
Dirga terduduk di sebuah kursi dengan tatapan nanar. Private room restoran mewah itu menjadi sunyi setelah kepergian semua orang. Jeff dan Pak Samudra harus ikut ke kantor polisi untuk menyelesaikan laporan, begitu pun dengan Dokter Allan yang menjadi saksi.
Dirga terdiam. Kejutan hari ini benar-benar bagai sebuah pukulan baginya. Memaafkan mungkin perkara mudah, sebab semua akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Tetapi untuk melupakan perbuatan keji yang dilakukan Hito dan Alika tentu tidak mudah.
Melihat betapa suram wajah suaminya, Lula pun mendekatinya. Wanita itu menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Dirga.
“Maafkan aku, Mas.” Lula menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu kamu sangat terluka dengan kenyataan ini. Apa lagi pelakunya adalah istri kamu sendiri. Aku tidak bermaksud mempengaruhi kamu untuk menalak dia.”
Lula menjadi ikut sedih. Masih begitu lekat terekam dalam ingatannya saat pertama kali mendatangi Dirga. Pria itu sempat menolak menikahinya karena mengaku sangat mencintai Alika dan tak ingin menyakitinya.
“Bukan itu yang membuat aku sedih, Lula.” Dirga menarik napas dalam, kemudian menyeka air mata yang mengalir di ujung matanya.
Lula masih menatapnya lekat. Dengan genggaman tangan yang semakin erat.
“Aku hanya merasa terlalu bodoh selama dua tahun belakangan ditipu mereka. Padahal Mama berulang kali mengingatkan aku.” Ia teringat semua perdebatan dengan Mama Diana yang dipicu oleh Alika. Setiap Mama Diana memojokkan Alika, Dirga selalu membelanya. Menyesal mungkin adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Dirga saat ini.
“Aku tahu Alika bukan istri yang baik. Dia tidak pernah peduli sedikit pun tentang aku. Dan aku menganggap memberi dia segalanya sebagai penebus dosa Kak Azka yang sudah menghancurkan dia. Aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa seperti ini. Mereka tega menghabisi dua nyawa hanya untuk harta.”
Tak sanggup menanggung rasa marah dan kecewa, Dirga pun merebahkan kepala di pundak istrinya itu, membuat Lula memeluknya dalam kesunyian.
.
.
.
.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Dirga setelah puas menumpahkan seluruh kesedihannya.
Mereka masih berada di ruang pribadi restoran itu. Di meja masih tertata beberapa menu makanan lezat yang sama sekali belum tersentuh. Karena baik Dirga maupun Lula kehilangan selera makan setelah kejadian tadi.
“Mau tanya apa, Mas?” Lula menuang air putih ke dalam gelas lalu menggeser ke hadapan suaminya. Dirga masih terlihat shock setelah kejadian tak terduga itu.
“Apa kamu sudah tahu tentang ini sebelumnya?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Dirga meneguk air putih yang baru saja diberikan Lula. Setidaknya, itu membuatnya merasa lebih baik.
“Kamu ingat hari kelahiran Zav?”
“Aku masih ingat. Ada apa dengan hari itu? Sebenarnya kamu jatuh sendiri atau—” Ucapan Dirga menggantung. Dugaan-dugaan mulai bermunculan di benaknya.
“Aku memang jatuh sendiri, Mas. Tapi itu karena aku terkejut dan tidak sengaja tersandung.”
“Terus?” Dirga semakin penasaran.
“Saat menunggu kamu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Bu Alika dan Hito. Aku sempat merekam pembicaraan mereka, lalu saat akan menjauh dari sana, aku tiba-tiba jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi. Aku baru sadar hape aku hilang besoknya.”
“Terus?” Saking penasarannya, hanya kata itu yang terus terucap dari mulut Dirga. Seolah memberi Lula ruang untuk menceritakan semuanya.
“Aku menceritakan semua kepada Dokter Allan. Lalu Jeff dan Dokter Allan mulai merencanakan semuanya. Termasuk meminta aku menyetujui keinginan Bu Alika untuk merampas Zav, supaya aku bisa masuk ke rumah kamu.”
“Dan Zav alergi itu sebenarnya tidak benar?”
Lula menggelengkan kepala pelan. “Maaf, Mas. Kamu pasti panik saat itu.”
“Bagaimana dengan mama? Apa mama tahu tentang semua ini?” Tiba-tiba rasa khawatir menjalar ke hati Dirga. bagaimana pun juga, Mama Diana pasti sedih jika mengetahui semua ini. Terlebih, Azka adalah anak sulung di keluarga Mahendra. Tak hanya menjadi korban pembunuhan, Azka juga mnejadi korban fitnah kejam atas kematian Vino.
“Mama sudah tahu semuanya. Makanya tadi pagi mama datang jemput Zav. Mereka sekarang ada di rumah mama.”
Dirga terdiam, seraya meraba sebuah kotak perhiasan yang terselip di saku jas yang tadi sengaja disiapkan sebagai kejutan untuk melamar Lula.
Tetapi sepertinya acara lamaran kali ini akan gagal, karena ia baru saja menjatuhkan talak untuk salah satu istrinya.
"Jadi kamu kerja sama dengan Jeff, mama dan Allan untuk membongkar topeng Alika dan Hito?"
Lula mengangguk lemah.
"Maaf, Mas. Tadinya aku berat, tapi Dokter Allan bilang ... Bukan salahku merebut suami orang," ucap Lula membuat Dirga tersedak udara.
***