
Dirga belum dapat meredam tawa sejak beberapa menit lalu. Reaksi Lula yang panik dan malu saat ia menjahilinya benar-benar menimbulkan sensasi yang menggelitik perut. Betapa tidak, wanita itu mendadak pucat dan ketakutan, padahal tadi di mall caranya merayu sangat menantang dan berani.
“Dasar koala! Giliran ditantang malah ketakutan.”
Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Sudah beberapa kali terdengar nada pengingat pesan yang diabaikannya. Begitu membuka ponsel, telah ada beberapa pesan yang belum terbaca, salah satunya dari Jeff. Ia lantas menekan simbol hijau untuk segera terhubung.
“Ada apa, jeff?” tanya Dirga sesaat setelah panggilan terhubung.
“Tadi siang Mbak Shanty ke kantor. Katanya janjian sama Bapak mau fitting pakaian.”
"Tolong kamu jelaskan ke dia, saya sibuk."
"Bapak saja lah. Kan bapak tau bagaimana kalau Mbak Shanty marah. Tadi sebelum pergi, dia bilang mau tunggu Bapak di apartemen saja.”
Dirga pun berdecak frustrasi. “Ya sudah, saya ke sana sekarang.”
Panggilan terputus. Dirga menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah.
Butuh dua puluh menit perjalanan untuk tiba di apartemen yang sudah ia huni sejak beberapa waktu lalu. Begitu tiba di parkiran, bersamaan dengan sebuah mobil yang juga baru tiba.
Dirga menoleh, tampak seseorang berambut panjang dengan dress pendek yang memamerkan kaki mulusnya berjalan dengan anggun ke arahnya.
“Hai, Mas Dirga. Kamu dari mana aja sih? Dari siang aku tunggu loh!” ucapnya dengan gaya centil.
“Maaf Shan, saya sibuk hari ini.” Dengan sikap acuh tak acuh, Dirga berjalan menuju lift lebih dulu, sehingga wanita cantik yang kerap disapa Shanty itu mengikuti di belakang punggungnya.
“Mas ganteng tunggu!” panggilnya lagi. Kali ini sudah dalam posisi berjalan beriringan.
Dirga memutar bola matanya malas, kemudian melirik wanita cantik yang tengah berjalan di sisinya. Dengan gerakan spontan ia menarik tangannya ketika wanita itu mencoba untuk merangkul.
“Ada apa sih? Jangan pegang-pegang nanti dilihat orang!” ujarnya agak kesal.
“Jutek amat, Mas. Kan cuma mau bareng ke lift. Unit kita kan sebelahan.”
“Sana lewat tangga darurat!” Dirga menunjuk sebuah pintu di mana terdapat tangga darurat.
“Capek kalau lewat tangga darurat. Kalau naik tangganya sama Mas Dirga sih aku rela.” Ia bergelayut manja di lengan pria itu yang membuat Dirga merasa merinding.
“Heh, tidak usah dekat-dekat seperti itu. Saya tidak mau kena fitnah penghuni apartemen ini, ya!”
Bibir wanita itu sudah mengerucut. Jika saja itu Lula, Dirga pasti sudah gemas setengah mati. Namun, sangat berbeda dengan wanita di hadapannya sekarang. Tingkahnya menggigiti bibir bawah membuat Dirga ingin menarik rambut panjangnya hingga tercabut dari kulit kepala.
"Ah, galaknya. Tapi aku suka." Ia mengedipkan kelopak mata hingga bulu mata lentiknya ikut menari-nari.
"Itu bulu mata apa sapu ijuk?" ketus Dirga.
"Tega kamu, Mas!" Sambil melayangkan pukulan ke lengan.
Perjalanan dari lantai dasar ke lantai tujuh belas pun terasa sangat lama bagi Dirga, karena wanita itu tak henti-hentinya merayu.
Pintu lift terbuka. Dirga melangkah keluar disusul wanita itu. Namun, saat telah di ambang pintu, hak sepatunya terselip membuat wanita itu terjerembab ke lantai.
