
“Dasar mesum kamu, Mas!” ujar Lula menyadari ucapan suaminya yang terus menjurus.
“Mesum juga sama istri sendiri. Kalau mesumnya sama wanita lain baru haram,” balasnya dengan penuh percaya diri. “Laki-laki seusia aku itu pikirannya cuma pekerjaan dan selang*kangan. Jadi jangan heran!”
Lula melongo tak percaya mendengar ucapan frontal suaminya itu. Semakin hari, ia merasa kadar kemesuman Dirga kian meningkat. Entah kemana Anggareksa Dirga Mahendra yang dulu cenderung datar dan cool.
Lula melepas tangan Dirga yang melingkar di pinggang, lalu berjalan menuju pembaringan. Dengan sangat hati-hati ia mengangkat tubuh mungil bayinya dan memindahkan ke box yang berada di sudut kamar. Tangannya bergerak menepuk punggung dengan lembut ketika Baby Zav menggeliat.
Sementara Dirga duduk di tepi ranjang. Menatap tubuh Lula yang berdiri membelakanginya. Pakaian bermotif zebra transparan itu menampakkan lekukan tubuhnya. Pinggang yang terbilang sangat ramping untuk ukuran wanita yang baru menjalani persalinan beberapa bulan lalu, juga paha putih mulus yang menggoda. Dirga menelan saliva bagai seseorang yang tengah dalam dahaga.
Setahun lebih hasrat kelelakiannya tak tersalurkan. Entah akan seperti apa Lula malam ini. Yang pasti wanita itu harus siap-siap kelelahan.
“Sudah, belum?” Ucap Dirga tak sabar lagi.
“Sebentar, Mas.” Lula menoleh sekilas. “Kamu mandi saja dulu.” Kemudian kembali terfokus kepada bayinya.
“Aku sudah mandi tadi di apartemen. Masa sewangi ini belum mandi.”
“Oh.”
Beberapa menit berlalu ....
Akhirnya Baby Zav terlelap. Lula membalut tubuh mungil itu dengan selimut kecil demi melindunginya dari udara dingin yang berasal dari pendingin ruangan. Ia kecup kening dan pipi bayinya dengan penuh kasih sayang.
Begitu membalikkan tubuhnya, ia terlonjak saat melihat suaminya sudah duduk bersandar di pembaringan dengan bertelanjang dada. Dengan selimut yang menutupi pinggangnya.
Lula menatap curiga.
"Apa jangan-jangan dia sudah tidak memakai apa-apa di balik selimut?"
“Kenapa sih, kayak lihat hantu saja,” protes Dirga menyadari tatapan istrinya.
Mendadak wajah Lula bersemu merah, yang sayangnya tak sempat lagi ia sembunyikan. Hawa panas tiba-tiba merambat ke seluruh tubuhnya.
"Tidak. Aku cuma kaget lihat kamu tidak pakai baju."
Dirga tersenyum senang. "Kamu tergoda?" Dirga mengulurkan tangan meminta koala imutnya itu mendekat. "Yuk sini, Sayang!"
Lula mengusap wajahnya demi mengurai rasa malu yang kian besar. Jika ia bercermin, wajahnya pasti sudah semerah tomat.
“A-aku mau ke kamar mandi dulu. Mau pipis.” Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, Lula berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
“Kenapa aku jadi seperti ini? Seharusnya kan biasa saja. Aku sudah pernah tidur dengan Mas Dirga walaupun dalam keadaan dipaksa.”
Ia mengusap dadanya naik turun. Berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya dengan air. Kemudian termenung menatap pantulan dirinya di cermin.
_
Tok Tok Tok! terdengar suara ketukan pintu yang membuat Lula kembali terlonjak.
“Sayang ... kamu sedang apa di dalam? Kenapa lama sekali di kamar mandinya?” tanya Dirga dari balik pintu.
“Se-sebentar, Mas!” Lula gemetar dan refleks menggigiti kuku-kukunya dengan panik. “Aduh bagaimana ini?”
Sementara di depan pintu kamar mandi, Dirga sudah uring-uringan menunggu sejak tadi. Namun, istrinya itu tak kunjung keluar. Padahal tinggal menikmati buah dari kesabaran, tetapi terkesan dramatis.
Tak sabar, ia pun memutar gagang pintu. Beruntung baginya, karena sepertinya sang nyonya Mahendra itu lupa mengunci pintu.
“Sayang ... kamu mau ngapain di kamar mandi lama-lama? Mau nginap?”
Lula tersentak saat melihat suaminya ikut masuk ke kamar mandi. Kakinya mundur beberapa langkah seiring dengan Dirga yang terus maju mendekatinya.
"Yuk sini, kamu kenapa sih?" tanyanya dengan lembut.
Lula masih diam mematung di tempatnya berdiri. Kali ini dengan kepala tertunduk, tangannya yang gemetar membuat Dirga dapat melihat betapa gugup wanitanya itu.
“Sini ah, kamu lama!”
Tanpa menunggu lagi, Dirga meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya keluar dari kamar mandi.
"Turunkan aku, Mas!" pinta Lula panik.
"Iya, aku turunkan, tapi di kasur!"
.
.
.
.