
Pernikahan adalah penyatuan dua insan yang berbeda. Selain itu, pernikahan juga menyatukan dua buah keluarga dengan karakter dan budaya berbeda. Dan setiap orang pun memiliki cara tersendiri dalam memaknai sebuah pernikahan, karena masing-masing orang memiliki warnanya sendiri.
Bagi Dirga Mahendra, mungkin pernikahan kali ini terasa sangat berbeda, lebih berwarna, lebih indah dan hangat. Sebab pernikahan sebelumnya dibangun atas dasar keterpaksaan dan tanggung jawab semata. Tanpa adanya cinta.
Matanya bersinar saat tatapannya mengarah pada sosok anggun yang sedang berjalan ke arahnya dengan kepala tertunduk. Kebaya putih yang membalut tubuh Lula semakin memancarkan aura cantiknya. Dirga terpaku hingga tak kuasa untuk mengalihkan pandangannya. Hingga saat wanita itu duduk manis di sisinya.
Momen sakral itu pun dimulai. Suasana di dalam ruangan luas yang tadinya ramai menjadi hening.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Lula Mariana binti Suherman Ashari dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin berlian dibayar tunai karena Allah.” Suara lantang Dirga menggema melalui pengeras suara, membuat semua orang yang hadir menyerukan kata sah, lalu diikuti dengan pembacaan doa.
Larut dalam rasa bahagia, tanpa terasa setitik air mata menetes di ujung mata Lula. Pagi ini, sekali lagi Dirga telah mengucapkan ijab kabul atas namanya. Wanita itu pun mencium punggung tangan suaminya yang kemudian dibalas Dirga dengan kecupan sayang di kening.
Acara digelar secara sederhana dan hanya melibatkan kerabat serta anggota keluarga. Namun tetap berlangsung khidmat dan lancar. Semua orang turut bahagia dan ikut mendoakan kebahagiaan pasangan itu.
Sama seperti Dirga dan Lula, Mama Diana pun tak kalah bahagianya. Akhirnya putra semata wayangnya menemukan seorang wanita yang benar-benar mencintainya. Bukan lagi seorang istri yang hanya ingin memanfaatkan keadaan dan menekannya dengan kesalahan masa lalu.
“Selamat ya, Ana ... aku ikut bahagia untuk Dirga dan Lula,” ucap seorang wanita yang merupakan kakak kandung Mama Diana. “Semoga mereka selalu bahagia.”
“Terima kasih, Mbak Dini. Akhirnya Dirga menemukan seorang istri yang benar-benar menganggapnya sebagai suami,” balas Mama Diana seraya mengusap air mata haru yang menetes di ujung matanya.
“Alhamdulillah. Allan juga sempat terjebak dengan wanita yang salah. Tapi syukurlah, sekarang mereka semua bahagia. Allan dengan Giany dan Dirga dengan Lula,” ucap Bu Dini, yang merupakan ibu dari Dokter Allan.
“Dan sebentar lagi, Jeff dan Mentari juga akan menikah,” tambah Mami Joanna dengan senyum cerah di wajahnya. Wanita bule itu menatap wanita di sebelahnya. “Maaf ya, Mbak Dini. Saya jadi banyak merepotkan.”
Setelah Jeff melamar Mentari, untuk sementara gadis itu tinggal di rumah keluarga Dokter Allan demi menghindari fitnah.
“Tidak apa-apa, Mbak Joanna. Saya senang Mentari tinggal di rumah. Giany jadi ada temannya. Mentari itu gadis yang baik, dia juga pintar masak.”
"Semoga mereka saling cocok. Jeff itu kan anaknya dingin, sementara Mentari agak pemalu."
.
.
.
.
Acara masih berlangsung. Dirga dan Lula menyalami tamu-tamu yang hadir. Garis kebahagiaan tampak jelas di wajah keduanya.
“Sayang ... malam ini nginap di hotel yuk. Jangan di rumah. Terus, Zav nya titip dulu sama mama.” Dirga merangkul pinggang istrinya dan membawanya untuk duduk di kursi setelah menyalami beberapa tamu.
“Memang kenapa kalau nginap di rumah?” tanya Lula sedikit heran.
“Kan di rumah ramai, ada banyak orang. Pasti banyak gangguan malam ini.”
“Ya tidak enak, Mas. Masa banyak keluarga yang datang kitanya malah nginap di hotel.”
“Mereka juga pasti mengerti kalau pengantin baru itu butuh waktu berdua.”
“Tapi kita kan bukan pengantin baru,” ucap Lula mengingat pernikahan mereka yang memang telah berjalan setahun.
Dirga menarik napas dalam. Mendadak terlihat lemas.
"Gagal nih baju zebranya."
***