
Mentari menarik senyum di sudut bibirnya saat baru keluar dari kamar mandi. Melihat ranjang yang tadi ia tinggalkan dalam keadaan sangat berantakan, kini sudah terbalut rapi dengan seprai dan selimut baru.
Bahkan saat keluar kamar setelah berganti pakaian, Jeff sedang membuat sarapan di dapur. Dalam benaknya bertanya, telah menghabiskan waktu berapa lama di kamar mandi, sehingga saat keluar Jeff sudah melakukan semua yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri.
“Maaf saya mandinya lama.” Mentari berdiri di sisi suaminya yang sedang membuat roti panggang. “Sini biar saya aja yang buat sarapannya.”
“Kamu duduk saja. Biar aku yang buat, kamu pasti masih capek karena semalam.”
Merah sudah pipi Mentari. Jeff mengingatkannya lagi pada kegiatan panas semalam yang penuh gai*rah. Jika sudah seperti ini, Mentari tidak punya pilihan selain duduk manis menunggu sambil mencoba menghilangkan rona merah di pipinya.
“Sarapannya jadi. Maaf ya, lama.” Jeff meletakkan menu sarapan tepat di hadapan istrinya.
Roti panggang selai stroberi dan susu coklat adalah menu sarapan kesukaan Mentari yang dulu pasti ia pesan saat sarapan di kantin kantor tempatnya bekerja. Hal yang membuat sepasang netra indah itu berkaca-kaca. Jeff bahkan tahu kebiasaannya yang kadang meminta roti tiga lapis, dengan alasan agar lebih kenyang.
Lalu hati mana yang tidak akan meleleh diperlakukan seistimewa ini? Sepertinya Jeff tidak membutuhkan usaha keras untuk merebut hati istrinya itu.
.
.
.
Sepanjang hari dilewati sepasang suami istri itu dengan hanya berduaan di apartemen. Kini keduanya sedang berbaring di atas karpet bulu di ruang TV, dengan selimut yang menutupi kaki. Jeff sedang menonton berita olahraga sedangkan Mentari asyik dengan ponsel baru yang dibeli Jeff untuknya beberapa hari lalu, yang baru bisa ia berikan pagi tadi.
“Kak Jeff ....”
“Hemm.”
Terdiam beberapa saat dengan bola mata yang berputar, Mentari seolah sedang memilih kata yang tepat. Diamnya wanita itu menciptakan kerutan di kening suaminya, yang kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
“Mau bilang apa?” Jeff membenamkan bibirnya yang seksi di pipi kanan istrinya.
Ekspresi terkejut tergambar jelas dari wajah tampan Jeff. Pikirannya langsung dipenuhi pertanyaan bagaimana Mentari tahu bahwa ia dulu kerap mengikutinya kemana pun. “Kamu tahu dari mana?”
“Dari topi di kamar yang ada inisial JA, roti panggang tiga lapis dengan selai stoberi dan ...” Mentari menjeda ucapannya dengan helaan napas. Tatapan mereka saling bertemu. Tangannya menyusup ke dalam baju kaus berwarna abu-abu yang membalut tubuh suaminya dan mengusap bekas luka sayatan yang terdapat di dada sebelah kiri. “Dan dari bekas luka ini.”
Senyuman tipis terlihat di sudut bibir Jeff. Tangannya terangkat membelai wajah istrinya, dan yang membuat Mentari membeku adalah tatapan penuh cinta yang bisa ia lihat di sana.
“Aku tertarik sama kamu sejak pertama kali bertemu. Mungkin kamu sudah lupa.”
Ingatan Mentari berputar ke masa lalu. Mencoba mengingat kapan pertama kali menyadari kehadiran seorang pria misterius yang selalu mengikutinya. Tapi semua tersamar, ia tak ingat lagi.
“Hari itu ada kegiatan amal di sebuah panti asuhan di malam tahun baru. Kamu satu-satunya gadis remaja yang datang, di saat yang lain mungkin memilih menghabiskan malam tahun baru dengan bersenang-senang.”
Mentari membelalak tak percaya. Ia pun masih ingat dengan malam tahun baru beberapa tahun lalu ketika ia menghabiskan waktunya untuk kegiatan amal. Tetapi ia sama sekali tak menyadari keberadaan Jeff di sana.
“Hanya karena itu?”
“Tadinya aku biasa saja. Tapi setelah melihat kamu bermain dengan anak-anak, aku pikir kalau kamu bisa sehangat itu dengan anak orang, apa lagi dengan anak kamu sendiri? Jadi mulai saat itu aku memutuskan akan menjadikan kamu ibu dari anak-anakku," jelasnya seraya mencium bibir singkat. "Dan untuk itu aku sudah mengambil langkah pertama.”
Mentari semakin terbelalak mendengar kalimat panjang dari mulut suaminya yang membuat rahangnya terbuka lebar. Terkejut menjadikan otaknya bekerja cukup lama untuk mencerna ucapan sang suami.
“Langkah pertama apa?” Dengan polosnya Mentari bertanya.
“Semalam aku keluar di dalam.” Ucapan frontal yang menyiratkan keinginannya untuk segera memiliki anak itu terdengar sangat vulgar. Membuat seluruh tubuh Mentari meremang, dan saat itu juga melayangkan cubitan di dada suaminya.
****
😄😄