HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Mulai Detik Ini ....



"Jangan ada yang bergerak atau saya tembak dia!" ancam Hito dengan menodongkan ujung senjata api ke pelipis kanan Lula.


Semua orang yang ada di ruangan itu seketika mematung, menciptakan keheningan yang menegangkan.


"Aku bilang jangan ada yang bergerak!" teriak Hito sekali lagi, ketika melihat Dirga hendak melangkah ke arahnya.


Dirga pun mengangkat tangan sejajar dengan dada, seiring dengan kakinya yang bergerak mundur beberapa langkah. Sambil memikirkan cara menyelamatkan istrinya, sebab salah bergerak sedikit saja, nyawa Lula bisa terancam. Dan Dirga benar-benar tak ingin itu terjadi.


Ia memberi isyarat kepada semua orang yang ada di dalam ruangan untuk mengikuti keinginan Hito.


"Tolong semuanya!" Dirga melirik Dokter Allan dan Jeff sambil menggerakkan tangannya ke bawah, seolah meminta untuk tidak gegabah.


Lula yang terlihat menarik napas dalam-dalam. Meskipun berada di bawah ancaman yang menakutkan, tetapi wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Hanya kelopak matanya yang bergerak-gerak seolah memberi sebuah isyarat.


"Lepaskan Lula, Hito! Dengan bertindak seperti ini dan melawan hukum hanya akan memberatkan hukuman kamu!" ucap Jeff mencoba mengingatkan. Namun, Hito tak peduli.


Pria itu akan melakukan apapun untuk bisa keluar dari ruangan itu meskipun harus membunuh satu orang lagi. Hito melirik beberapa petugas kepolisian yang juga tengah menodongkan senjata ke arahnya.


"Serahkan senjata kalian! Saya tidak main-main akan membunuh wanita jika ada yang mencoba menghalangi!" Tubuh Lula tersentak saat Hito semakin menekan ujung senjata itu di kepalanya.


Tak ingin mengambil resiko, para polisi itu pun menurunkan tangannya secara perlahan, seakan benar-benar menyerah. Satu persatu polisi sudah melempar senjata api miliknya ke hadapan Hito.


"Alika, ambil itu!" perintahnya membuat Alika seketika tersadar. Wanita itu pun menunduk dan meraih beberapa senjata dan memasukkan ke dalam tasnya.


Namun, salah satu dari anggota polisi cukup lihai, saat akan melempar senjatanya, pria itu dengan cepat melepas tembakan ke arah Hito dan tepat mengenai lututnya.


Membuat teriakan histeris menggema di ruangan itu. Rasa sakit tak terkira seketika menjalar saat timah panas itu menembus kulit, membuat Hito tak kuasa menahan. Senjata api yang berada di genggamannya pun terjatuh ke lantai.


Melihat adanya kesempatan, Dirga pun menerjang, menghantam wajah Hito dengan kepalan tinju, membuat Hito terjerembab ke lantai.


Dirga menarik Lula ke dalam pelukannya. Sementara yang lain segera membekuk pria itu.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Dirga mengeratkan pelukan demi melepas segala rasa khawatir dan takut yang tadi dirasakannya.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya terkejut."


"Maafkan aku." Hanya itu yang dapat terucap dari mulut Dirga, seraya mencium kening istrinya berulang-ulang.


Di sisi lain, Alika yang menyadari semua orang sedang terfokus kepada Hito berencana untuk segera melarikan diri. Namun, langkah kakinya terhenti melihat Jeff berdiri di sana.


"Mau kemana kamu? Jangan harap ada jalan untuk melarikan diri."


Membuat wanita itu mematung, memeluk tas dengan erat di dadanya.


.


.


.


Suasana sudah lebih tenang di ruangan itu. Hito tampak meringis menahan rasa sakit. Timah panas telah bersarang di lutut sebelah kanan.


Beberapa anggota kepolisian pun membawa Hito keluar. Sementara Alika masih diperiksa di sudut lain.


Dirga terdiam. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Hanya sorot mata tajam dan dingin yang ia arahkan kepada Alika.


Meskipun hingga saat ini Alika masih berstatus istrinya, namun perbuatan Alika sama sekali tak dapat diterima akal sehatnya. Dibohongi, ditipu dan diperas hartanya mungkin bukan sesuatu yang terlalu berarti bagi pria itu. Tetapi nyawa dua orang seakan mereka jadikan permainan.


Dan semua itu membuatnya merasa sangat marah. Jika saja bisa, akan ia hapus semua ingatan tentang Alika.


"Tunggu!" panggil Dirga ketika melihat beberapa polisi menggelandang Alika ke pintu keluar. Alika sesekali menoleh, namun dengan kepala tetap menunduk.


Tak kuasa menahan rasa malu setelah semua kebusukannya terbongkar di hadapan banyak orang, terutama di hadapan suaminya itu.


"Alika Radisty ..." Dirga menarik napas dalam-dalam sebelum berkata,


"Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya."


****