HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Bonus 01



Setibanya di apartemen. 


“Ayo masuk!” 


Dengan perasaan gugup Mentari melangkah mengikuti suaminya yang sudah masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu. Mentari meneliti keadaan sekitar. Hunian mewah itu sama sekali tak berubah sejak terakhir kali Mentari meninggalkannya beberapa minggu lalu. Karena setahunya Jeff memang tak begitu menyukai perubahan. 


Jeff membawa koper milik Mentari ke dalam kamarnya, sementara Mentari masih mematung di ruang tamu dengan jari-jari yang saling meremas. 


“Koperku dibawa masuk ke kamarnya. Apa berarti mulai malam ini aku akan tinggal di kamar Kak Jeff bersamanya?” 


Tak lama berselang, Jeff pun keluar. Melihat Mentari mematung, ia mendekat. Sehingga Mentari mundur beberapa langkah dangan kepala tertunduk. 


Menyadari sikap Mentari, Jeff pun memahami bahwa istrinya itu masih malu. Mentari masih sangat muda, usianya saja baru menginjak 22 tahun. Berbeda dengan dengan Jeff yang sepuluh tahun lebih dewasa darinya. 


“Kamu mau mandi? Saya sudah siapkan air hangat untuk kamu.” 


“Di kamar Kak Jeff?” tanya Mentari yang belum berani menatap wajah sang suami. 


“Huum ... Kamu mandi dulu, saya mau ke bawah sebentar.” 


Mentari mengangguk pelan, sebelum beranjak masuk ke kamar dan menutupnya. Meskipun pernah tinggal di apartemen ini sebelumnya, namun ini adalah pertama kalinya Mentari menginjakkan kaki di kamar Jeff. Kesan pertama yang ia dapatkan adalah kamar itu terbilang sangat bersih dan rapi untuk ukuran pria lajang. Semua benda tertata sangat rapi dan menarik.


Pandangannya menyapu seisi kamar yang baginya sangat mewah itu. Ada dua lemari besar dan juga ranjang berukuran king size. Di samping tempat tidur ada meja nakas dengan beberapa foto berbingkai kayu di atasnya. 


“Ini foto Kak Jeff semasa kecil ya?” Ia meraih bingkai foto dan mengusapnya. Senyum tipis tampak di sudut bibirnya. “Kak Jeff memang sudah ganteng dari kecil. Di foto ini bulenya kelihatan sekali. Mami juga sangat cantik.” 


Baru saja Mentari akan meletakkan bingkai kayu itu, sesuatu sudah menarik perhatiannya. Mendadak seluruh tubuh gadis itu terasa meremang saat menyadari apa yang baru saja ditemukannya. Sebuah topi berwarna hitam dengan inisial JA yang sangat ia kenali. 


“Topi ini kan punya Mas Azka.” Ingatan Mentari pun berputar ke masa lalu. “Kenapa topi Mas Azka ada sama Kak Jeff?”


 Ia masih bisa mengingat dengan jelas pemilik topi itu, yang merupakan pria yang dulu sering mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.


Suatu kejadian nahas pernah menimpanya, ketika bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Saat itu Mentari hampir saja celaka jika tidak ditolong oleh pria bertopi hitam yang selalu mengikutinya itu. Bahkan saat itu Mentari tak tahu seperti wajah pria tersebut.


Sampai pada suatu saat, ia mendapati Azka menggunakan topi dengan inisial JA tersebut, yang kemudian diyakini Mentari adalah inisial dari Jayden Azka.


Tak ingin larut dalam bayang-bayang masa lalu, Mentari pun mencoba mengalihkan pikirannya. Akan menjadi dosa baginya jika masih memikirkan pria lain, sementara ada Jeff yang sudah menjadi suaminya. Beberapa kali ia terus mengingatkan hal itu kepada dirinya sendiri. 


Ia segera membuka gaun yang membalut tubuhnya, mungkin berendam di air hangat selama beberapa menit akan menyegarkan tubuh lelahnya. 


.


.


.


.


Mentari terkejut ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Jeff sedang duduk berselonjor di sofa sambil menonton TV. 


“Kenapa mandinya lama?” tanya Jeff menoleh sekilas, kemudian kembali terfokus dengan tayangan TV. 


“Saya habis berendam. Kenapa, Kak?” 


“Tidak apa-apa. Kita makan yuk. Saya lapar.” 


Mentari menjawab dengan anggukan kepala. Sepertinya tadi Jeff habis memesan makanan. Memang sejak sore tadi sepasang pengantin baru itu belum sempat makan apapun, karena disibukkan dengan pernikahannya. 


“Iya, tapi saya mau pakai baju dulu.” 


Sambil menyilangkan satu tangan di depan dada, Mentari meraih koper miliknya dan mengeluarkan pakaian dari sana. Jeff melirik dengan ujung matanya, dari gerakan istrinya, ia dapat melihat bahwa gadis itu sedang merasa gugup. Ia bahkan langsung kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian. 


Tanpa ekspresi, Jeff menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. 


“Kenapa juga pakai bajunya harus di kamar mandi?” 


****