HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Zebrangin Kamu!



“Lula, yuk ganti baju, terus kita ke mall. Kita kan belum pernah jalan-jalan selama beberapa bulan ini,” ajak Mama Diana yang kemudian disambut Lula dengan penuh semangat.


“Ayo, Mah.” Lula langsung bangkit dari duduknya. Setelah melewati hari-hari yang berat, mereka memang belum pernah menghibur diri dengan bepergian atau pun belanja. 


"Aku ganti baju dulu ya, Mas. Titip Zav sebentar." Kemudian melangkah menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar Mama Diana.


Rahang Dirga terbuka lebar, manik hitamnya mengikuti kemana langkah dua wanita itu. Para wanita memang sulit ditebak dan sangat mudah berubah. Setidaknya pikiran itu yang kini memenuhi kepalanya.  


“Tadi katanya ogah, sekarang malah semangat.” Ia menatap Baby Zav yang begitu tenang di pangkuannya. “Zav, perempuan itu aneh, ya? Oma sama bunda itu sama. Kayak jaksa penuntut umum yang tidak pernah salah.” 


.


.


.


Dan, akhirnya acara jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan pun berlangsung. Mama Diana dan Lula mengunjungi beberapa toko sepatu, tas dan pakaian terkenal.


Sembari menunggu Lula dan Mama Diana berbelanja, Dirga mendorong stroller bayinya menuju sebuah sofa panjang di dekat meja kasir. Menjaga Zav yang sedang terlelap sambil memainkan ponselnya.


“Bukannya tadi bilangnya tidak mau belanja. Malah sekarang semua diborong,” protes Dirga melihat setumpukan belanjaan Mama Diana dan Lula yang sudah menggunung di meja kasir. 


“Kan kamu yang menawarkan. Bukan salah mama kalau belanja banyak,” sindir Mama Diana. “Lagi pula kamu kan dulu pakai kartu kredit mama untuk bayar taruhan. Sekarang giliran mama yang mau pakai kartu kredit kamu untuk belanja sepuasnya.” 


"Iya, iya!" sahut Dirga yang langsung terdiam ketika aib masa lalunya diungkit.


Tak lama berselang, seorang karyawati toko datang dengan membawa sebuah kotak. "Bu, ini sepatunya. Adanya tinggal satu warna yang ukuran ini. Silahkan ibu coba dulu."


"Ya sudah, saya coba dulu ya." Mama Diana berjalan menuju sofa. "Dirga geser sedikit, mama mau coba sepatunya."


Pasrah, Dirga pun berdiri dari duduknya. Kemudian menatap Lula yang sedang memilih pakaian dari jarak yang tak begitu jauh.


"Mah, aku ke sana sebentar ya, titip Zav."


"Iya," sahut Mama Diana membuat Dirga melangkah mendekati istrinya.


Sambil menatap Lula, ia bersandar di pilar dekat ruang fitting. Sesekali Dirga terkekeh saat mendapati ekspresi terkejut Lula ketika memeriksa label harga pada pakaian-pakaian yang sempat dilihatnya.


"Beli aja. Kenapa sih, lihat-lihat label harga terus?"


Lula menoleh sekilas dan meletakkan kembali pakaian di gantungan. "Harga satu baju di sini tiga kali lipat gaji aku di WO nya Bu Alika tahu, Mas. Kalau aku ambil sepuluh, itu sudah gaji semua karyawan."


Lula masih sibuk memilih pakaian. Binar bahagia matanya terlihat jelas saat menemukan sebuah dress yang sesuai seleranya. "Mas, ini bagus, ya?"


Dirga menatap dari ujung kaki ke ujung kepala. "Biasa aja."


"Kalau yang ini?" Lula menunjukkan pakaian lain dengan warna dan model yang berbeda.


"Biasa juga."


"Masa sih? Terus bagusan yang mana?" sahut Lula seraya memperhatikan pakaian di tangannya.


Pria itu mendekat pada istrinya dan menunjuk ke satu sisi, di mana terdapat bagian khusus pakaian dalam wanita. Mungkin menggoda Lula yang polos akan menyenangkan sore ini.


"Lihat yang itu deh!" bisik Dirga membuat pandangan Lula mengikuti arah yang ditunjuk suaminya.


Bola mata wanita itu pun seketika melebar melihat sebuah pakaian tipis berenda hitam yang ditunjuk suaminya. Baru menatap bentuknya yang seksi dan transparan saja sudah membuat Lula merinding. Apa lagi jika membayangkan pakaian itu membalut tubuhnya.


"Kalau yang itu pasti cantik kalau kamu yang pakai. Beli itu, ya! Buat malam kedua kita!" pinta Dirga tanpa basa-basi.


Jika Dirga pikir semburat merah akan terlihat di pipi Lula karena malu mendengar ucapan vul'gar suaminya, maka Dirga salah besar. Dengan percaya dirinya, wanita itu malah berjalan santai menuju stand pakaian dalam khusus wanita.


"Ini bagus ya, Mas?" Lula membentangkan lingerie bermotif renda berwarna peach seraya mengedipkan kelopak mata kiri dengan menggoda.


Dirga menarik napas dalam. Mengangguk pelan. "Lu-lumayan, Sayang."


"Dan yang ini?" Ia meraih sebuah lingerie transparan berbentuk flamingo.


Membuat Dirga menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah yang mulai memerah. Otak kotornya sudah membayangkan wujud Lula ketika mengenakan pakaian kurang bahan itu.


"Itu juga bagus. Tapi lebih bagus lagi isi dalamnya."


Akhirnya, Lula meraih sebuah lingerie yang menurutnya paling menantang yang menggantung di antara beberapa lingerie lainnya.


"Kalau yang satu ini bagaimana?" tanyanya seraya membentangkan lingerie bercorak hitam putih menyerupai kulit zebra.


Melihat itu, Dirga pun mulai oleng dan mendadak memijat pangkal hidungnya.


"Jangan deh! Kalau beli motif zebranya sekarang, bisa-bisa aku zebrangin kamu malam ini."


...........