
"Maaf, Al." Dirga meraih tissue dan mengusap bibirnya sendiri.
"Kamu sengaja ya, menyembur aku dengan kopi hitam?" pekik Alika dengan kesal.
"Mana aku sengaja, Al. Dari pada kena Zav, kan mending kena kamu," balas Dirga membuat bola mata Alika membulat.
"Apa maksud kamu?!"
Luapan kesal dan marah terlukis jelas di wajah Alika. Dirga pun menggeser menjauh sambil mendekap erat tubuh mungil Zav. Khawatir jika putranya akan terkejut dengan suara menggelegar ibu tirinya itu.
"Apa sih Al? Kamu tidak perlu semarah itu. Kan bisa langsung cuci muka."
Di ambang pintu, Lula mengatupkan bibirnya seraya menatap Dirga dan Alika bergantian. Jika tidak takut Alika akan mengomel, ia pasti sudah tertawa terbahak.
Sementara Dirga meneliti wajah dan tubuh Zav demi memastikan semburan kopi hitamnya tak sampai mengenai bayi kecil itu.
"Syukur tidak kena kamu, Nak," ucapnya seraya sesekali melirik Alika yang masih begitu kesal.
Lula pun melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan suaminya.
"Sini Zav sama aku, Mas."
Lula membungkukkan tubuhnya untuk mengambil Zav dari pangkuan Dirga, sehingga pakaian mini yang ia gunakan tersibak dan semakin menunjukkan belahan dadanya yang padat berisi.
Deg! Deg! Deg!
Bagai genderang yang ditabuh dengan kencang, seperti itulah irama jantung Dirga. Dua buah bukit kembar itu membuat pandangannya terpaku bahkan begitu sulit baginya untuk mengedipkan kelopak matanya. Seolah ia ingin tenggelam di sana saja.
Tak tahan rasanya Alika melihat ekspresi wajah suaminya itu, yang seolah begitu terpikat dengan pesona Lula.
Alika bangkit dari duduknya. Melotot marah dengan wajah yang masih menghitam di beberapa bagian akibat semburan kopi.
"Kamu sengaja kan menggunakan pakaian terbuka seperti itu untuk merayu Dirga?" pekik Alika menunjuk-nunjuk Lula. Membuat Lula menaikkan kedua alisnya dan menatap Dirga.
"Apa kamu tergoda, Mas?"
Tak tahu harus menjawab apa, Dirga hanya mampu terdiam, seraya melirik Lula dan Alika bergantian.
Bagaimana dirinya tidak tergoda, lekukan tubuh Lula dan kulit putih mulusnya saja sudah membuat imajinasinya melayang-layang. Dirga bahkan merasa kehilangan akal sehatnya.
Ia menghela napas panjang.
Diamnya Dirga pun membuat Alika semakin kesal. Ia berdiri dari duduknya, seperti biasa berjalan menuju kamar dengan menghentakkan kakinya cukup keras dan membanting pintu.
"Maaf, Mas," ucap Lula membalikkan tubuhnya dan masuk ke kamar dengan membawa Zav bersamanya.
Tinggallah Dirga seorang diri, menyandarkan punggung di sofa dan memijat pangkal hidungnya.
"Kata siapa punya dua istri enak?"
.
.
Setibanya di kamar, Lula membaringkan Zav dan mencium kedua pipinya. Ia mulai menyusui bayi kecilnya itu.
Menatap langit-langit kamarnya, ingatan Lula kembali terarah pada hari di mana ia menemukan sebuah rahasia besar.
Beruntung Dokter Allan bersedia membantu sehingga Lula dapat mengatasi segala kesulitan.
Terlebih, kegilaannya hari ini menggunakan pakaian kurang bahan adalah karena saran dari istri Dokter Allan dan didukung penuh oleh Mama Diana.
Lula menarik napas dalam sambil memperhatikan pakaian tipis yang membalut tubuhnya.
.
.
.
FLASHBACK
Hari itu Lula menemui Dokter Allan di ruangannya sebelum pulang ke rumah. Ia juga telah menceritakan temuannya kepada sang dokter.
"Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dengan mengatakan itu kepada Dirga meskipun yang kamu katakan adalah benar adanya," ucapan Allan kala itu masih terngiang di benak Lula.
"Karena Alika akan menjadikan itu sebagai senjata untuk menjatuhkan kamu."
"Lalu saya harus bagaimana, Kak?"
"Ada cara, tapi itu akan sangat berbahaya."
"Bagaimana?" tanya Lula semakin penasaran.
"Penuhi keinginan Alika untuk merebut Zav dari kamu."
"Tidak! Saya takut Bu Alika akan menyakiti Zav."
"Karena itulah kamu harus main cantik. Kamu harus bisa masuk ke rumah Dirga dan tinggal bersama mereka untuk bisa membongkar kedok Alika. Dan Zav adalah satu-satunya yang bisa membawa kamu ke rumah itu."
"Caranya?" tanya Lula.
"Kamu tenang saja. Saya akan bantu."
"Pertama, rubah penampilan kamu. Kedua, kamu harus bisa merebut hati Dirga. Buat Dirga bergantung bahkan jatuh cinta dengan kamu. Tunjukkan kepada Dirga bahwa kamu adalah pilihan terbaik. Pelan-pelan, Dirga pasti akan menjauh dari Alika. Dan pada saat itu terjadi, maka bukan salahmu merebut suaminya," ucap Dokter Allan dengan penuh percaya diri.
Lula mengusap tengkuk lehernya di mana bulu kuduknya terasa berdiri.
"Kok ngeri ya, Kak. Seperti judul novel. 'Bukan Salahku Merebut Istrimu.' Ceritanya tentang seorang dokter yang jatuh cinta dengan pasiennya yang sudah bersuami."
"Kamu menyindir saya?" Ketus sang dokter membuat Lula tersenyum pelik.
****
Ini namanya PELAKOR yang belajar dari PEBINOR!
Eh jelaskan apa ini Miskah!!!!