HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kebenaran Tersembunyi!



Merasa tertipu. Hanya itu yang kini dirasakan oleh Dirga. Kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu. Dua tahun lamanya ia hidup dalam tipuan dan kebohongan oleh istrinya sendiri. 


Pernikahannya dengan Alika sejatinya memang hanyalah penebus rasa  bersalah. Sebagai adik kandung dari pria yang dituduh membunuh tunangan dan juga merampas kehormatan Alika, Dirga akhirnya menjadi penutup aib. Mengorbankan dirinya untuk menebus kesalahan fatal yang dilakukan kakaknya. 


Tak pernah  terlintas dalam benak Dirga  bahwa semua hanyalah tipuan Alika dan Hito semata untuk mengeruk kekayaan keluarganya. Selama ini, Dirga memberi Alika kebebasan untuk melakukan apapun. Bahkan ia menutup mata dan telinga untuk semua kesalahan yang dilakukan istrinya itu. 


“Dirga, dengar aku dulu!” Langkah Alika terhenti ketika Dirga membuang pandangan ke arah lain. Pria itu bahkan tampak tak sudi menatap wanita yang masih berstatus istrinya itu. 


Cairan bening mulai menggenangi bola mata Alika. Tatapannya  kini tertuju kepada sosok wanita yang tengah berdiri di sisi suaminya. 


Lula .... 


Tangan Alika mengepal. Kebencian semakin dalam menjalar di hatinya. Baginya Lula tak lebih dari batu sandungan yang menghalangi setiap langkahnya. Bahkan semua kejadian hari ini sudah terencana dengan matang oleh madunya itu. 


“Perempuan licik! Pasti kamu kan, yang merencanakan semua ini?” 


Bibir Lula melengkung membentuk senyuman, kepalanya menggeleng pelan. “Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengikuti permainan kalian. Bukannya  tadi pagi kalian janjian untuk bertemu? Aku hanya mengajak Mas Dirga makan siang di restoran ini dan tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Salah sendiri kenapa saling teriak.” 


“Perempuan sial!” Alika hendak menyerang Lula, namun dengan  cepat Dirga berdiri membelakangi Lula dan menjadi tameng dari serangan Alika.  


“Jangan coba menyentuhnya!” Suara bentakan Dirga menggema membuat tubuh Alika tersentak. Wanita itu tak lagi memiliki keberanian untuk membela diri. 


Di sisi lain, Hito masih tertunduk lesu dengan kulit wajah memucat. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan penuh amarah. 


Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Hito. 


Pak Samudra, ayah dari mendiang Vino itu tak pernah menaruh curiga terhadap asisten putranya. Selama ini, baginya Hito adalah pengganti putranya. Bahkan ia sempat ingin menjadikan Hito sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan miliknya. Namun, kenyataan pahit yang ia dapati hari ini telah mengubah segalanya. 


 Jika saja tidak ingat dosa, mungkin pria dengan rambut memutih itu sudah membunuh pelaku pembunuhan anaknya. 


“Saya pastikan kamu akan membusuk di penjara. Kamu tidak hanya menghilangkan dua nyawa sekaligus, tapi sudah menghancurkan hubungan dua keluarga. Tidak akan ada pengampunan untuk itu.” 


Hito terdiam dan tak kuasa walau hanya untuk mengusap wajahnya yang terasa kebas dan memerah akibat tamparan keras yang menghantam pipi kanannya. 


Bukan hanya kehadiran Dirga dan Pak Samudra yang membuatnya kehilangan segenap nyali besar layaknya ketika menghabisi nyawa Vino dan Azka tanpa belas kasih. Kehadiran Jeff pun membuat bulu kuduknya merinding.


Membuat Hito memejamkan mata diiringi hela napas frustrasi. Restoran mewah tempatnya kerap bertemu secara diam-diam dengan Alika menjadi saksi bisu. 


Tubuh Hito membentur menghantam meja makan sehingga membuat benda apapun yang ada di atasnya menghambur ke lantai. Tanpa ampun, Dirga menghujani tubuh pria itu dengan kepalan tinju. Rasa sakit akibat serangan bertubi-tubi dari Dirga tak memberinya kesempatan untuk membalas. 


“Kamu tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini!” teriak Dirga melampiaskan amarah. Satu hadiah tinju ia benamkan ke perut yang akhirnya menumbangkan Hito. Pria itu tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir di sudut bibirnya. 


“Mas, sudah!” Lula memeluk Dirga. Menahan tubuh suaminya agar tak sampai lepas kendali dan hanya akan merugikannya. 


Entah setan apa yang merasuki hatinya hingga rasanya ingin membalas kematian kakaknya dengan cara yang sama. 


“Lepaskan aku, Lula!” teriak Dirga berusaha melepas tangan Lula yang melingkari tubuhnya. Akan tetapi, semakin Dirga ingin melepas, semakin erat Lula memeluknya. 


“Jangan kotori tangan kamu dengan darah pendosa itu, Mas,” bujuk Lula. “Setidaknya kalau kamu tidak memikirkan aku, pikirkan anak kamu, Zav.” 


Dirga seketika tersadar ketika mendengar nama putranya. Ia memeluk Lula demi mengurai rasa marah yang memenuhi hatinya.  


Lula masih memeluk suaminya ketika Dokter Allan tiba bersama beberapa orang anggota kepolisian.


"Kalian tidak apa-apa, kan?" tanya sang dokter menatap satu-persatu orang di dalam ruangan itu. "Lula, kamu tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Kak." Lula melepas pelukan, kemudian berjalan menuju meja makan dan mengeluarkan sebuah alat perekam suara yang telah diletakkan sebelumnya oleh orang suruhan Dokter Allan.


Allan melirik Hito yang sudah terkapar di lantai.


"Silahkan, Pak. Itu orangnya." Allan menunjuk Hito dan Alika, membuat beberapa anggota kepolisian menarik tubuh Hito dan membantunya berdiri.


Pria itu tampak pasrah ketika dua orang berseragam hendak membelenggu tangannya dengan besi berbentuk lingkaran. Namun, belum sempat borgol melingkar sempurna di pergelangan tangannya, Hito sudah menarik senjata api dari holster pinggang seorang polisi.


Dengan gerakan tak terduga, Hito menarik Lula dan melingkarkan lengannya kirinya di leher wanita itu. Sementara tangan kanannya memegang senjata yang ia arahkan ke pelipis Lula.


Menciptakan suasana panik dan mencekam.


"Jangan ada yang bergerak, atau saya tembak dia!"


****