
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Dirga meninggalkan gedung kantornya, menuju sebuah kafe. Malam ini ia ada janji temu dengan si dokter pebinor tampan sepupunya.
Beberapa waktu ke depan, Dirga mungkin akan disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Proyek kerja sama pembangunan taman hiburan dengan Anva Group akan segera berjalan dan ini berarti Dirga akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota.
“Artinya harus secepatnya menggelar pernikahan secara resmi dengan Lula, sebelum kamu keluar kota.” Allan menyeruput secangkir teh manis dengan nikmat.
“Tapi Jeff masih sibuk sama Mentari,” imbuh Dirga menciptakan kerutan di ujung mata sepupunya itu.
“Stop Dirga!” pekik Allan kesal. “Kamu kan mau menikahi Lula, kenapa masih memikirkan wanita lain sih?”
“Aku bukan memikirkan Mentari, tapi Jeff.”
"Iya, kamu memikirkan Jeff tapi ujung-ujungnya ke Mentari juga, kan? Jangan bilang kamu mau bertanggungjawab sama si Mentari."
"Memang harusnya begitu, kan?" Dirga mengaduk kopi dengan santai, tanpa mengindahkan ekspresi saudaranya itu.
Membuat Allan mengusap dadanya naik turun. "Kalau begitu jangan harap kali ini aku akan membantu!"
"Kamu kok jadi saudara begitu, sih?" Dirga pun mulai tersulut emosi. Tatapan Dokter Allan mulai membuatnya merasa terintimidasi.
Maksud hati mengajak bertemu untuk mencari solusi. Tetapi justru membuat kepalanya semakin pening.
“Sudah ah, ngobrol sama kamu tidak ada habisnya. Aku mau pulang!” Allan menyeruput teh manisnya hingga gelas tandas, lalu berdiri meninggalkan Dirga yang masih mematung di tempat duduknya.
"Heh Allan!"
"Bodo amat!" Hanya kata itu yang terucap, hingga akhirnya punggung tegak itu menghilang di balik pintu kaca.
“Dia itu kenapa coba? Apa salahnya aku bertanggungjawab sama Mentari. Setidaknya aku bisa membantu membiayai pengobatannya, kan?” Ia mendengus kesal. Beberapa menit ia habiskan dengan terbengong seorang diri. Memijat kening yang terasa berdenyut.
Melamun, lalu setelah tersadar membuka ponsel begitu mendengar nada pengingat pesan.
“Kamu di mana, Mas?”
"Kenapa belum pulang juga?"
"Awas kalau macam-macam di luar!"
"Lula kenapa lagi ini? Tidak biasanya kirim pesan ancaman begini. Sepertinya istriku sudah terkontaminasi sama mama dan Allan."
.
.
.
Setelah melewati pembicaraan menguras emosi dengan Allan, Dirga segera pulang ke rumah. Baru memasuki ruang keluarga, aroma mencekam sudah terasa sangat kental.
Memaksanya untuk tersenyum saat bersitatap dengan wanita cantik yang berdiri di anak tangga pertama. Lengkap dengan tatapan lurus ke depan tanpa ekspresi wajah.
"Ehm, habis dari kantor, terus ketemu Allan," jawab Dirga berusaha santai. "Zav mana, Sayang?" Seperti biasa, ia akan menanyakan makhluk kecil yang selalu menjadi mood boster -nya setelah seharian beraktivitas di kantor.
"Sudah tidur!" Mama Diana yang duduk di sofa segera menjawab.
"Eh, Mama." Dirga tersenyum samar ketika menyadari tatapan tak bersahabat dari sang mama.
"Kok mendadak rumah ini berasa horor ya?"
Baik Mama Diana maupun Lula tak menjawab. Lula mendorong dada suaminya hingga punggungnya membentur dinding, menarik kerah kemejanya hingga wajah mereka berjarak satu jengkal saja.
"Tadi aku dapat pesan dari Jeff, katanya kamu mau bertanggungjawab sama si Mentari! Jelaskan apa maksudnya!"
Dirga yang belum menangkap arah pembicaraan istrinya langsung memegangi tangan Lula.
"Iya, memang benar. Kasihan si Mentari, dia sendirian dan tidak punya keluarga."
"Terus, karena dia sendirian dan tidak punya keluarga kamu mau menanggung hidupnya begitu?" cecar Lula semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Memang apa salahnya, Sayang?"
"Tidak salah, tapi tidak perlu kamu menikahi dia, Mas? Aku saja dianggurin sama kamu selama berbulan-bulan!"
"Lah, yang bilang mau menikahi dia siapa? Kan aku bilang mau bertanggung jawab. Setidaknya aku bisa membantu membiayai pengobatannya. Itu kan tidak salah!"
"Membiayai pengobatan?" Lula mulai mengurai maksud suaminya.
"Kalian pikir aku mau tambah istri lagi? Aku tidak segila itu!"
Perlahan wajah galak itu mulai menghilang, berganti menjadi semburat merah yang terlihat sangat jelas.
"Emh, Mah ... Perasaan tadi aku memanggang kue di dapur. Aku lihat dulu, ya. Takut kuenya gosong."
Mama Diana pun tersenyum kecut. "Iya. Mama kan tadi lagi jagain Zav. Mama lihat dulu ya. Takut Zav nangis."
Lula pun melipir ke dapur demi menyembunyikan rona merah di wajahnya, sedangkan Mama Diana langsung menghilang di balik pintu kamar.
Tinggallah Dirga dengan sekelumit tanda tanya di benaknya.
"Ini semua orang kenapa sih?"
****
Ngiklan dulu gengs.
baca juga Karya temanku ya. baru netas nih