
Alika semakin gemetar. Kakinya perlahan mundur seiring dengan langkah kaki Lula yang semakin maju.
"Kamu jangan sembarangan bicara!" bentak Alika dengan suara nyaris terbata-bata. Bola matanya berputar kesana-kemari mencoba mencari jawaban dari mana Lula mengetahui rahasia besar yang jika diketahui orang lain, akan berakibat fatal baginya.
"Aku? Sembarangan bicara?" Lula menatapnya tajam.
"Sudah jelas kamu hanya mau memfitnah aku. Karena kamu cuma terobsesi dengan Dirga kan? Kamu mau merebut dia dari aku!"
"Aku memang mau merebut dia dari kamu. Dengan membongkar kejahatan kamu. Kamu sudah terlalu lama membohongi Mas Dirga."
Bola mata Alika memerah, menatap teman-teman wanitanya satu-persatu. Mereka kini tengah saling berbisik satu sama lain dan Alika takut ini akan berdampak buruk baginya.
"Kalian jangan percaya sama dia! Dia hanya mau merebut suami aku."
"Kalau kamu memang tidak bersalah, kenapa harus takut? Kamu kan bisa bilang tidak terlibat atas kejadian dua tahun lalu."
"Sekali lagi aku ingatkan jangan bicara sembarangan kamu!"
Seluruh tubuh Alika pun terasa panas. Geram dengan ucapan Lula, ia mengangkat tangan dan mengarahkan ke wajah madunya itu, namun dengan cepat ditangkap oleh Lula sehingga tangan mereka menggantung di udara.
Plak!
Sebuah tamparan keras baru saja mendarat di pipi kanan Alika. Lula menatapnya seolah ingin melahapnya saat itu juga. Membuat ketakutan semakin menjalar ke hati wanita itu.
"Ini untuk Mas Dirga, untuk semua pengorbanan sia-sia yang dia lakukan untuk kamu."
Plak! Plak! Dua tamparan lagi ia hadiahkan di pipi kanan dan kiri.
"Ini untuk Vino dan Azka."
Wajah Alika sudah memucat. Bukan hanya ketakutan tetapi juga rasa malu yang tak tertahankan. Terlebih, tatapan semua orang seperti menghakiminya. Tak ingin terlibat lebih jauh dengan Lula, ia akhirnya memilih meninggalkan salon dengan setengah berlari.
Naik ke mobil dan bersandar seraya menarik napas dalam-dalam. Ucapan Lula tadi membuatnya dadanya terasa sesak.
"Bagaimana Lula bisa tahu tentang kejadian itu? Sekarang aku harus bagaimana?"
Satu-satunya yang kini terpikir oleh Alika hanyalah Hito. Ia pun mengeluarkan ponsel dengan gemetar untuk menghubungi pria itu.
.
.
.
Rapat berlangsung dengan lancar tanpa menemui kendala berarti. Meskipun kadang Hito menyerang secara tak langsung dengan sindiran halus, namun rupanya Dirga sama sekali tak terpancing. Jeff selalu dapat mengontrol amarah Dirga dengan mengingatkan janji makan siang dengan Lula dan tentunya Dirga tak ingin merusak mood-nya jika terlibat sebuah masalah dengan Hito.
“Maaf, saya ada telepon penting. Permisi sebentar.” Hito bangkit dari duduknya dan segera keluar dari ruangan berdinding kaca itu. Dengan gurat kekesalan yang terlihat jelas, ia menggeser simbol hijau yang tertera pada layar ponselnya.
“Sudah aku bilang aku ada rapat penting dengan Lintang Group. Kenapa kamu terus menghubungi aku?” ucap Hito sesaat setelah panggilan darurat itu terhubung.
“Kita harus ketemu sekarang! Ini sangat penting.” Suara Alika terdengar gemetar, seperti sedang dikejar sesuatu.
“Hal penting apa yang membuat kamu sampai mengganggu aku di jam kerja?”
“Hito, ini gawat! Kita dalam bahaya."
"Apa maksud kamu?" bentak Hito ikut panik mendengar kepanikan Alika.
"Lula tahu apa yang kita lakukan terhadap Vino dan Azka.”
Kelopak mata Hito pun melebar, detik itu juga ponsel terlepas dari genggamannya dan terjatuh begitu saja menghantam lantai marmer.
Butuh waktu beberapa saat bagi Hito untuk mengembalikan akal sehatnya yang sempat menghilang.
Ia meraih kembali ponselnya yang tampak sudah retak layarnya. Beruntung ponsel masih dalam keadaan menyala dan masih dapat digunakan.
“Apa maksud kamu, bagaimana dia bisa tahu?”
“Aku juga tidak tahu!” teriak Alika di seberang sana. “Pokoknya aku mau kita bertemu sekarang juga. Kamu harus melakukan sesuatu untuk menyingkirkan Lula sebelum dia membocorkan semuanya kepada Dirga.”
"Kamu yakin?"
"Iya, Hito. Dia sendiri yang bilang sama aku!"
Hito tampak menjambak rambutnya dengan mimik muka frustrasi. Kabar yang dibawa Alika seperti sebuah sambaran petir di siang bolong.
"Baiklah, kamu tenang dulu dan jangan panik. Sekarang di mana Lula?"
*
*
*
Yang sabar pemirsahhhhh...
Jangan lupa ikuti akun penulis untuk memudahkan komunikasi. Terima kasih 🥰🥰🥰