
Kata orang aktivitas bercinta dapat menumbuhkan benih-benih kasih sayang antara pasangan, serta mendekatkan satu sama lain dan membentuk ikatan batin. Mentari benar-benar telah membuktikannya.
Pagi ini ia terbangun dengan tubuh lelah setelah semalam menyerahkan dirinya kepada seorang lelaki yang baru menjadi suaminya, dan seluruh pikirannya turut membenarkan bahwa setiap sentuhan hangat yang ditinggalkan Jeff pada tubuhnya mampu menghidupkan hatinya yang pernah mati.
Dalam balutan selimut tebal, ia menggeliat. Kegiatan semalam masih menyisakan rasa aneh di pangkal pahanya. Tetapi tentu saja itu tak ada artinya, dibanding kepuasan dan rasa bahagia yang ia dapatkan dari aktivitas itu.
Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman, saat mendapati punggung kokoh telanjang yang sedang berdiri menghadap jendela. Hanya handuk putih sepanjang lutut yang melilit pinggang. Rambutnya yang tampak masih basah menjelaskan bahwa suaminya itu baru saja mandi.
“Kak Jeff seksi sekali pagi ini.” Begitu ucapan Mentari yang hanya berani ia ungkapkan dalam hati.
Masih dengan gaun malam tipis berenda pemberian Giany, ia bangkit dari tempat tidur yang berantakan akibat aktivitas semalam. Tanpa ragu Mentari melingkarkan tangan pada pinggang Jeff hingga jemarinya saling bertaut di depan perut sang suami. Kemudian dengan manja menyandarkan kepala di punggung kokoh itu. Aroma segar dari tubuh Jeff semakin menenangkan perasaannya.
“Kamu sudah bangun?” Jeff menolehkan kepala ke kiri. Namun, tubuhnya tak bergerak dan memilih menikmati pelukan istrinya. Kapan lagi bisa mendapatkan sambutan pagi yang membahagiakan seperti ini?
“Huum.” Sebuah jawaban singkat yang menggambarkan keinginannya untuk berlama-lama berada dalam posisi nyaman itu. Ia bahkan membenamkan pipi kanannya semakin dalam pada punggung suaminya. “Kak Jeff sudah bangun dari tadi?”
“Iya. Kamu kan tahu aku selalu bangun lebih awal.” Satu kemajuan lagi dalam hubungan mereka. Jeff tak lagi menggunakan bahasa formal seperti biasanya. Mengganti ‘saya’ menjadi ‘aku’. Selain itu Jeff kadang menyematkan panggilan ‘sayang’ kepadanya.
Mentari mengangguk tanpa merubah posisi. Ia memang tahu kebiasaan suaminya. Pada hari biasa, Jeff lebih cepat bangun dan berangkat bekerja lebih awal dibanding karyawan lain, dan biasanya di akhir pekan seperti sekarang, laki-laki itu memilih untuk berolahraga pagi di taman tak jauh dari apartemen.
“Tumben masih di kamar pagi-pagi. Biasanya kan Kak Jeff olahraga di hari minggu.”
Jeff melepas tangan Mentari yang melingkar di perutnya sejak beberapa menit lalu, dan memposisikan wanita itu tepat di hadapannya.
Bibirnya menyeringai tipis menatap mahakaryanya semalam yang terlihat jelas di bagian leher dan dada Mentari. Melihat wajah polos itu, hatinya serta-merta memuji kecantikan istrinya yang tampak sangat alami saat baru terbangun dari tidurnya.
Dada bidang Jeff seolah menjadi tempat bersandar ternyaman di dunia. Bahkan kini Jeff sedang mengusap rambutnya dan kemudian bergerak turun ke punggung, yang membuat Mentari semakin betah berlama-lama dalam posisi itu.
Bahkan raut wajah tak rela terlihat sangat jelas saat Jeff mengurai pelukannya.
“Aku masih mau dipeluk.” Begitu tatapan Mentari berbicara. Tetapi tentu saja ia masih malu untuk mengatakannya.
“Kamu mandi dulu, terus kita sarapan.”
Wanita itu masih diam, membuat Jeff menatapnya heran.
"Kamu mau mandi sendiri apa aku yang mandikan?"
Mentari gelagapan. Semakin merah saja wajah polosnya.
.
.
.
.