Bruk!
Dirga spontan menoleh saat mendengar suara gaduh di belakangnya. Yang kemudian disusul oleh raungan pilu.
"Aah sakit!" ringis wanita itu.
"Kamu sengaja jatuh ya?" tuduh Dirga yang masih berdiri tegak tanpa berniat menolong wanita itu.
"Mana ada orang sengaja jatuh, Mas! Tolongin kenapa, kaki aku keseleo kayaknya ini!" Sambil memegangi pergelangan kaki kirinya.
Meskipun merasa sangat malas, namun sebagai tetangga yang baik, Dirga tetap menolong. Membantu wanita itu berdiri dan memapahnya.
"Ya sudah, sini! Kamu jadi tetangga kok bikin repot terus?"
Dirga menghempas tubuh Shanty ke sofa dengan sedikit kasar, yang membuat wanita itu kembali meringis.
"Ah, sakit tahu Mas! Lembut sedikit kenapa sama wanita?"
"Maaf, saya memang sengaja!" balas Dirga yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah. "Mana kakinya yang keseleo?"
"Ini, yang kiri."
Tanpa banyak bicara, Dirga mengangkat pergelangan kaki wanita itu dan meletakkan ke atas meja, hingga memamerkan bentuk kakinya yang panjang dan mulus.
"Ini mau diapakan, Mas?"
"Mau saya patahkan!" jawab Dirga membuat Shanty melotot. "Mau tolong kamu, Shanty! Katanya keseleo."
"Iya, tapi pelan-pelan." Seraya menutupi celah di antara kedua paha mulusnya dengan malu-malu.
Dirga melirik sekilas. "Dibuka juga saya tidak akan napsu sama kamu!"
"Kali aja kamu khilaf."
"Kalau mau khilaf sudah dari tadi saja dengan istri saya."
"Hehe, kali aja mau cari pelampiasan dulu sebelum menikah secara resmi. Oh, ya ... Persiapan pernikahan kamu dengan Mbak Lula sudah 90 persen rampung. Tinggal kamu fitting bajunya aja."
"Makasih! Nanti saya transfer bonus ke rekening kamu."
Dirga memutar pergelangan kaki wanita itu, kemudian melakukan ancang-ancang untuk menariknya.
Grak!
"Sakit!" jerit Shanty sekuat tenaga, hingga Dirga menutupi daun telinganya dengan telapak tangan.
"Bisa tidak jangan teriak! Kamu mau satu penghuni apartemen bangun karena teriakan kamu?"
Ia seketika membungkam, matanya seketika berbinar saat merasakan pergelangan kakinya yang sudah tak sesakit tadi. Malah kini dapat digerakkan dengan leluasa.
"Eh, tidak sakit lagi. Makasih Mas Ganteng." Ia tersenyum sumringah. "Kamu memang tetangga idaman. Beda sama Mas Jeff. Tetangga masa gitu! Mas Jeff pernah loh, tendang kaki saya sampai jatuh dari tangga."
"Savage juga si Jeff. Tapi kamu memang pantas digituin!"
Shanty merenggut kesal.
"Sudah ah, saya mau pulang!" Lalu beranjak menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampak Jeff sudah berdiri di sana dengan raut wajah khawatir.
"Apa?" tanya Dirga.
Jeff melirik sekilas sosok yang tengah duduk di sofa dengan posisi menggoda, yang membuatnya merasa merinding.
"Saya dengar suara Mbak Shanty teriak. Takut Bapak diapa-apain sama dia. Nanti Bapak diminta tanggung jawab lagi." Memikirkan tanggung jawab ala Dirga membuat Jeff kembali merinding.
Baru saja mereka akan melangkah pergi, sudah terdengar panggilan lagi dari dalam.
"Mas, mau nginap di sini, tidak? Akan aku servis malam ini." Masih dengan gaya centil dan menggoda seraya mengelus paha putih mulusnya.
"Ogah! Ngapain nginap di sini? Mau main pedang-pedangan sama kamu?" ketus Dirga.
***