
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Setelah menjalani beberapa kali persidangan, akhirnya pengadilan mengabulkan gugatan cerai yang dilayangkan Dirga kepada Alika. Secara hukum dan agama Dirga dan Alika bukan lagi sepasang suami istri.
Ya, Perceraian memang bukan jalan terbaik, namun bercerai adalah pilihan terakhir bagi pasangan suami istri ketika tak ada lagi jalan keluar lainnya. Bohong jika Dirga tidak merasa sedih. Bukan karena perpisahan dengan Alika, melainkan rasa sakit yang ditorehkan dari kebohongan mantan istrinya itu selama dua tahun pernikahan mereka.
“Tidak ada yang indah dari perceraian. Tapi setidaknya dengan jalan ini kamu dan Alika tidak perlu saling menyakiti lagi. Toh, Alika menikah dengan kamu bukan untuk membina rumah tangga, tapi untuk meraup kekayaan demi laki-laki lain,” ucap Mama Diana yang hari ini menemani putranya menjalani sidang di pengadilan.
Dirga masih terdiam. Kepingan-kepingan penyesalan terasa menyesakkan dadanya. Jika waktu boleh diulang, ingin rasanya kembali ke masa lalu di mana dirinya belum bertemu dan terikat hubungan apapun dengan Alika.
“Buang bayang-bayang Alika dalam hidup kamu. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah Lula dan Zav. Karena mereka adalah masa depan kamu. Lagi pula, kamu sudah terlalu banyak berkorban selama ini. Sudah saatnya kamu bahagia bersama orang yang benar-benar mencintai kamu.” Ucapan Mama Diana tentang cinta mengalihkan perhatian Dirga.
“Memang Lula mencintai aku, Mah?” tanyanya lesu seraya menyandarkan punggungnya dengan sedikit frustrasi. Kemudian menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung pengadilan agama.
“Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu mencintai Lula?” Bukannya menjawab, Mama Diana malah balik bertanya.
Dirga pun menjawab dengan mengangkat bahunya. Memang hingga detik ini dirinya pun belum memahami perasaan apa yang dimilikinya untuk Lula. Yang pasti ia merasa nyaman dan berharap dapat menjalani bahtera rumah tangga yang bahagia bersama ibu dari anaknya itu.
“Kalau cinta sih belum, Mah. Tapi ...”
"Tapi apa? Jangan pakai tapi-tapian lagi," ucap Mama Diana memotong pembicaraan anaknya. "Setidaknya Lula tahu cara menempatkan dirinya sebagai istri dan dia menghargai kamu. Itu sudah cukup."
“Iya, Mah. Lula memang wanita yang sangat baik.”
"Karena itulah kamu beruntung memiliki dia dalam hidup kamu. Tidak banyak wanita seperti Lula yang tetap mau menerima dan memaafkan kesalahan seperti yang kamu lakukan kepada dia beberapa bulan lalu."
Dirga mengangguk setuju dengan ucapan sang Mama. Dirinya pun masih dikungkung rasa bersalah karena sempat membiarkan Lula menjalani kehamilannya seorang diri.
.
.
.
Setelah melamar Lula, pria itu memutuskan untuk tinggal di apartemen demi menghindari berita miring yang mungkin akan beredar tentang hubungan mereka. Sedangkan Lula dan Baby Zav tetap tinggal bersama Mama Diana.
“Uuh ... sini anak ayah! Kangen sama ayah ya, Nak?” Dirga menggendong Baby Zav yang sedang berbaring di dalam box bayi. "Sus, bundanya mana?" tanyanya kepada Suster Vira.
"Ibu di atas, Pak!" jawab wanita itu.
"Oh ..." Sambil menciumi dan memainkan hidungnya di pipi gempil bayi mungil itu, lalu membawanya keluar menuju sebuah taman kecil di dekat kolam renang.
Cukup lama Dirga menghabiskan waktunya bersama Zav. Sesekali terdengar tawa dari sana.
“Bagaimana, Mas?” Lula datang dan duduk di sebuah kursi di samping suaminya itu.
“Lancar. Semuanya sudah selesai," jawabnya. "Kamu habis apa di atas? Kok lama sih?”
"Habis bersih-bersih di kamar kamu. Soalnya kamar kamu berantakan dan banyak barang tidak terpakai." Sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah aktivitas yang melelahkan. Tadi ia sedang merapikan kamar Dirga yang nantinya akan ditempati oleh mereka setelah menikah. "Selain itu aku harus membuang beberapa koleksi dari jaman jahiliyah kamu."
Dan, ucapan santai Lula pun menciptakan kerutan di sudut mata suaminya itu.
"Kamu beresin semuanya sendiri?"
"Iya ... Memang kenapa, Mas?" tanya Lula. Kali ini dengan tatapan mengintimidasi.
Gawat! Jangan-jangan Lula habis melihat aib-aibku semasa muda dulu. Di kamar itu kan banyak foto mantan semasa kuliah dan bukti kebrengsekan di masa lalu.
****