HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Saya Ikhlas, Jeff!



Wajah Lula yang tadi berseri-seri mendadak murung dan Jeff dapat melihatnya melalui pantulan di kaca spion. Rasa prihatin pun turut menjalar ke hatinya. Betapa malang nasib wanita yang kini berada di kursi belakang itu. Bahkan mereka belum menikah secara resmi, tetapi suaminya telah berencana menikah lagi. Begitulah tatapan Jeff berbicara. 


“Memangnya tadi Mas Dirga bilang apa?” tanya Lula masih dengan sorot mata sedih. 


“Bapak sih cuma bilang mau ajak Ibu makan malam. Tapi tadi bapak sempat mampir ke toko perhiasan dan beli cincin berlian. Katanya ...” Pria blasteran itu menjeda ucapannya dengan tarikan napas. Ia terlihat tak tega untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin akan menyakiti sang nyonya bos. “Katanya cincin itu buat melamar,” ucapnya pelan.


“Mas Dirga bilang mau melamar siapa?” 


Jeff menggeleng mantap. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menggagalkan rencana Dirga. Dan, Lula adalah satu-satunya orang yang mampu untuk itu. 


“Tidak, Bu. Tapi waktu itu bapak bilang mau bertanggungjawab atas Mentari. Kita semua kan tahu Pak Dirga punya mekanisme yang aneh dalam mempertanggungjawabkan sesuatu.” Jeff mendadak teringat ucapan Dokter Allan kala itu.


Membuat Lula meraba tengkuk lehernya yang terasa meremang. Memang benar suaminya itu memiliki kebiasaan cukup ekstrim. Yaitu bertanggungjawab dengan menikahi.


“Apa ini artinya Mas Dirga mau minta izin menikahi Mentari?” lirih Lula.


Jeff pun menyahut dengan anggukan kepala, seraya memasang wajah paling sedih terbaiknya. “Waktu itu kan Pak Dirga beli cincin berlian buat melamar Ibu. Nah, tadi bapak beli cincin berlian lagi dan katanya itu buat melamar. Pak Dirga mau melamar siapa lagi coba?” 


Ingatan Lula langsung tertuju pada hari di mana semua kejahatan Hito dan Alika terbongkar. Hari itu Dirga memang berencana melamarnya, tetapi cincin berlian yang dimaksud Jeff telah hilang entah ke mana sebelum Dirga sempat melamar dirinya. 


“Terus saya harus gimana, Jeff?” 


Yes, ini waktunya mencuci otak Bu Lula. Tidak apa-apa kali yah. Demi kebaikan Bu Lula, Mentari dan aku sendiri. 


“Kalau Pak Dirga nekat, Ibu bilang saja mau bawa Zav pergi yang jauh.” 


Tatapan pria itu kembali mengarah kepada sosok cantik yang duduk di belakang. Terlihat lega saat mendapati wajah suram sang istri bos tersebut.


Sementara Lula yang menyadari maksud ucapan Jeff lantas menutupi seringainya dengan jari. Lalu kemudian kembali memasang wajah sedih. 


Gawat ini! batin Jeff.


Panik, sudah pasti! Jika Lula memberi bosnya izin menikah lagi, bisa layu bunga sebelum berkembang. Demi apapun Jeff tak akan rela.


“Bukan dosa kalau istri yang satu ikhlas. Iya kan Bu? Masa sih Ibu rela aja kalau bapak mau menikah lagi.” Sebuah pertanyaan mendesak yang membuat Lula ingin tertawa. 


“Saya ikhlas kok kalau Mas Dirga mau menikah lagi,” ujarnya sambil sesekali melirik kaca spion. Dari sana ia dapat melihat wajah Jeff yang mulai memucat.


Lah, kok malah didukung? gerutu Jeff dalam hati.


"Tapi, Bu ..."


Belum sempat Jeff menyelesaikan kalimatnya, Lula sudah memotong.


“Lagi pula Mentari kan belum punya pacar! Dia juga belum dilamar laki-laki manapun. Jadi kalau Mas Dirga mau melamarnya, kan tidak akan ada yang keberatan.” 


Jeduar! 


Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Jeff terasa gemetar mendengar ucapan sang nyonya  bos. 


Tidak!  jerit Jeff dalam batin.


*


*


*