pria yang tengah berusaha mengatur napasnya yang memburu.
“Kak Jeff ...” Dalam keterkejutan hanya itu yang dapat terucap dari bibir gadis itu.
Seraya menatap heran dari ujung kaki ke ujung kepala. Sebab selama ini, setahunya Jeff adalah seseorang yang selalu memperhatikan penampilan saat keluar rumah. Namun, Kini Jeff hanya menggunakan kaus oblong dengan sandal rumahan. Sangat berbeda dengan kesehariannya selama ini.
Setelah mampu mengatur napasnya dan mengurai rasa lelah akibat berlari kesana-kemari, Jeff berjalan mengdekati Mentari yang masih mematung di ambang sebuah pintu kaca. Selama beberapa saat keduanya hanya diam. Mentari seketika menundukkan pandangan.
“Kamu mau kemana?” tanya Jeff.
“Saya mau pulang. Lagi pula saya sudah merasa lebih baik sekarang,” jawab wanita itu tanpa berani menatap pria bertubuh tinggi menjulang yang berdiri tepat di hadapannya.
Pulang? Demi apapun Jeff tak akan pernah rela. Sebab Mentari telah menerangi hatinya yang dulu gelap. Dan pria itu akan melakukan apapun untuk tetap mempertahankan gadis itu di sisinya.
“Sebelum kamu pergi, bisa kita bicara sebentar?”
“Maaf, Kak. Tapi saya harus buru-buru. Nanti ketinggalan pesawat.” Ia menunjukkan sebuah tiket penerbangan di genggamannya.
“Saya akan minta petugas bandara menunda keberangkatan pesawatnya. Jadi kamu tidak usah pikirkan itu.”
Mentari menatap dengan sorot mata penuh kekaguman. Jeff memang keren dan bisa melakukan apapun. Tiba-tiba ia teringat aksi heroik pria itu saat menyelamatkan dirinya dari penyekapan yang dilakukan Hito.
“Memang bisa?”
“Ya tidaklah! Memangnya saya siapa?” Sebuah jawaban yang akan membuat siapapun akan tertawa, termasuk Mentari yang kini terkekeh mendengar ucapan penuh percaya diri itu.
“Maksud saya ... kamu bisa naik penerbangan berikutnya. Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan kamu. Kalau setelah itu kamu tetap mau pergi, saya tetap akan menghalangi.”
.
.
.
.
Akhirnya Mentari menyerah setelah Jeff berhasil membujuk. Kini mereka tengah duduk di sebuah kafe kecil yang terdapat di dalam bandara. Belum ada yang memulai pembicaraan. Jeff seperti masih memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Mentari yang sedikit pemalu sementara Jeff adalah tipe pria dingin yang terkadang terkesan sombong.
“Kamu yakin mau pergi?” Jeff membuka suara setelah terdiam beberapa saat.
“Bukan pergi, Kak. Tapi pulang. Di Surabaya ada rumah mendiang orangtua saya.”
“Tapi kamu mau apa di sana? Kamu akan hidup sendirian dengan kaki yang belum pulih? Setidaknya dengan tetap di sini, kamu tidak akan sendiri. Ada saya dan mami yang akan menemani kamu melewati hari-hari yang berat.”
Mentari mengangkat kepala dan menatap pria tampan yang duduk di hadapannya. Setelah kehilangan Azka, ia tak memiliki siapapun lagi di hidupnya. Untuk terus merepotkan Jeff dan Mami Joanna pun rasanya berat. Terkadang ia merasa seperti benalu yang menumpang hidup di rumah orang.
“Tapi saya sudah banyak merepotkan Kak Jeff dan mami, padahal saya bukan siapa-siapa. Keluarga juga bukan.”
Jeff menggenggam tangan gadis itu, sehingga menciptakan semburat merah di wajahnya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy dari saku celana. Mentari terdiam ketika menyadari apa yang hendak diutarakan oleh pria itu.
“Kalau begitu mari kita membentuk sebuah keluarga!”
.....