HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kamu Tidak Membelaku Di Depan Dia!



"Siapa yang cemburu, Mah?"


"Kalau bukan cemburu apa namanya, Dirga? Kamu kesal karena tahu Lula pernah menjalin hubungan sama Simon sampai mendiamkan Lula segala. Itu namanya cemburu!" ucap Mama Diana, lalu tanpa permisi pergi meninggalkan Dirga menuju kamarnya.


Tinggallah Dirga terduduk seorang diri merenungi perasaannya. Dengan malas pria itu menuju ruang televisi dan menghempas tubuhnya di sofa.


Pikirannya melayang memikirkan ucapan Mama Diana tadi. Memang benar, kenyataan bahwa Lula adalah mantan kekasih Simon membuat darahnya mendidih.


“Sabar, Dirga! Apapun yang Simon bilang tentang Lula itu tidak benar. Aku memang mabuk malam itu. Tapi aku masih bisa ingat walaupun samar-samar.”


*


*


*


Hampir dua jam Dirga menghabiskan waktu untuk duduk seorang diri. TV ia nyalakan, namun tak ditonton dan hanya sebagai pengusir sepi.


Sesekali tatapannya tertuju pada pintu kamar tak jauh dari tempatnya duduk. Sejak masuk ke kamar, Lula tak kunjung keluar sehingga membuat Dirga menciptakan asumsi sendiri dalam benaknya. 


“Ini koala kok tidak keluar-keluar?” 


“Jangan-jangan dia marah karena tadi aku diamkan.” 


"Gara-gara monyet ini!"


Menyerah! Ia menghela napas panjang, sebelum berdiri dari duduknya dan menuju pintu kamar. Ingin mengetuk, namun ragu. Bagaimana kalau ternyata Lula benar-benar marah?


"Ah, sial! Masa cuma gara-gara manusia kayak Simon harus marahan?"


Tok Tok Tok! Akhirnya Dirga melepaskan ego. Tiga kali pria bertubuh tinggi tegak itu mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari sang pemilik kamar. 


Pikiran-pikiran buruk kembali mendominasi, namun Dirga berusaha untuk menepis. Baginya Lula bukanlah tipe wanita yang mengedepankan emosi sesaat.


“Lula ... buka pintunya, Sayang!” ucapnya lembut, seraya mengetuk lagi. "Ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


“Sebentar, aku lagi ganti baju.” Sahutan dari dalam kamar membuat Dirga bernapas lega. Setidaknya Lula masih menyahut dengan nada yang menurutnya masih manusiawi.


Hingga beberapa menit kemudian, pintu kamar pun terbuka. Tampak Lula dengan rambut yang masih basah dan setelan piyama. Dirga pun melangkah masuk tanpa permisi. Begitu Lula membelakanginya, ia mengunci pintu dari dalam, membuat Lula berbalik dan menatapnya heran.


“Kenapa pintunya dikunci?”


“Memang kenapa?” Bukannya menjawab, ia malah seenaknya membalikkan pertanyaan itu.


"Apa yang mau dibicarakan?"


Melihat bibir mungil yang mengerucut, Dirga pun meyakini bahwa Lula masih kesal karena ulahnya tadi. 


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, isak tangis mulai menggema. Tak dapat dipungkiri, keraguan Dirga akan dirinya menggores luka yang begitu dalam bagi Lula.


“Aku bukan marah tapi sedih,” lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Memilih meninggalkan suaminya dan duduk di meja rias. Di sana, ia meraih selembar tissue dan mengusap air matanya.


Dirga pun segera mengikuti. Membungkukkan tubuhnya dan berlutut di hadapan istrinya. “Sedih kenapa?” 


“Apa di matamu aku wanita murahan, Mas? Kamu lebih percaya orang lain dari pada aku."


Meskipun Lula sudah berusaha sebisa mungkin untuk menahan, tetapi cairan bening itu mengalir begitu saja di pipinya.


"Aku memang sempat berpacaran dengan Simon. Tapi bukan berarti aku bisa memberikan sesuatu yang bukan haknya, kan?"


"Kata siapa aku lebih percaya orang lain dibanding kamu?"


"Itu tadi di mall. Kamu mencecarku dengan pertanyaan seperti itu. Apa kamu lupa kalau kamu yang sudah ..." Ucapannya menggantung. Dalam pikirannya, tak akan ada gunanya menjelaskan. Karena Dirga tetap tidak akan percaya. "Percuma aku jelaskan. Kamu tidak akan percaya."


Dirga menggenggam jemari lentik itu. Menatap dalam wajah sedih istrinya. "Aku percaya sama kamu. Lagi pula, aku masih ingat kejadian malam itu walaupun dalam keadaan mabuk. Aku minta maaf kalau kamu tersinggung dengan sikapku tadi. Aku bukan marah sama kamu, cuma kesal dengar ucapan Simon."


Bukannya reda, tangisan Lula malah semakin menjadi. Dirga pun memeluk dan mencium keningnya berulang-ulang.


"Sudah, Sayang! Jangan nangis lagi. Masa nangis cuma karena mantan kamu yang brengsek itu."


"Aku bukan menangis karena dia. Aku sedih kamu tidak membela aku di depan dia."


"Tidak membela bagaimana? Segitu aku pukulnya dia sampai bonyok!"


Lula terdiam.


"Geser sedikit!" pinta Dirga sehingga Lula menggeser posisi duduknya agar Dirga dapat ikut duduk di sana. Ia menyandarkan wanita itu di dadanya.


"Aku sayang kamu. Sebagai suami, aku tidak terima kalau ada yang berkata buruk tentangmu. Maaf kalau caraku menunjukkannya salah."


Dirga mengeratkan pelukan. Tangannya terulur mengusap air mata yang berjatuhan membasahi wajah istrinya. "Aku minta maaf, ya."


Kelembutan Dirga dalam membujuk akhirnya mampu meluluhkan hati Lula. Ia semakin membenamkan tubuhnya di pelukan sang suami.


Hingga beberapa menit kemudian, Lula mulai dapat menghentikan tangisnya. "Aku juga minta maaf, Mas."


“Tidak apa-apa. Masalah kecil jangan dibesar-besarkan. Beberapa hari lagi kita menikah, lebih baik fokus di situ."


Lula mengangguk membuat Dirga melepas pelukan. Pria itu terdiam beberapa saat sambil menatap istrinya.


"Ngomong-ngomong ... tadi di mall bukannya kamu bilang mau pakai lingerie zebra, ya?”


***