
Lula berdiri dengan posisi tangan bertumpu pada wastafel, menatap pantulan wajahnya yang tampak memucat melalui sebuah cermin. Lalu menyalakan kran air dan membungkuk, membasuh wajahnya dengan air.
Sudah beberapa menit waktunya ia habiskan di toilet dan merenung. Namun tak kunjung dapat menetralkan perasaannya.
“Tapi dia tidak pernah macam-macam sama kamu, kan?” Ucapan Dirga yang seakan meragu terus menghantui pikirannya.
"Apa Mas Dirga lupa kalau dia laki-laki pertama menyentuh aku? Dia sampai mencecarku dengan pertanyaan itu?"
Ia menatap cermin lagi. Bola matanya mulai tergenang oleh kristal bening. Betapa pertanyaan Dirga telah menggores luka di hatinya.
"Seharusnya Mas Dirga tahu itu, kan? Sekarang aku harus bagaimana kalau Mas Dirga tidak percaya? Dia akan menuduhku yang macam-macam."
Tanpa dapat dibendung, cairan bening itu lolos juga. Lula meraih selembar tissue dan mengusap air mata yang meleleh di kedua sisi pipinya.
Setelah merasa lebih tenang, wanita itu membenarkan penampilannya. Memoles wajah, kemudian segera beranjak keluar dari kamar mandi dengan langkah lesu. Mungkin di rumah nanti Dirga masih akan mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan.
Aku akan jelaskan semuanya nanti di rumah.
_
"Jadi kamu menikah dengan Dirga, ya?" Suara berat itu membuat langkah Lula terhenti. Tubuhnya terasa meremang saat menyadari siapa yang tengah berdiri di hadapannya. Namun, seperti biasa, ia berusaha untuk tetap tenang.
"Mau apa lagi kamu?" Lula menghela napas kasar. Sangat terlihat jelas dari sikapnya bahwa ia sangat terganggu dengan keberadaan pria itu.
Simon pun berdecak seraya meneliti Lula dari ujung kaki ke ujung kepala. "Aku tidak menyangka loh ... bahwa ternyata kamu tidak sebaik penampilan luarmu."
"Aku tidak ada waktu bicara dengan kamu!" Lula hendak melangkah, namun Simon langsung berdiri di hadapannya.
"Kemana harga dirimu yang tinggi itu? Lihat sekarang seperti apa kamu. Perusak rumah tangga orang!" Ucapan Simon yang menekan kata 'perusak rumah tangga orang' membuat Lula seketika menundukkan pandangan.
Ia sadar, mungkin akan seperti itulah pandangan orang-orang terhadapnya nanti. Terlebih, kini Dirga dan Alika sudah bercerai.
"Itu bukan urusan kamu!"
Lula terdiam. Ingin pergi, tetapi Simon tak memberinya ruang. Pria itu terus saja menghalanginya.
"Oh ya, Lula ... kenapa kamu harus memilih Dirga Mahendra? Kenapa tidak denganku saja? Dirga itu suami orang! Sedangkan aku pria lajang."
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?"
"Yang aku inginkan? Tentu saja kamu!" Ia menunjuk Lula dengan dagunya. "Lula ... kira-kira akan seperti apa reaksi suami kamu kalau tahu kita pernah menghabiskan waktu di hotel? Apa dia akan langsung meninggalkan kamu?"
"Dan kamu pikir suami aku akan lebih percaya dengan kebohongan kamu?" pekik Lula.
"Kita lihat saja nanti. Aku sudah lama berteman dengan Dirga dan dia pasti percaya sama aku. Jadi sebelum Dirga meninggalkan kamu, lebih baik kalau kamu kembali kepadaku saja."
Lula membuang pandangan ke sembarang arah. Rasanya udara dalam ruangan itu tak cukup baginya untuk bernapas. Detik itu juga, sepasang bola matanya membulat, saat menyadari kehadiran Dirga di sana.
"Mas?"
Simon menoleh. Senyum licik terbit di sudut bibirnya, apa lagi saat menyadari tatapan tajam yang diarahkan Dirga kepada Lula. Sangat jelas kemarahan yang tertahan di wajahnya.
Sementara Lula sudah menunduk dengan bola mata berkaca-kaca. Tak pernah sebelumnya Dirga menatapnya sedingin sekarang, bahkan dalam keadaan marah sekali pun.
Simon hendak membuka suara. Ini adalah kesempatan emas baginya dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Dirga ... sepertinya kamu belum tahu tentang ...."
BUGH!!!
Hanya dengan satu kepala tinju dari Dirga, Simon sudah terjerembab ke lantai.
***