
"Di salon langganan aku."
"Sekarang kamu awasi dia dan cegah jangan sampai dia kemana-mana. Aku akan kirim orang ke sana."
"Cepat Hito! Sebelum dia pergi."
Hito mendengus. Alika tidak pernah bersikap tenang dalam mengerjakan sesuatu dan itu terkadang menjadi penghalangnya.
"Makanya kamu tenang, jangan teriak terus! Selangkah lagi kita sudah berhasil merebut Lintang dari tangan Dirga. Jangan sampai kamu menghancurkan semua rencana kita. Sekarang kamu tahan Lula, jangan sampai dia kemana-mana."
Panggilan terputus. Alika menarik napas dalam demi menenangkan dirinya dari kepanikan. Setelah berhasil menetralkan perasaannya, barulah ia turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam bangunan berlantai dua itu.
Pandangan Alika menyapu seisi ruangan tempat tadi Lula menjalani perawatan. Madunya itu sudah tak terlihat di sana. Hanya ada beberapa teman Alika yang seketika menatap ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki.
Alika membeku, ketika tatapan tiga teman sosialitanya itu tak lagi ramah terhadapnya.
"Kalian kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Alika.
"Tidak apa-apa." Salah satu dari mereka menjawab. "Oh ya, Al ... apa benar apa yang dikatakan wanita tadi tentang kamu?"
Rahang Alika mengeras mendengar ucapan temannya. "Kalian jangan sembarangan percaya. Dia benar-benar licik ya. Sudah merebut suami orang, sekarang menuduh sembarangan."
"Tapi kalau kamu memang tidak salah, kenapa sepertinya kamu yang takut?" tanya seorang teman lagi.
"Aku hanya tidak suka semua tuduhannya."
Alika menghampiri karyawan salon yang tadi melayani Lula.
"Mbak, wanita tadi ke mana?"
"Maaf, Bu ... dia sudah keluar beberapa menit lalu."
Alika menggigiti kuku-kukunya, dengan bola mata yang memutar kesana-kemari. Dadanya terlihat naik turun seiring dengan napasnya yang tiba-tiba menjadi lebih cepat. Menyalahkan dirinya yang lalai hingga kehilangan jejak Lula.
"Memang kenapa kamu mencari dia, Al?" tanya teman Alika, membuat wanita itu tersadar dari lamunan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengira dia masih di sini."
Tanpa permisi, Alika segera keluar dari salon. Pandangannya berkeliling ke area parkir dan halaman depan. Namun, sosok Lula tak kunjung terlihat. Alika pun memilih naik kembali ke mobil dan menghubungi Hito.
"Bagaimana?" Suara nyaris frustrasi terdengar dari sana.
"Lula menghilang, Hito. Aku tidak lagi menemukan dia di salon."
"Kamu ini bagaimana sih, Al. Mengerjakan seperti ini saja kamu tidak becus!"
“Ya sudah, sekarang kita bertemu di tempat biasa. Aku akan menunda rapat kali ini. Orang-orangku juga sudah mengarah ke sana untuk mencari Lula.”
Panggilan terputus. Hito menatap Jeff dan Dirga yang terlihat membicarakan sesuatu dengan beberapa orang di ruang rapat.
Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jas, kemudian kembali ke ruang rapat. Ia menatap semua orang yang tengah duduk menunggunya.
“Maaf semuanya. Sepertinya rapat hari ini harus ditunda, saya ada urusan emergency. Mohon pengertiannya.”
Tanpa menunggu jawaban, Hito segera angkat kaki dari ruangan itu. Membuat Dirga dan Jeff saling melempar lirikan.
“Jadi seperti itu calon pengganti Pak Samudra? Tidak bertanggungjawab dengan pekerjaan dan lebih mementingkan urusan pribadi,” ucap Dirga.
Sementara Jeff melirik beberapa anggota rapat siang itu dengan senyuman ramah.
“Maaf semua. Sepertinya rapat memang harus ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.”
.
.
.
Dirga dan Jeff keluar dari ruang rapat. Sepanjang jalan keluar dari gedung kantor milik perusahaan mendiang Vino itu, Dirga menggerutu kesal dengan tingkah Hito yang meninggalkan rapat seenaknya.
"Dia itu apa-apaan sih? Sudah membuat orang menunggu, lalu seenaknya menunda rapat."
"Mungkin ada urusan lebih penting, Pak."
"Saya juga ada urusan yang jauh lebih penting!" pekik Dirga menatap Jeff sambil melewati lobi kantor.
"Urusan penting apa, Pak?"
"Makan siang dengan istri saya," jawab Dirga dengan senyuman lebar, membuat Jeff terkekeh.
Tak lama berselang, ponsel milik Dirga berdering tanda pesan masuk. Ia segera membuka begitu melihat nama 'Istriku' tertera di layar.
“Mas, aku tunggu kamu di Restoran Maizonet. Aku sudah memesan sebuah ruangan pribadi untuk kita. Tapi kamu masuknya lewat pintu belakang ya, akan ada karyawan restoran yang menunggu kamu. Jangan tanya kenapa, ini kejutan!"
Dirga tersenyum membaca pesan yang dikirim istrinya. Lula selalu mampu membuat hatinya menghangat oleh perhatian-perhatian kecil.
“I'm coming, Sayang!”
..........