
“Pelan-pelan duduknya.” Jeff membantu Mentari untuk kembali duduk di kursi roda, setelah hampir dua jam mereka habiskan untuk melatih otot-otot kakinya. Mentari masih perlu melakukan beberapa pengobatan setelah kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu.
Gadis berwajah pucat itu menatap kakinya yang masih tampak gemetar akibat lelah. Jeff berjongkok di hadapannya dan memberi pijatan lembut pada telapak kaki dan juga jari-jarinya, menciptakan semburat merah di pipi yang tadinya pucat itu.
“Mendingan?” tanya Jeff dengan seulas senyuman tipis yang terbit di sudut bibirnya.
Dengan malu-malu, Mentari mengangguk pelan. “Terima kasih, Kak!” Sehingga Jeff meletakkan telapak kakinya pada foot rest kursi roda.
“Kamu mau minum?” Seraya meraih tissue dan menyeka keringat yang membasahi kening gadis itu.
“Iya. Maaf merepotkan,” balas Mentari dengan kepala tertunduk malu. Ia merasa sangat merepotkan Jeff beberapa hari ini.
Jeff pun meraih sebotol air mineral yang sudah ia siapkan sebelumnya, membuka segel penutup dan memberikan kepada Mentari.
“Perhatian sekali, ya si Jeff,” bisik Dirga yang sedari tadi menunggu bersama Allan dengan duduk di sebuah kursi panjang di sudut ruangan itu.
“Iya. Tidak seperti kamu,” sindir Dokter Allan lagi, kali ini diiringi gelak kecil yang mau tak mau membuat Dirga mendengus kesal.
Sepertinya sekeluarga sedang kompak julid. Sabar hati ...
.
.
.
“Maaf kalau kedatangan saya mengganggu kamu. Tapi ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan kepada kamu.” Dirga memulai pembicaraan. Saat ini, mereka masih berada di ruang tunggu.
“Tidak apa-apa, Kak. Tanyakan saja.”
“Jeff bilang ... kamu orang terdekat Azka. Maaf, saya tidak bermaksud menggali luka lama. Kita semua terluka dengan kepergian Azka. Tapi saya belum pernah dengar sebelumnya kalau Azka dekat dengan seseorang.”
Mentari mengangguk pelan. “Iya Kak. Kak Azka memang meminta untuk merahasiakan karena waktu itu dia terlibat masalah dengan Hito dan Vino. Katanya, saya bisa ikut terseret ke dalam masalah.”
“Apa kamu ada di malam kejadian itu?”
Ingatan Mentari berputar ke masa lalu. Ia masih bisa mengingat kejadian nahas itu meskipun samar-samar.
“Malam itu Kak Azka dapat telepon dari Hito untuk bertemu di hotel. Saya menunggu Kak Azka di mobil. Setelah hampir dua jam menunggu, dia kembali dalam keadaan setengah mabuk dan panik. Kak Azka bilang ... Hito mau menjebaknya. Dia harus segera ke kantor polisi untuk melaporkan Hito yang sudah menikam Vino. Tapi belum jauh dari hotel, mobilnya menabrak trotoar. Saya tidak ingat lagi apa yang terjadi, karena saat terbangun saya sudah ada di dalam sebuah kamar, sejak saat itu saya disekap Hito.”
Perlahan Dirga mulai dapat mengurai benang kusut di otaknya. “Terus, keluarga kamu di mana?”
“Saya tidak punya siapa-siapa, Kak. Maaf, saya banyak merepotkan,” jawab Mentari diikuti raut sedih di wajahnya.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu tenang saja, sekarang kamu aman. Saya akan menanggung semua biaya pengobatan kamu sampai sembuh. Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal beritahu Jeff saja.”
“Terima kasih, Kak.”
Di sisi lain, Dokter Allan dan Jeff menunggu di luar ruangan. Sejak tadi Jeff tampak gelisah menunggu sambil sesekali melirik ke arah sana.
Ruangan yang terhalang dinding kaca tebal itu membuat mereka tidak dapat mendengar isi pembicaraan antara Dirga dan Mentari.
"Kamu awasi dia, Jeff! Kamu tahu kan, kelakuan bos kamu itu, dia punya mekanisme yang aneh dalam hal bertanggungjawab." Ucapan Dokter Allan yang menekan kata 'bertanggungjawab' membuat Jeff semakin frustrasi.
.
.
.
Dirga mungkin menyesali kebodohannya di masa lalu yang begitu mudahnya tertipu oleh Hito dan Alika. Karena merasa berhutang nyawa, ia memutuskan untuk menebus kesalahan fatal kakak kandungnya dengan menikahi Alika.
Dua tahun ia habiskan bersama wanita itu dalam biduk rumah tangga yang bisa dibilang tidak sehat, yang akhirnya berujung pada kekecewaan.
“Jeff ... Saya mau jual rumah yang pernah saya tempati bersama Alika. Tolong kamu saja yang urus semuanya.”
Jeff yang sedang memeriksa beberapa berkas terlihat terkejut mendengar ucapan tuannya. “Kenapa mau di jual, Pak? Rumah itu kan masih terbilang baru.”
“Saya mau beli rumah lain yang nanti akan saya tempati bersama Lula. Di rumah yang sekarang itu terlalu banyak kenangan buruknya.”
“Oh ...” Jeff mengangguk mengerti. “Baik, Pak. Akan saya urus secepatnya.”
“Bagaimana dengan Mentari? Dia tinggal di mana sekarang?” tanya Dirga membuat Jeff mematung beberapa saat.
“Emh ... untuk sementara, Mentari tinggal di apartemen saya, Pak!”
“Haa!” Dirga memelototkan matanya. Antara percaya dan tidak. Sebab Jeff bukanlah tipe orang yang mau direpotkan dengan urusan wanita.
"Kenapa, Pak?"
“Hati-hati kamu. Biasanya kalau tinggal berdua, pihak ketiga itu setan!”
Membuat Jeff menarik napas dalam, kemudian tersenyum. "Di apartemen, ada ibu saya kok, Pak! Jadi tidak akan ada setan seperti yang Bapak maksud," ucap Jeff menyindir.
Kok sialan ini orang! gerutu Dirga dalam batin. Tetapi tentu saja pria itu tidak akan berani memaki Jeff karena apa yang diucapkan Jeff adalah benar adanya. Mungkin mengalihkan pembicaraan dapat menyelamatkan wibawa seorang Dirga Mahendra.
"Oh ya, Jeff. Setelah sidang putusan cerai dengan Alika, mungkin kamu akan direpotkan dengan rencana pernikahan saya," ucap Dirga membuat mata Jeff membeliak.
buset!
"Bapak mau menikah lagi?"
"Iya lah!"
Jeff mengusap tengkuk lehernya, menatap Dirga penuh selidik. "Memang boleh sama Bu Lula?"
"Kenapa tidak?" jawabnya dengan mantap, seraya membubuhkan tanda tangan pada beberapa berkas dengan gaya santai.
Pikiran Jeff langsung tertuju pada satu nama.
Mentari!!!!
.
.
.
.
...Gak usah di Vote ya gengs ...
...Kalian baca sampai End aja udah seneng banget. ...
...Salam sayang Selalu ...
...😘😘😘...