HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Pertemuan Tak Terduga



Dirga tertawa kecil sambil menggelengkan kepala menatap punggung istrinya yang berjalan dengan cepat menuju toilet. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa tingkah Lula semakin menggemaskan. Terutama saat sedang merajuk atau merayu dengan gaya centil seperti tadi. Hal yang membuatnya ingin mempercepat pernikahan mereka. 


“Awas saja kalau sudah sah nanti. Akan aku buat kamu memohon ampun.” 


Ia menatap beberapa paper bag milik Lula dan Mama Diana yang tergeletak di lantai. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka beberapa pesan yang belum terbaca.


Salah satunya dari Jeff. Hari ini Dirga tidak berangkat ke kantor, mungkin Jeff dan sekretarisnya akan repot dengan beberapa pekerjaan. 


"Bentar ya, Zav. Ayah balas pesan dari Om Jeff dulu. Eh, kamu tahu nggak, Om Jeff lagi kasmaran. Dia pasti kerjanya tidak beres ini."


.


.


.


.


Bruk! Ponsel milik Lula terjatuh ke lantai saat dirinya tiba-tiba ditabrak seseorang dari sisi kanan yang membuat tubuhnya hampir terjatuh juga.


“Maaf, saya tidak sengaja.” Seorang pria dengan cepat berjongkok meraih ponsel yang jatuh di antara kedua kakinya. 


“Tidak apa-apa. Maaf saya tidak juga tidak lihat-lihat,” balas Lula. 


Buru-buru pria itu memeriksa dan memastikan ponsel wanita yang baru saja ditabraknya tidak mengalami kerusakan. Ia tampak bernapas lega saat mendapati ponsel mahal di genggamannya masih dalam kondisi utuh. 


“Hapenya baik-baik saja, kok.” Ia mengulurkan tangan demi menyerahkan ponsel. Namun tiba-tiba mematung saat menatap wanita yang berdiri tepat di hadapannya. 


“Kamu ... Lula?” ucapnya dengan mata membulat penuh.


Hal yang sama pun terjadi pada Lula. Ia juga tak menyangka bahwa pria itu adalah seseorang yang dikenalnya di masa lalu. 


“Ka-kamu?” 


Raut wajah terkejut pria itu pun berganti menjadi senyum lebar, ternyata wanita itu masih mengingatnya. Ia memandangi Lula dari ujung kaki ke ujung kepala.


“Hai Lula. Kamu masih ingat aku? Apa kabar?” 


Lula menarik napas panjang, lalu dengar raut wajah malas menjawab, "Baik!"


Meskipun melihat betapa ketusnya Lula, namun tak membuat pria itu sadar diri.


“Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini.” Ia masih tersenyum. Kali ini mengulurkan tangan, namun Lula tampak enggan untuk menyambut. Tak ingin berlama-lama dengan pria itu, Lula pun memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


“Maaf, aku sedang buru-buru. Permisi!” Ia hendak melangkah, namun pria itu malah menarik pergelangan tangannya hingga langkah kaki Lula terhenti. 


“Ayolah, Lula ... Kamu masih marah soal yang dulu itu ya? Aku kan sudah minta maaf sama kamu.” 


“Lepaskan aku!” pekik Lula menghempas tangan pria itu dengan kasar. 


“Ok.” Ia mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Masih dengan tatapan yang menyiratkan rasa penasaran. “Kita kan sudah lama tidak bertemu. Kamu sekarang beda ya. Jadi makin cantik! Apa kamu tidak punya waktu untuk sekedar ngopi sama aku?”  


“Aku tidak punya waktu untuk orang seperti kamu!” 


Napas Lula menjadi lebih cepat sekarang. Rasa kesal dan marah bercampur jadi satu dan merasuk ke hatinya, berikut ingatan-ingatan buruk tentang pria di hadapannya. Jika bisa memilih, ingin rasanya menghilang saja agar tak perlu bertemu dengan pria brengsek ini. 


“Kamu masih galak seperti dulu, tapi aku suka.” 


Dengan tidak sopannya, ia mencengkram lengan Lula. Tanpa disangka, Lula bereaksi dengan cepat. Menekuk lutut dan mengarahkan ke bagian paling mematikan pria itu.


Mendadak wajahnya berubah merah. Rasa sakit tak terkira pun menjalar yang membuat dua tangannya refleks memegangi benda paling berharga miliknya.


“Kamu juga masih sama seperti dulu. Tetap gila, kurang ajar dan perlu dimusnahkan!”


Lula mengusap-usap lengannya yang baru saja disentuh pria itu, lalu tanpa memerdulikan apapun segera melangkah pergi.


***