HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Dilarikan Ke Rumah Sakit



Tidak ada yang lebih menyayangi kita selain keluarga sendiri. Mungkin itu yang dirasakan Dirga saat ini. Dua tahun menjauh dari keluarganya bukanlah sesuatu yang mudah. Karena sejak menikahi Alika, ia jarang berkumpul dengan keluarga. Bahkan sejak saat itu, Mama Diana lebih memilih sering bepergian ke luar negeri demi mengurus beberapa bisnis keluarga Mahendra.


Jika sebelumnya akhir pekan adalah hari yang suram bagi seorang Dirga Mahendra, maka kini akhir pekan adalah saat yang ditunggu baginya. Karena pria itu akan menghabiskan waktu bersama putranya. 


Kehadiran Baby Zav dalam hidupnya bagai sebuah kejutan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Betapa dulu ia begitu menginginkan hadirnya seorang anak yang akan menjadi pewarisnya. 


Dirga membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruang keluarga, dengan Zav yang tidur tengkurap di dada bidangnya. 



“Kamu hari ini tidak kemana-mana, Dirga?” tanya Mama Diana yang langsung duduk di kursi lain dan langsung menyalakan TV. Jika biasanya Mama Diana sibuk dengan urusan bisnis, di akhir pekan adalah waktunya untuk bersantai. 


“Tidak, Mah. Kangen sama Zav, jadi hari ini mau sama Zav saja,” jawab Dirga enteng seraya mengusap-usap kepala dan punggung putranya. Baby Zav tampak begitu nyaman berada dalam dekapan sang ayah. 


“Zav juga kayaknya kangen sama ayahnya. Coba lihat, dia nyaman tidur di dada kamu, walaupun kamu belum mandi dan bau,” kelakar Mama Diana diiringi tawa kecil, membuat Dirga mengerucutkan bibirnya.  


“Mama sekarang beneran kayak ibu kandung rasa ibu tiri tahu ... tadi memuji, setelah melayang dihempas ke kerak bumi.” 


Tanpa mengindahkan ekspresi Dirga, Mama Diana menyetel chanel TV dengan santai. Mencari-cari acara berita gosip seputar selebriti. “Habis kamu kelamaan jadi anak durjana, jadi mama kesal sama kamu.” Ia melirik Zav yang masih begitu lelap dalam buaian sang ayah. “Zav Sayang, nanti besar jangan kayak ayah, ya.” 


“Kalau tidak kayak ayahnya, mau kayak siapa, Mah?” 


“Harus lebih baik dari kamu lah.” 


Baru saja Dirga akan membuka mulut untuk membalas ledekan Mama Diana, Lula sudah muncul dari arah dapur dengan senyum ceria. Sebuah nampan terlihat di genggaman tangannya yang ia bawa dengan sangat hati-hati. 


“Kuenya matang!” ucapnya seraya meletakkan nampan ke atas meja. 


Melihat kue pie cantik dengan irisan buah di atasnya, membuat Dirga langsung bangkit, meraih sebuah bantal kecil dan membaringkan Baby Zav di sisinya. 


“Istri itu seperti ini, Dirga, yang selalu bikin perut kamu hangat dengan masakannya.” Lagi, Mama Diana melayangkan sindiran halus. 


“Iya, Mama.”


 Pria itu menatap istrinya yang duduk di samping Mama Diana. Otaknya kembali memikirkan Lula dan Alika yang memiliki karakter sangat jauh berbeda. Satu kelebihan Lula yang sangat Dirga sadari, saat berada di rumah, Lula akan memasak makanan kesukaan suaminya. Selain itu, Lula juga seorang menantu yang baik. Mama Diana yang terkesan galak terhadap Alika justru bersikap sangat lembut terhadap Lula. 


“Oh ya, kapan kalian mau menikah secara resmi? kalian mau seperti ini terus?” tanya Mama Diana yang kini menikmati kue buatan sang menantu kesayangan. 


“Tunggu semua urusan selesai, Mah. Biar tenang,” jawab Dirga. 


Suasana hangat menyelimuti layaknya sebuah keluarga sempurna. 


“Mas ... hape kamu bunyi.” Lula melirik ponsel milik suaminya yang diletakkan begitu saja di sofa. 


Dirga hanya menatapnya sekilas. Terlihat malas meraih benda berbentuk pipih itu. Sebab jika akhir pekan, ia benar-benar tidak suka diganggu dengan urusan pekerjaan. 


“Paling si Jeff.” Namun, saat menatap layar ponsel, tampak sebuah nomor tak dikenal. Kerutan tipis terlukis di kening pria itu. “Siapa ini yang telepon?” gumamnya menatap layar ponselnya. 


“Dijawab, Mas. Barangkali penting.” 


Dirga pun menggeser simbol berwarna hijau di layar ponsel dan detik itu juga suara berat seorang pria menyapa. Dirga terdiam beberapa saat, raut wajahnya yang tiba-tiba terlihat serius membuat Lula dan Mama Diana saling melempar lirikan penuh tanya. 


“Ada apa, Dirga?” tanya Mama Diana sesaat setelah Dirga memutus panggilan. Melihat garis wajah putranya, wanita itu pun sudah menduga sesuatu telah terjadi. 


 “Alika, Mah!” 


“Kenapa lagi Alika itu? Apa dia membuat masalah lagi?” 


Pria itu menggeleng pelan. “Itu yang telepon barusan pengacaranya Alika. Katanya, Alika baru saja dilarikan ke rumah sakit. Dia mengeluh sakit perut dan pingsan.” 


Mendengar ucapan Dirga membuat dua wanita di dekatnya begitu terkejut. Sejak Alika ditahan beberapa minggu lalu, Dirga baru dua kali menemuinya. Yang pertama saat wanita itu ditahan, dan kemudian saat akan memberitahu mengenai pengurusan perceraian mereka. 


Bukan ingin mengabaikan tanggungjawab terhadap wanita yang secara hukum masih berstatus istrinya itu, namun pengkhianatan yang dilakukan Alika menggores luka yang terlampau dalam, hingga untuk menatap Alika saja rasanya enggan. 


Dirga menatap Lula seolah mencari jawaban di mata istrinya itu. 


“Kamu harus ke rumah sakit melihatnya, Mas. Bagaimana pun juga, secara hukum dia masih istrimu.”