HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Cemburu?



Bugh! 


Hanya dengan satu kepalan tinju dari Dirga, Simon sudah terjerembab ke lantai. Bahkan pria itu tampak kesulitan bangkit akibat rasa sakit yang kian menjalar ke ubun-ubun. Ia terduduk beberapa saat, jarinya bergerak mengusap cairan merah yang mengalir di sudut bibirnya. 


Tanpa sepatah kata pun, Dirga maju beberapa langkah. Menarik kerah kemeja pria yang tersungkur di lantai itu dan memaksanya berdiri. Pukulan demi pukulan menghujam, satu tangan Dirga mencengkram kerah kemeja Simon erat, sementara tangan satunya sibuk menghantamkan tinju. Bahkan Dirga tak memberinya kesempatan sedikit pun untuk melawan. 


Sementara Lula meringkuk di sudut ruangan itu dengan kedua tangan menutupi mulutnya. Untuk sekedar menghentikan kegilaan suaminya pun ia tak memiliki keberanian. Beberapa orang yang melihat kejadian itu pun mendekat, ada pula yang berteriak meminta tolong memanggil keamanan. Suasana seketika menjadi kacau. 


“Brengsek!” Dirga membenamkan kepalan tangannya ke arah perut yang membuat Simon kembali tersungkur tak berdaya, lengkap dengan lebam merah di wajahnya. 


“Ada apa ini?” Dua orang pria sudah memegangi lengan Dirga yang tampak akan menyerang lagi. Menahannya dengan ketat. Lula pun tersadar dari keterkejutan, mengusap air mata dan secepat kilat berlari dan memeluk suaminya yang masih dikuasai kemarahan. 


“Tenang dulu, Pak! Ada masalah apa sebenarnya?” tanya seorang pria. 


“Orang itu berusaha melecehkan istri saya!” ucap Dirga dengan sisa kemarahan yang tertahan. Isak tangis Lula membuat Dirga segera melingkarkan tangan ke tubuh istrinya. 


 


Dalam hitungan detik, tempat itu menjadi ramai oleh pengunjung. Beberapa petugas keamanan pun sudah berada di sana dan segera mengamankan Simon dari amukan Dirga. 


“Tolong jangan membuat keributan di sini, Pak! Mari kita bicarakan di kantor saja,” ajak seorang pria yang merupakan kepala keamanan. 


“Aku akan melaporkan ini sebagai tindak penganiayaan!” ancam Simon yang kini dipegangi oleh dua pria berseragam. Hal yang membuat kemarahan Dirga kembali tersulut, namun Lula dan beberapa orang berusaha mencegah. 


“Terserah! Laporkan sebanyak yang kamu mau!” Ia merangkul sang istri dengan posesifnya, lalu tanpa mengindahkan ucapan petugas keamanan membawa Lula meninggalkan kerumunan itu. 


.


.


.


Sepanjang perjalanan pulang tak ada pembicaraan antara Dirga dan Lula. Keduanya saling diam yang membuat Mama Diana tak berani untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sebab dirinya pun sudah mencurigai sesuatu yang aneh dari perubahan sikap Lula yang tiba-tiba. 


“Dirga, sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan Simon?” tanya Mama Diana yang menyusul putranya ke dapur. 


Dirga yang sedang duduk di sebuah kursi terdiam beberapa saat. Tangan kekarnya meremas botol air mineral itu hingga remuk dan sisa air di dalamnya tumpah ke lantai. Ia menghela napas panjang. 


“Simonyet!” Sebuah jawaban singkat yang menciptakan kerutan di kening sang mama. 


“Iya, mama tahu kamu ribut sama Simon. Tapi apa yang terjadi, bagaimana kamu bisa terlibat keributan sama dia?” 


“Dia berusaha melecehkan Lula, Mah! Suami mana yang rela istrinya dilecehkan laki-laki lain?” Jawaban Dirga pun membuat Mama Diana semakin terheran. 


“Tapi bagaimana bisa? Dia kan tahu Lula itu istri kamu?” 


“Kalau brengseknya sudah jadi daging, istri siapa juga tidak lihat lagi, Mah,” ujarnya masih dengan kekesalan yang sama. “Simonyet itu mantannya Lula.” 


Bola mata Mama Diana seketika membulat penuh mendengar ucapan Dirga. “Maksud kamu Lula pernah menjalin hubungan dengan Simon?” tanya Mama Diana diikuti anggukan kepala oleh Dirga. 


“Dulu!” 


Mama Diana pun mulai paham mengapa tadi Lula bersikap sangat ketus terhadap Simon. “Tapi kenapa kamu kelihatan marahnya sama Lula?” 


“Cuma kesal, Mah. Bukan marah,” gerutu pria itu. “Tujuh belas ribu pulau di Indonesia dengan penduduk dua ratusan juta jiwa, kenapa coba harus Simonyet itu yang jadi mantannya?” 


Bukannya ikut kesal, Mama Diana malah terkekeh, membuat Dirga menatapnya kesal. “Mama kenapa ketawa?” 


“Jadi ceritanya kamu cemburu?” 


Dirga membungkam, membuat tawa Mama Diana pecah. 


“Dirga ... Dirga ... Segitu cemburunya kamu tapi masih mengaku belum cinta?”


***