HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Meminta Maaf



Setelah mendapat lampu hiaju dari Lula, Dirga pun bertolak menuju rumah sakit. Saat ini Dirga tengah berada di ruangan sang dokter, setelah sebelumnya sempat mampir ke sebuah ruangan di mana Alika terbaring tak sadarkan diri. 


“Dirga, maaf aku harus menyampaikan ini.” Dokter Allan menjeda ucapannya dengan tarikan napas panjang. 


“Ada apa dengan Alika?” tanya Dirga yang penasaran melihat raut wajah Dokter Allan yang tampak begitu serius. 


“Alika mengidap kanker ovarium dan sudah dalam tahap yang cukup mengkhawatirkan,” jelasnya. 


Kerutan tipis terukir di kening Dirga, yang begitu terkejut mendengar penjelasan saudara sepupunya itu. “Tapi bagaimana bisa, bukannya Alika sudah menjalani operasi pengangkatan rahim waktu itu?” 


 


“Memang  benar,” sahut Dokter Allan diiringi anggukan kepala. “Tapi operasi histerektomi yang dijalani Alika tidak menjamin bahwa dia akan terlepas dari kanker ovarium. Operasi itu mengambil seluruh bagian rahim, yang menjadi tempat janin tumbuh. Sementara ovarium adalah tempat sel telur dan hormon wanita diproduksi. Kanker ovarium bisa muncul akibat tumbuhnya sel kanker di bagian indung telur. Jadi walaupun sudah dilakukan operasi angkat rahim, tetap memiliki peluang resiko mengalami kanker ovarium. Apa lagi selama satu tahun belakangan ini, Alika tidak memperhatikan kesehatannya.”


“Apa kanker ovarium itu masih bisa sembuh?” Sebuah pertanyaan baru saja lolos dari mulut Dirga yang membuat Dokter Allan ragu untuk menjawabnya. 


“Untuk sembuh mungkin akan sulit, tapi Alika bisa menjalani pengobatan untuk mengurangi gejala kanker ovarium yang dirasakan. Selain itu bisa dilakukan kemoterapi untuk menghambat perkembangan sel kanker.” 


“Baiklah. Lakukan saja yang terbaik.” 


.


.


.


.


Setelah berbicara dengan Dokter Allan mengenai kondisi Alika, Dirga menuju ruangan perawatan wanita itu. Pemilik wajah pucat dan mata sembab itu masih terbaring dengan banyaknya alat medis yang melekat pada tubuhnya. 


Meskipun kebencian telah mendarah daging di hatinya akibat perbuatan kejam Alika dan Hito, namun tak membuat pria itu kehilangan hati nurani. Baginya Alika tetaplah manusia yang membutuhkan bantuan. 


Perlahan kelopak mata Alika terbuka. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah pria yang secara hukum masih berstatus suaminya, meskipun beberapa waktu lalu, Dirga sudah menjatuhkan talak kepadanya yang berarti sudah putus hubungan mereka secara agama. 


“Dirga ...” panggil Alika lemah. Matanya yang sembab itu kembali tergenang oleh air mata. Juga alis dan keningnya yang berkerut seperti sedang menahan rasa sakit. 


“Dokter bilang kamu harus menjalani perawatan. Soal biaya, kamu jangan pikirkan. Aku yang akan menanggung semuanya.”


Dinginnya ucapan Dirga membuat wanita itu tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Hanya dalam hitungan detik seluruh ruangan telah penuh dengan isak tangis yang memilukan. 


Jika boleh berkata maka hanya satu, ia menyesal! Semua kejahatan yang dilakukan seperti berbalik menyerang dirinya.


“Aku tidak pantas menerima kebaikan kamu setelah semua yang kulakukan.” 


Dirga tak menyahut. Ia juga tampak enggan menatap mata wanita itu.


"Dirga, maafkan aku!" Tangan Alika terulur demi meraih pergelangan tangan Dirga. Namun, Dirga langsung mundur beberapa langkah.


"Memaafkan itu tidak semudah minta maaf, Alika. Sejujurnya aku belum bisa memaafkan kamu. Aku bisa kemari karena Lula yang meminta. Jadi, mungkin ini terakhir kalinya aku menemuimu."


Tinggallah Alika dengan penyesalan yang dalam. Serakah membawa bencana dalam hidupnya.


.


.


.


Di sebuah kafe ....


Jeff mendengus kesal lalu menyeruput secangkir kopi. Pria blasteran itu melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Hampir dua jam ia menunggu sang bos, namun makhluk menyebalkan yang membuat janji temu secara tiba-tiba itu tak juga menunjukkan batang hidungnya.


"Nasib jadi anak buah!" gerutunya dengan melipat tangan di depan dada.


Wajahnya terlihat semakin kusut ketika melirik pintu kaca yang baru saja terbuka, memunculkan seorang pria dengan senyum tak berdosa.


"Kenapa muka kamu kusut begitu, Jeff." Dirga menarik kursi dan duduk di hadapan Jeff. Kemudian memberi kode seorang pelayan kafe dengan mengangkat tangannya. "Kopi hitam satu ya!"


"Bapak dari mana? Saya menunggu dua jam loh di sini?" Sebuah pertanyaan bernada sindiran itu membuat Dirga melotot.


"Saya habis mampir ke toko perhiasan. Kamu seperti wanita yang ngambek kalau diajak ketemu," balas Dirga santai membuat Jeff memaki dalam hati.


"Toko perhiasan?" Kening Jeff tampak berkerut. "Ngapain ke toko perhiasan?"


"Ngamen!" sembur Dirga. "Ya beli perhiasan, Jeff. Kamu pikir saya mau apa ke sana?"


"Maksud saya beli perhiasan buat apa, Pak?"Jeff menatap penuh selidik. Sudah terdengar aroma kekhawatiran dari sana.


Menyadari gelagat pria itu, Dirga pun tersenyum jahil. Ia masih ingat beberapa waktu lalu ketika Lula dan Mama Diana mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan akibat Jeff yang memberi sebuah laporan bernada ambigu.


"Buat melamar lah! Buat apa lagi coba? Kamu kan tahu saya mau menikah lagi?"


Jawaban santai yang membuat Jeff tersedak kopi. Namun, sepertinya Dirga semakin puas melihat reaksi asistennya itu. Ia bahkan meletakkan sebuah kotak perhiasan super mahal ke atas meja, yang membuat Jeff merasa merinding.


Wanita mana yang akan menolak kalau dilamar dengan berlian mahal? Pikiran itu terus memenuhi benak Jeff.


"Oh ya Jeff, tolong kamu siapkan makan malam yang romantis. Karena malam ini saya akan melamar ...."


"Tidak boleh!" pekik Jeff membuat perhatian seluruh pengunjung kafe mengarah kepada mereka.


.


.


.