HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Jeff Dan Mentari



Beberapa minggu kemudian .... 


Mentari belum sepenuhnya percaya bahwa wajah cantik dalam balutan gaun putih yang tampak pada pantulan cermin adalah benar-benar dirinya. 


Ya, hari ini adalah resepsi pernikahannya dengan Jeff. 


Seharusnya ini hari yang membahagiakan, tapi entah mengapa ada kesedihan yang tersembunyi dalam tatapannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia merasa belum memiliki perasaan apapun terhadap Jeff. Tetapi pria yang setahunya dingin dan kaku itu datang bagai kejutan dan menawarkan kebahagiaan. Dan hari ini, telah ia mempertaruhkan hidupnya di tangan seorang Jeff Abraham. 


“Wah, Mentari cantik, deh!” ucap Giany yang sejak tadi menemaninya dirias. 


“Makasih, Kak Giany.” 


“Senyum dong! Dari tadi kok murung?” Wanita itu dapat melihat kesedihan yang sejak tadi berusaha ditutupi oleh Mentari dengan diamnya. 


“Iya, Mbak Giany benar,” ucap wanita yang sedang memoles wajah Mentari. “Mbak Mentari itu beruntung loh. Mas Jeff itu sudah bule ganteng, baik, banyak uang, sayang lagi sama Mbak Mentari. Kalau saya jadi Mbak Mentari, saya pasti kegirangan dapat suami seperti Mas Jeff.” 


Dua wanita itu tertawa kecil, membuat Mentari menarik senyum di sudut bibirnya. Hatinya pun turut membenarkan ucapan mereka. Sejak masih bersama Azka dulu, Jeff memang sosok lelaki yang baik dalam pandangannya. 


Tidak banyak laki-laki seperti jeff, yang tidak pandai mengumbar janji dan cinta, tetapi menunjukkan dengan perbuatan. 


“Mbak, sudah selesai.” Sang perias menatap wajah Mentari demi memastikan lagi bahwa riasannya terlihat sempurna. 


“Terima kasih, Mbak.” 


“Sama-sama. Kalau begitu saya ke depan dulu, ya.” 


Wanita itu pun segera beranjak dari ruang rias. Meninggalkan Mentari dan Giany berdua di ruangan itu. 


“Kak Giany, boleh saya tanya sesuatu?” 


“Boleh.” 


“Tapi mungkin pertanyaan saya agak pribadi. Apa Kak Giany tidak keberatan?” 


Selama beberapa saat Mentari terdiam seolah mencari kata yang tepat agar pertanyaannya tak sampai menyinggung wanita itu. 


Ia menarik napas dalam. “Apa Kak Giany menikah dengan Dokter Allan karena saling cinta?” 


Mendapat pertanyaan demikian, wanita cantik berkerudung itu langsung menatap Mentari. Sambil  tersenyum, ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. 


“Sebenarnya tidak.” 


Kening Mentari berkerut mendengar ucapan Giany. Tanda tanya pun mulai memenuhi pikirannya. Bagaimana mungkin pasangan yang di matanya sangat sempurna itu menikah tanpa rasa cinta. 


“Tapi Kak Giany dan Dokter Allan sangat bahagia. Kalau tidak saling cinta, bagaimana bisa bahagia?” 


“Cinta akan tumbuh kalau kamu mau belajar membuka hati. Kalau kamu menutup diri, bagaimana bisa menerima sesuatu?” 


Sebuah jawaban yang membuat Mentari merenung beberapa saat. Memikirkan sudahkah ia berusaha membuka hatinya untuk Jeff? Namun, nyatanya tidak. Karena bayang-bayang masa lalu masih melekat di hatinya. 


“Tapi bagaimana bisa kita menerima seseorang yang tidak pernah ada di hati kita?” 


“Mentari ... menikah itu ruang belajar seumur hidup. Belajar menerima orang asing dengan pemikiran yang berbeda untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Menerima kekurangan dan menutupinya dengan kelebihan. Saling mengingatkan kalau salah satu berbuat salah dan menurunkan ego supaya dua karakter berbeda itu bisa sinkron.” 


“Apa dengan begitu cinta bisa tumbuh?” 


“Seharusnya tidak ada lagi keraguan di hati kamu untuk bahagia. Cinta atau tidak ... hari ini, setelah Jeff mengucapkan janji pernikahan atas namamu, artinya kamu sudah terikat lahir batin dengannya.” 


Mentari terdiam. 


“Mentari ... Sekarang tidak ada lagi jarak antara kamu dan dia. Jadi selami hatinya sedalam mungkin, supaya kamu bisa memahami.” 


***