
“Tapi Bu Alika mencari kamu, Mas.”
“Nanti juga capek sendiri dia.”
Suara panggilan dari Alika sudah terdengar beberapa kali. Namun, Dirga seolah tak peduli. Bahkan ketika mendengar suara ketukan pintu, ia hanya meletakkan jari telunjuk di depan hidung.
Hingga akhirnya, perlahan panggilan itu tak lagi terdengar. Mungkin Alika sudah lelah dan memilih kembali ke kamar.
"Iya kan, capek sendiri."
Dirga menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Baby Zav. Tangannya bergerak mengusap-usap puncak kepala dengan penuh kelembutan dan sesekali membenamkan kecupan sayang di kening. Ia menepuk-nepuk tubuh mungil itu dengan pelan.
Dan, benar saja. Hanya dalam hitungan beberapa menit, Zav sudah terlelap dalam buaian sang ayah, membuat Lula cukup terheran dibuatnya.
“Benar kan, dia mau tidur sama ayahnya.”
“Iya, Mas.”
Dirga menatap lekat wajah Lula, membuat wanita itu menundukkan pandangan. Satu hal yang Dirga tahu, Lula punya satu kebiasaan saat sedang merasa malu, yaitu menggigit bibir bawahnya.
Ya ampun, kenapa harus digigit bibir bawahnya coba? Ujian banget!
Dengan raut wajah setengah frustrasi, Dirga menjatuhkan kepalanya di bantal, menatap langit-langit kamar dan memejamkan mata.
Separuh malam pun terlewati. Baby Zav yang tadinya berada di antara Dirga dan Lula kini sudah berada di tepi.
Dirga terlelap dengan tangan melingkar di pinggang Lula. Ia tak peduli lagi, meskipun esok pagi mungkin Alika akan mengomel karena suaminya memilih tidur di kamar madunya.
.
.
.
Satu bulan berlalu sejak Lula tinggal di rumah Dirga. Selama satu bulan itu pula, ia harus setiap hari merasakan kebencian Alika. Namun, Lula menjelma menjadi sosok wanita kuat di mana ia kerap membalikkan semua perlakuan buruk Alika dan akhirnya menjadi bumerang untuk Alika sendiri.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Lula sudah berada di dapur untuk membuat sarapan. Sejak Lula tinggal di rumah, kegiatan itu lah yang sehari-hari dilakukannya.
Hal yang membuat Dirga lebih betah berada di rumah. Karena kini ada sosok malaikat cantik yang menyambutnya dengan senyuman hangat.
Terlebih kehadiran putra kecilnya, Zavdiel Abercio Mahendra yang membuat hidupnya tak lagi kelabu.
"Mau tambah, Mas?" tanya Lula.
"Boleh."
Layaknya seorang istri yang baik, Lula melayani suaminya di meja makan. Dirga meraih segelas air putih yang baru saja dituang Lula dan meneguknya hingga tandas.
"Terima kasih. Nasi goreng buatan kamu selalu enak."
Tanpa sadar Dirga memuji, tak lagi mengindahkan kekesalan di wajah Alika yang duduk di sisinya.
"Selamat pagi semua ..." Suara Mama Diana menyapa di pagi itu.Dirga, Lula dan Alika menoleh ke sumber suara.
Jika Dirga dan Lula tampak senang dengan kedatangan Mama Diana, namun Alika malah sebaliknya. Ia meraih segelas air putih setelah memutar bola matanya dengan malas.
"Selamat pagi, Mama. Mari ikut sarapan," ajak Lula dengan sopan.
"Mama sudah sarapan, Sayang. Mama kemari untuk lihat cucu mama. Di mana Zav?"
"Ada di taman belakang, Mah. Suster Vira lagi jemur," jawab Lula.
"Ya sudah, Mama mau lihat dulu ya." Namun, sebelum beranjak menuju kamar, Mama Diana menatap putranya yang kini terlihat lebih berisi.
Betapa tidak, keberadaan Lula di rumah membuat Dirga termanjakan dalam hal perut. Pagi dan malam ia akan memasak untuk sang suami dan siangnya terkadang mengirimkan makanan melalui sopir jika Dirga tak sempat pulang untuk makan siang.
"Dirga, sekarang kamu gemukan, ya."
"Iya, Mah. Baju sama celana jadi sempit semua," jawab Dirga santai.
"Wah, sepertinya Lula merawat kamu dengan sangat baik." Sambil melirik Alika dengan ekor matanya.
Tentu saja Alika merasa tersindir. Ia menarik napas dalam mendengar pujian yang disematkan Mama mertua untuk Lula. Apa lagi dengan seenak hatinya, Mama Diana berjalan menuju taman belakang tempat cucunya berada.
Tanpa sepatah katapun, Alika segera beranjak menuju kamar. Rasa kesal dan marah menyatu dalam hatinya. Mama Diana dan Lula seolah mengibarkan bendera perang dan berkomplot untuk membuat Dirga perlahan menjauh darinya.
Alika mengeluarkan ponsel dari dalam tas, kemudian mencari salah satu nama dalam daftar kontaknya. Ia mendekatkan ponsel ke telinga, menggerutu kesal menunggu panggilannya dijawab.
"Ada apa kamu hubungi aku pagi-pagi?"
"Aku tidak bisa seperti ini terus. Kamu harus gerak cepat!"
...