
Kebekuan tercipta ketika dua pasang mata itu saling bertemu. Lamaran terkesan mendadak dan jauh dari kata romantis itu membuat Mentari merasa merinding sekaligus malu.
Ia lantas menarik tangannya yang masih digenggam Jeff dengan erat, sehingga menciptakan kecanggungan di antara keduanya.
“Maaf, saya tahu ini terlalu mendadak dan membuat kamu terkejut. Tapi saya benar-benar serius.”
Tentu saja Mentari terkejut. Sangat!
Selama ini Jeff adalah tipe pria yang terbilang kaku baginya. Sejak masih bekerja dengan Azka hingga ketika perusaahan jatuh ke tangan Dirga, sikap dinginnya tak berubah sedikit pun. Hanya saja belakangan ini Jeff memang cukup perhatian dan selalu menemaninya menjalani terapi. Namun, tak pernah terpikir oleh Mentari bahwa pria itu menaruh hati terhadapnya.
“Mentari, kamu mau kan menikah dengan saya?”
“Menikah? Tapi, Kak ... apa saya layak untuk—”
"Kamu sangat layak ... untuk bahagia." Jeff menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Dan saya akan menjamin kebahagiaan kamu."
Mentari terdiam dengan kepala tertunduk. Entah bagaimana harus menjawab.
"Pilihannya hanya ada dua. Iya atau iya. Tidak ada pilihan ke tiga."
Dengan ragu-ragu, gadis itu mengangkat kepala dan menatap mata pria yang baru saja melamarnya dengan sedikit memaksa. Melalui teduhnya mata hazel itu, Mentari dapat melihat kesungguhan di sana.
Jeff kembali menggenggam jemari Mentari. "Saya tahu kamu belum memiliki perasaan apapun untuk saya. Tapi kita bisa memulai semuanya dari awal."
Sejujurnya, Jeff memang bukanlah seseorang yang ada di dalam hatinya. Tetapi pria itu datang ke dalam hidupnya bagai kejutan dan menawarkan kebahagiaan.
Mungkin ada benarnya, bahwa pernikahan tidak harus selalu didasari oleh cinta. Mentari tak punya apapun lagi dalam hidupnya. Tidak ada salahnya memutuskan menerima dan meletakkan seluruh kebahagiaannya di tangan Jeff.
"Baiklah. Saya bersedia." Sebuah jawaban yang melukis senyuman di bibir Jeff, diikuti dengan gerakan cepatnya menyematkan cincin di jari manis gadis itu.
"Maaf ya. Lamarannya tidak romantis dan agak memaksa. Tapi, kamu tidak terpaksa menerima, kan?"
Mentari hanya terkekeh, diiringi gelengan kepala. Meskipun lamaran itu terkesan memaksa, tetapi entah mengapa sikap dan perlakuan Jeff membuat hatinya menghangat.
.
.
.
Di tempat lain ....
"Sekarang tinggal persiapan pernikahan," ucap Dirga seraya memperhatikan padatnya jalan di hadapannya. "Kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?"
"Kita menikahnya sederhana saja, ya. Aku malu."
"Malu kenapa?" tanya Dirga membuat Lula terdiam.
Bukan sesuatu yang aneh jika wanita itu merasa malu. Sebab Hal yang membawa mereka pada pernikahan memang lah sesuatu yang terbilang memalukan. Terlebih, sebagian besar keluarga Mahendra belum mengetahui status pernikahan mereka.
"Kamu lupa kita menikah karena apa? Setelah ini mungkin aku akan dicap sebagai perebut suami orang."
Meskipun Lula tampak tenang saat mengucapkannya, tetapi Dirga dapat melihat kekhawatiran di wajah istrinya itu. Memang benar, mungkin Lula akan dihakimi oleh sebagian orang yang tak mengetahui keadaan sebenarnya.
"Jangan terlalu dipikirkan! Lagi pula itu bukan salahmu. Kamu hanya korban di sini."
"Tapi orang tidak tahu itu kan, Mas?"
"Aku mengerti perasaan kamu. Nanti aku akan minta mama bantu jelaskan ke mereka." Ia menggenggam tangan istrinya.
Lula pun mengangguk. Setidaknya ia boleh sedikit tenang karena memiliki seorang ibu mertua yang sangat baik dan selalu melindunginya.
Mobil kembali melaju meninggalkan kemacetan. Dirga melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Lula yang sedang memainkan ponselnya.
"Sayang ... bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat saja. Jangan menunggu terlalu lama."
"Memang kamu maunya kapan, Mas?" tanya Lula yang masih terfokus dengan ponselnya.
"Lebih cepat lebih baik. Aku sudah kelamaan nganggur sampai setahun lebih." Ucapan frontal Dirga membuat sudut mata Lula berkerut. Bagaimana bisa, sementara ada Alika yang selalu bersamanya selama setahun belakangan.
"Hah, setahun lebih? Bukannya kamu ada Bu Alika, Mas?"
"Sama Alika tidak pernah lagi, sejak malam terakhir sama kamu. Lagi pula kan kamu sendiri tahu bagaimana hubungan aku dengan Alika." Ia menghela napas panjang setelahnya.
Lula pun kembali teringat ucapan Mama Diana beberapa waktu lalu dan Lula baru mengerti apa maksudnya.
"Ooh ... Pantas waktu itu mama bilang kamu jadi suami rasa duda," ucap Lula santai, membuat Dirga langsung menatapnya.
"Kamu sengaja menyindir, ya? Aku arahkan mobilnya ke hotel nih."
***