HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Bonus 03



Mentari membeku. Rasa hangat dan damai yang tercipta membuatnya merasa tak ingin untuk beranjak dari posisi ini. Dengan lembut, Jeff mengelus puncak kepalanya, kemudian turun ke wajah. Pria itu menatap lekat wajah istrinya yang tampak sangat cantik alami tanpa balutan make up. 


Jeff menundukkan kepalanya hingga posisi bibir mereka hanya berjarak satu ruas jari. Namun, tiba-tiba .... 


Ting Tong! Suara bel berbunyi yang membuat keduanya langsung tersadar. 


“Ada tamu, Kak,” ucap Mentari. 


Jeff melepas tangannya yang melingkar di pinggang istrinya, lalu menatap ke arah pintu. Ribuan makian mengiringi sepanjang pria itu menuju pintu. Ia bahkan bertekad dalam hati akan memaki siapapun yang telah menggagalkan ciuman pertamanya. 


Pintu terbuka! Tampak wanita cantik dengan gaun indah berdiri di ambang pintu. 


“Ah, Mas Jeff sama Mbak Mentari baru mau mulai ya?” seloroh Shanty melihat Jeff hanya menggunakan handuk saja, sementara Mentari masih berpakaian lengkap. “Kirain saya telat.” Ucapan Shanty pun menambah rona merah di pipi Mentari, tetapi sebaliknya, Jeff malah tampak kesal. 


“Mau apa kamu kemari, Shantoso Aji Kusumo?” tanyanya seraya menyebutkan nama lengkap wanita itu. 


“Mas Jeff mah galak-galak seksoy, suka deh!  Ah, Mbak Mentari ... dadanya Mas Jeff itu loh, bikin merinding disko.” Ia tertawa setelah mengucapkan kalimat rayuannya. 


“Cepat bilang kamu mau apa mengetuk pintu saya. Kamu lupa kalau unit kamu di sebelah?” Ia menunjuk pintu di sebelah kirinya. 


“Itu kan unitnya Mas Dirga.” 


Semakin kesal saja Jeff dengan ulah tetangganya itu. “Ya sudah, sekarang balik ke unit kamu.” 


“Saya cuma mau ngasih ini buat Mbak Mentari.” Shanty menyerahkan sebuah paper bag ke tangan Mentari. “Itu dari Bu Giany, katanya tadi mau ngasih tapi keburu Mbak Mentari sama Mas Jeff pulang.” 


“Makasih, Mbak Shan.” 


“Sama-sama. Mbak Giany bilang, nanti langsung buka di kamar.” 


Mentari mengangguk diiringi senyum. Juga merasa penasaran benda apa yang dititipkan Giany kepada shanty untuknya. 


“Cuma itu?” 


“Ada pesan juga dari Mas Dirga yang ganteng.” Ia masih bergelayut manja di pintu. 


“Apa pesan Pak Dirga?” 


“Katanya jangan kenceng-kenceng, Mas Jeff. Kasihan anak perawan.” 


Membuat Jeff menarik napas dalam dan melirik istrinya. “Mentari, kamu masuk ke kamar duluan. Saya ada ada urusan penting dengan makhluk ini.” 


Mentari mengangguk mengerti. “Baik, Kak Jeff. Saya duluan, Mbak Shan.” Mentari tersenyum tipis, sebelum beranjak meninggalkan suaminya dengan wanita jadi-jadian itu. 


“Shan ... kamu lihat pedang di dinding itu?” Jeff menunjuk sebuah pedang khas Jepang yang menggantung di dinding, membuat Shanty mengangguk antusias. 


“Tidak. Tapi saya pernah coba menebas batang pohon pisang dengan itu. Kalau kamu tidak kembali sekarang juga ke unit kamu sendiri, saya tebas batang kamu lengkap dengan tunas-tunasnya.” Ucapan Jeff yang mengandung nada ancaman itu membuat bulu kuduk Shanty meremang. 


“Kabuurr! Ahahah!” teriaknya dengan suara bas yang berat, diiringi suara tawa yang perlahan menghilang di balik pintu. 


Jeff pun segera menutup pintu dan kembali ke kamar. Mentari tak terlihat, sepertinya sedang berada di kamar mandi. 


.


.


.


.


Sementara itu di dalam kamar mandi ....


Mentari belum dapat menguasai perasaannya akibat sebuah dugaan mengejutkan yang ia dapati malam ini. Dengan bersandar di dinding kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin.


"Bagaimana mungkin aku bisa salah orang? Aku mengira laki-laki itu Mas Azka. Padahal dia adalah Kak Jeff?"


Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Melihat semua bukti yang ada, berikut bekas luka di dada Jeff, ia pun meyakini bahwa dirinya telah salah mengira selama ini. Nyatanya pria yang rela mengorbankan nyawa demi dirinya ternyata adalah suaminya, Jeff Abraham.


Beberapa saat berlalu. Mentari mulai dapat menetralkan perasaannya. Yang terpenting sekarang adalah, segalanya belum terlambat. Ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya.


Wanita itu pun melirik sebuah paper bag yang tadi diberikan Shanty. Sebuah paket yang katanya dari Giany, istri Dokter Allan.


"Ini apa ya? Kenapa Kak Giany harus titip sama Mbak Shanty?"


Merasa penasaran, Mentari pun mengeluarkan kotak dari dalam paper bag.


Mendadak wajah Mentari memerah setelah membuka kotak itu. Bagaimana tidak, sebuah gaun tidur tipis berwarna pink lembut baru saja ia keluarkan dari sebuah kotak. 


Seraya menarik napas dalam, ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan pakaian tersebut di tangannya. Mentari pun mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam kotak. 


“Hilangkan dulu jarak antara kamu dan dia.” 


Pipi Mentari kembali memerah. Tentu saja ia paham apa maksud dari catatan kecil itu. 


*


*


*