
Alika duduk di depan meja rias dengan wajah tertekuk. Sejak masuk ke kamar untuk membersihkan wajahnya dari siraman kopi, ia tak henti-hentinya mengomel kesal.
Dirga bahkan harus berperan menjadi tembok bernapas yang memilih diam saja mendengar segala ocehan istrinya. Baginya lebih baik diam. Ia sudah terbiasa menghadapi kemarahan Alika yang kadang meluap-luap walaupun hanya untuk hal sepele.
"Aku tidak mau tahu, Dirga! Pokonya setelah Zav bisa lepas dari asi, Lula harus angkat kaki dari rumah ini."
Hening! Tak ada jawaban dari pria itu.
"Dirga!"
"Stop Al!" bentak membuat Alika terlonjak. "Aku mulai capek sama kamu. Untuk hal sepele seperti ini saja kamu bisa semarah itu. Coba kamu ingat, apa aku pernah marah saat kamu datang dan pergi seenaknya? Apa aku pernah melarangmu melakukan apapun sesukamu?"
Alika terdiam menatap Dirga melalui pantulan cermin.
"Aku menutup mata dan telinga untuk semua itu. Jadi jangan coba menguji kesabaran aku lagi."
Tanpa mengindahkan air mata yang membasahi wajah istrinya, Dirga berbaring membelakang dengan menutup kepalanya menggunakan bantal.
*
*
*
Sudah dua jam Dirga membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur, namun tak kunjung dapat memejamkan mata. Bayang-bayang Lula terus saja menghantuinya.
Jika teringat pertama kali bertemu hampir setahun lalu, Lula hanyalah seorang gadis yang sederhana dan apa adanya. Siapa sangka, pertemuan malam itu membawa mereka pada pernikahan dan Lula kini menjadi ibu dari anaknya.
Kepingan rasa sesal mulai membayangi hatinya. Betapa Dirga telah melakukan kesalahan besar dengan mengabaikan istrinya itu selama menjalani kehamilannya.
Lula sudah tidur belum ya? Pertanyaan itu sejak tadi memenuhi benaknya.
Ia menghembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamar dan berusaha memejamkan mata. Hingga beberapa menit berlalu ...
Sial! Dirga mengumpat dalam hati.
Mengutuki hal bodoh bernama rindu yang sialnya semakin lama semakin tak tertahankan. Lula telah memenuhi ingatannya, bahkan kini Dirga merasa akan gila karena kerinduan itu.
Samperin aja ah. Macan tutul ini juga sudah tidur. Seraya melirik Alika yang sudah terlelap di sisinya, Dirga menyibak selimut dengan sangat hati-hati agar Alika tak menyadari gerakannya.
Lega .... Dirga menatap Alika yang masih betah dengan posisinya. Sepertinya wanita itu benar-benar lelap.
Dirga pun segera beranjak keluar dari kamar, menuju kamar yang berada satu dinding dengan kamarnya. Tiga kali ia mengetuk pintu dengan sangat pelan dan menunggu beberapa saat, barulah Lula membukakan pintu.
"Loh Mas ada apa?" tanya Lula menatap heran suaminya yang kini berdiri kokoh di ambang pintu.
"Maaf ganggu malam-malam. apa kamu sudah tidur?" tanya Dirga dengan senyuman tipis yang terlukis di sudut bibirnya.
Lula menggeleng pelan. "Belum, Mas. Zav juga belum tidur."
"Apa, ini kan sudah malam. Kenapa dia belum tidur?" Dirga mengalihkan pandangan kepada sosok tubuh mungil yang terbaring di ranjang.
Tanpa permisi, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Senyum lebar kembali terukir di bibirnya menatap wajah menggemaskan putranya. Ia duduk di tepi pembaringan dan menggendong bayi mungil itu.
Sementara Lula langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Akan cukup beresiko jika Alika mendapati Dirga di kamarnya dan Lula benar-benar tak ingin wanita itu berteriak dan mengejutkan Zav.
"Anak ayah kenapa begadang sih?" ucap Dirga menimang anaknya. Ia memainkan hidungnya di pipi halus baby Zav dengan gemas, menyesap aroma khas bayi yang berasal dari tubuh putranya itu.
"Dia kan memang sering begitu, Mas. Di jam seperti ini terbangun, nanti tidurnya jam tiga atau jam empat." Lula ikut duduk di sisi suaminya. Sesekali mengelus puncak kepala Zav.
Dirga pun menatap jam yang melekat di dinding yang telah menunjuk angka dua.
"Zav mau tidur sama ayah ya, makanya belum tidur-tidur." Ucapan Dirga menciptakan semburat merah di pipi Lula. Sejak kejadian malam itu, mereka belum pernah tidur dalam satu ranjang lagi.
"Lula ..."
"Iya, Mas."
"Sepertinya Zav maunya tidur sama aku. Makanya belum bisa tidur di jam segini. Apa kamu tidak keberatan? Apa boleh aku tidur di sini?"
Deg!
Lula tersenyum tipis. Kepalanya seketika tertunduk. Jangan lupakan rona merah yang semakin tampak jelas di kedua sisi pipinya.
"Dirga, kamu di mana?" Suara Alika terdengar dari luar kamar. Membuat Lula dan Dirga saling tatap.
"Itu Bu Alika, Mas. Kalau dia tahu kamu di sini, bisa ngamuk dia."
"Biarkan saja," balas Dirga terdengar cukup santai.
Malah kini membaringkan tubuhnya dengan membawa Zav di pelukannya.
*
*
*