
“Auh sakit!” ringis Jeff, sesaat setelah Mentari menghadiahi capitan keras di dadanya. "Kamu kok main cubit sih?"
"Habis Kak Jeff mesum."
"Mesum juga sama istri sendiri."
Mentari menarik napas. Jika tidak membahas hal lain, Jeff pasti akan semakin menggodanya. "Oh ya, kenapa topi Kak Jeff pernah dipakai Mas Azka?"
"Dia pernah pinjam. Topinya keren katanya."
Bibir Mentari membentuk huruf 'o' nyaris tanpa suara. Akhirnya semua pertanyaan yang memenuhi benaknya sejak semalam terjawab sudah.
"Sayang .... sore-sore begini pengantin baru itu enaknya ngapain, ya?"
Pipi Mentari memerah yang coba ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Namun, segera dibukanya lagi saat merasakan tubuhnya mendapat beban berat. Kelopak matanya pun mengerjap mewakili rasa terkejut. Dengan gerakan tak terduga, Jeff sudah mengungkung dirinya di bawah tubuh kokohnya.
“Kak Jeff mau apa?” Gemetar suara Mentari ketika menanyakan itu.
“Mengulang yang semalam.”
Mata Mentari langsung membelalak. Ini kan masih sore, bukankah akan lebih nikmat bercinta di malam hari? Pikiran itu terus memenuhi pikiran wanita yang perlahan mendorong dada suaminya sebagai reaksi penolakan. Namun, ia kemudian tersadar bahwa menolak ajakan suami untuk bercinta adalah dosa.
Mentari membeku kala bibir Jeff membungkamnya dengan liar. Sentuhan demi sentuhan membuatnya pasrah dan mengikuti keinginan suaminya. Suara lenguhan memenuhi seisi ruangan, kala dua tubuh itu menyatu. Pinggul Jeff yang tadinya bergerak perlahan menjadi lebih cepat dan sedikit kasar, seiring dengan kenikmatan yang kian membuncah.
Jeff kembali menunjukkan keperkasaannya sore itu. Untuk kedua kalinya ia berhasil membawa Mentari terbang ke surga dunia. Satu hal yang benar-benar dirasakan Mentari, kali ini Jeff lebih agresif dan lebih buas dari semalam. Gerakannya yang menuntut memaksa Mentari mendesahkan napas keras, seraya mencakar pinggang suaminya.
Namun, Jeff boleh merasa beruntung karena sang istri tak memiliki kuku yang panjang. Jika tidak, bekas cakaran pasti akan menjadi lukisan di punggung tegapnya. Keduanya pun terkapar tak berdaya dengan posisi Jeff yang masih di atas. Kepuasan jelas terlihat di wajah mereka.
Ting Tong! Belum selesai sepasang pengantin baru itu mengatur napas, sudah terdengar bunyi bel. Pandangan keduanya saling bertemu, seolah saling menanyakan siapa yang ada di ambang pintu.
“Jeff, kamu di dalam?”
“Itu Mami pulang!” Jeff langsung bangkit dari posisinya yang masih mengungkungi tubuh Mentari. Keduanya panik membenahi selimut, bantal dan karpet bulu yang berantakan karena pergumulan panas barusan. Terlebih pakaian mereka yang teronggok begitu saja di bawah rak televisi.
Mentari langsung menyambar pakaian dan berlari masuk ke dalam kamar di susul Jeff. Dalam hitungan menit, Jeff sudah keluar dan berjalan menuju pintu untuk menyambut sang mami.
“Kalian sedang apa? Kenapa lama buka pintunya?” Mendapat pertanyaan itu, Jeff meraba tengkuk lehernya. Tak tahu harus menjawab apa, panik membuatnya tak dapat berpikir jernih.
“Terus Mentari ke mana?”
Bibir Jeff terkatup. Tak ada jawaban masuk akal apapun yang terlintas di otaknya selain, “Mentari juga habis dari kamar mandi.”
“BAB juga?”
Jeff tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, membuat Mami Joanna mengatupkan bibir. Jika tidak, ia pasti sudah tertawa. Dari lirikan matanya, sepertinya sang mami sudah menduga apa yang baru saja dikerjakan anak dan menantunya itu sampai begitu lama membuka pintu. Ia melangkah masuk dan meletakkan tas ke atas meja. Kemudian duduk di sofa ruang televisi sambil memijat betisnya.
Beberapa menit kemudian, barulah Mentari keluar dari kamar. Tampak semakin manis dengan pakaian santai. “Mami sudah pulang?”
“Iya, Nak.” Ia membenarkan posisi duduknya, kemudian meraih sebuah paper bag yang tadi diletakkannya ke atas meja. “Ini buat kalian!”
“Apa ini, Mi?” Mentari mengeluarkan beberapa buah botol dari paper bag.
“Itu jamu kesuburan, biar kamu cepat hamil. Mami kan juga mau punya cucu seperti teman-teman mami yang lain.”
“Bule juga tahu tentang jamu?” Tatapan Mentari menyiratkan keheranan kepada ibu dan anak itu. Semalam Jeff dengan lahap memakan petai dan hari ini Mami Joanna memberinya jamu penyubur.
“Loh, ini punya siapa?” Mami Joanna menunduk saat merasakan sesuatu terinjak oleh kakinya.
Mentari tampak syok melihat benda berbentuk kacamata berwarna hitam miliknya baru saja diambil Mami Joanna dari bawah kolom sofa yang didudukinya. Tatapan Mentari langsung tertuju kepada sang suami. Bahkan pipi Jeff terlihat lebih merah dibanding dirinya.
"Jadi mami sudah ganggu kegiatan kalian, ya?" Wanita paruh baya itu menatap anak dan menantunya dengan sedikit menggoda.
Semakin merah saja pipi Mentari. Jika ia pikir Jeff akan menjawab, maka salah besar. Karena tanpa permisi, pria itu malah memilih masuk ke kamar demi menyembunyikan rona merah di wajahnya.
.
.
.
Bonus Mas Dirgong habis ini yaaa... 🤗