HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Bonus 02



Mentari menata makanan di atas meja. Sementara Jeff yang duduk di kursi memperhatikan gerakan cepat istrinya itu. 


“Kak Jeff suka yang mana?” tanya Mentari, melihat beberapa menu berbeda yang ada di meja. 


“Ayam bakar sama sambel saja. Nasinya yang banyak. Petenya tolong kupasin sekalian, ya.” Tanpa basa-basi Jeff meminta, yang mana menciptakan kerutan di kening Mentari. 


“Hah, pete? Bule juga suka makan pete?” Mentari mengatupkan bibir. 


Ia pun mengambilkan menu yang diminta suaminya, kemudian mengupas beberapa petai dan meletakkan di piring. 


“Kenapa kamu senyum-senyum?” tannya Jeff setelah melihat senyum yang coba disamarkan oleh Mentari sejak tadi. 


“Oh ... Em, tidak!” Ia gelagapan. “Kak Jeff suka makan pete ya?” 


“Memang kenapa?” 


“Tidak apa-apa. Biasanya kan bule itu tidak suka rasa dan bau pete.” 


Jeff hanya merespon dengan mengangkat bahu. 


“Segini cukup?” Ia menggeser piring ke hadapan suaminya. 


Jeff menganggukkan kepala. Mencuci tangan dan mulai makan. Hal yang membuat Mentari kembali terheran. Suaminya itu makan hanya dengan menggunakan tangan. Tampak sangat menikmati. 


Ini adalah pertama kalinya mereka makan bersama. Karena sebelum pindah ke rumah Dokter Allan, Jeff lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Sehingga pertemuannya dengan jeff sangat jarang terjadi meskipun tinggal dalam satu atap. 


“Makan yang banyak!” Jeff menyendokkan beberapa menu ke piring istrinya. “Kamu bisa kurus kalau makannya sedikit begini.” 


“Makasih, Kak.” Ia tersenyum tipis, sesekali melirik Jeff yang duduk di sisinya yang makan dengan begitu lahap. 


Gadis itu tersenyum. Tidak menyangka bahwa ada sosok sederhana di balik pria dingin dan datar yang terkadang terlihat sombong. 


.


.


.


.


Mentari masuk ke dalam kamar setelah selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring. Ia melirik ke arah kamar mandi. Mendengar suara gemercik air, ia pun meyakini bahwa suaminya sedang mandi. 


Ia meraih koper dan mengeluarkan semua pakaian miliknya dan merapikan di atas tempat tidur sebelum memasukkan ke dalam lemari. Namun, begitu membuka lemari, ia tercengang menatap isinya. Lemari pakaian milik Jeff cukup berantakan. Berbanding terbalik dengan kamar yang selalu rapi. 


“Lemarinya berantakan, ya?” 


Mentari terlonjak mendengar suara suaminya yang tiba-tiba hadir di sana. Ia langsung menoleh kepada Jeff. Spontan ia menutup matanya ketika menatap Jeff yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi area pribadinya. Jangan lupakan dada bidang putih yang tampak sangat seksi. 


“Sa-ya malu, Kak,” jawabnya dengan suara gugup. Membalikkan tubuhnya dan berdiri membelakangi Jeff. 


“Nanti juga terbiasa melihat saya seperti ini,” ucap Jeff santai. “Maaf ya, lemari saya berantakan. Soalnya kalau ambil pakaian yang di tengah, langsung ditarik. Jadi bagian atasnya langsung berantakan.” 


Mentari tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Saya rapikan lemarinya setelah ini.” 


“Besok saja. Malam ini istirahat saja dulu. Kamu pasti capek.” 


Mentari mengangguk. 


“Oh ya, yang satunya itu lemari pakaian kamu.” Jeff menunjuk lemari satunya. 


“Iya, Kak.” 


Mentari langsung membuka pintu lemari yang satu. Ia pun kembali tercengang. Betapa tidak, lemari pakaian berukuran besar itu dipenuhi dengan pakaian-pakaian wanita yang baru dan bagus. 


“Itu Mami yang isi. Katanya untuk kamu semua.” 


“Iya, Kak. Ma-makasih.” 


“Kamu kenapa sih, kaku begitu?” 


Jeff mendekati istrinya, membuat wanita itu seketika menundukkan pandangan, menyembunyikan merah di pipinya. Apa lagi Jeff belum mengenakan apapun, selain handuk putih yang melilit pinggangnya. 


Sesuatu pun menarik perhatian Mentari. Ketika melihat bekas luka di dada suaminya. Tempat yang sama seperti luka sobekan yang dialami pria yang menolongnya beberapa tahun lalu.


"Kenapa ada bekas luka ini di dada Kak Jeff. Apa jangan-jangan ...." Mentari mulai menerka-nerka dalam hati, meskipun belum berani menyimpulkan.


"JA? Bukan Jayden Azka. Tapi Jeff Abaraham?"


Hampir saja wanita itu menjatuhkan air mata, namun sebisa mungkin ia tahan.


"Apa jangan-jangan aku sudah salah orang? Bukan Mas Azka yang selalu mengikutiku, tapi Kak Jeff?"


Tangan Jeff melingkar di pinggang yang membuat Mentari semakin gemetar. Aroma segar dari tubuh sang suami terasa menghipnotisnya. Satu tangan Mentari sudah menahan dada bidang suaminya ketika pria itu semakin merapatkan tubuhnya. 


Perlahan kelopak Mata Mentari terpejam ketika merasakan hangat dan lembutnya bibir Jeff menyentuh keningnya. 


*


*


*