HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Berdua Saja?



Jika pernikahan Dirga dan Lula digelar secara sederhana dan hanya melibatkan anggota keluarga serta kerabat terdekat, maka berbeda halnya dengan pernikahan Jeff dan Mentari—yang berlangsung dengan meriah dan mewah di sebuah hotel ternama. 


Para tamu undangan sudah mulai memadati ballroom tempat pesta berlangsung. Ada yang masih mengobrol santai, dan ada pula yang berdiri di dekat karpet merah seolah sedang menunggu pasangan pengantin yang sebentar lagi akan memasuki gedung. 


Berbagai hidangan pun sudah tertata di atas meja panjang. Sisi kiri tersedia menu nusantara, sementara sisi kanan diisi dengan menu khas dari berbagai negara di dunia. 


Mentari terpukau menatap apa yang tersaji di hadapannya. Jika tidak mengingat make up yang mungkin akan luntur, ia pasti sudah menangis karena rasa haru. Betapa tidak, begitu memasuki sebuah pintu megah, alunan biola dan taburan bunga menyambutnya. Karpet merah membentang sepanjang pintu masuk menuju sebuah panggung megah. 


Dengan merangkul lengan suaminya, Mentari memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Benar kata Giany, tidak banyak pria seperti Jeff yang menunjukkan cintanya dengan perbuatan dan bukan hanya mengumbar janji manis saja. 


.


.


.


Bagai raja dan ratu semalam, Jeff dan Mentari menyalami tamu-tamu yang datang memberi ucapan selamat. Melihat para tamu yang rata-rata berasal dari kelas atas membuat Mentari kadang malu. Jika dengan Jeff yang hanya merupakan asisten sang bos saja, bagaimana seandainya yang menikah dengannya adalah Azka—yang merupakan pewaris keluarga Mahendra. Ia pasti semakin tak percaya diri. 


“Kak Jeff ...” 


“Hemm ...” 


“Pasti keluar uang banyak untuk acara ini, ya?” Pertanyaan polos itu terlontar begitu saja saat menyadari betapa megahnya pernikahan mereka. Mentari bahkan tidak berani membayangkan berapa jumlah uang yang dikeluarkan sang suami. 


“Tidak, kok,” jawab Jeff enteng, sehingga Mentari menatapnya heran. Tentunya ia tak akan percaya dengan jawaban santai suaminya itu. 


“Tapi pesta mewah seperti ini pasti mahal biayanya.” 


Jeff mengangguk, tak menampik ucapan Mentari. “Kamu benar. Tapi saya memang tidak keluar uang satu rupiah pun.” 


"Bagaimana bisa?" tanyanya lagi dengan tatapan kagum. Baginya selain keren,  Jeff juga misterius dan penuh dengan kejutan yang tak terduga. 


Jeff menatap Mentari sekilas, kemudian menunjuk sebuah meja dengan lirikan mata. “Lihat meja tamu yang di tengah itu. Di situ ada sponsornya.” 


Mentari pun menatap beberapa meja terdekat. Ia baru mengerti saat melihat Dirga, Lula dan Mama Diana sedang duduk sambil mengobrol. 


“Jadi Mas Dirga yang bayar semua?” 


“Iya. Jadi kamu tidak perlu pikirkan biaya. Biar Pak Dirga yang pikirkan.” 


Meskipun tampak kagum, namun rasa tak percaya masih memenuhi benaknya. Apa lagi jika mengingat pernikahan Dirga beberapa waktu lalu yang hanya digelar di rumah.


“Tapi kenapa pernikahan Pak Dirga malah secara sederhana?” 


“Tidak tahu. Pak Dirga itu kan memang aneh.” 


Kehadiran beberapa tamu memutus pembicaraan itu. Mereka kembali berdiri dari duduknya dan menyalami beberapa tamu. Mentari bahkan mulai merasa pegal di kakinya.


"Capek, ya?" Jeff menatap Mentari yang mulai tampak lelah.


"Kamu istirahat saja. Mau aku minta orang mengantar kamu ke kamar?"


Mentari menggeleng pelan. "Tidak usah, Kak. Kan masih ada tamu juga. Tidak enak kalau pergi duluan."


"Dari pada kamu nanti sakit."


"Saya masih kuat, kok." Melalui senyum ia mencoba menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ya sudah, tapi kalau capek harus istirahat."


"Iya, Kak."


.


.


.


Pesta pun berakhir ....


Saat ini Jeff dan Mentari sedang dalam perjalan pulang ke apartemen. Wanita itu kembali dibuat heran oleh suaminya, sebab semua kerabat menginap di hotel malam ini, sedangkan Jeff memilih pulang dengan membawa Mentari. 


Padahal pihak hotel dan juga Wedding Organizer sudah menyiapkan sebuah kamar pengantin untuk mereka.


Mentari menatap Jeff yang duduk di sisinya. “Kak Jeff kenapa kita pulang? Mami dan yang lain kan nginapnya di hotel.” 


“Saya tidak suka tidur di hotel. Kecuali kalau sedang keluar kota, baru terpaksa.” 


"Tapi saya jadi tidak enak sama mami."


"Tidak enak kenapa? Sekarang mami itu sedang senang karena semua keluarganya kumpul." Jeff bersandar dengan santai seraya melirik jalan-jalan yang mereka lalui.


Saling diam terjadi selama beberapa saat. Baik Jeff maupun Mentari seolah larut dalam pikiran masing-masing. 


"Artinya malam ini aku cuma berdua dengan Kak Jeff di apartemen. Aaa bagaimana ini?"


Mentari tiba-tiba merinding saat pikirannya menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.


.


.


.


.