
Jeff membukakan pintu mobil dengan muka kusut, bahkan laki-laki berbadan tinggi itu enggan tersenyum sekarang. Ia tak ubahnya dengan bunga layu di musim kemarau. Sangat muram dan kaku.
“Terima kasih ya, Jeff!” ucap Lula seraya menyematkan sebuah tas di bahunya. “Kamu langsung pulang saja. Nanti saya pulang sama Mas Dirga.”
“Yakin, Bu?” Seolah Jeff tak rela meninggalkan wanita itu.
“Iya, yakin. Terima kasih sudah repot-repot menjemput saya.”
“Baik, Bu. Tidak masalah,” jawab Jeff lesu.
Dua orang wanita berseragam tampak menyambut. Jeff hanya dapat menatap nanar punggung Lula yang semakin menjauh dan menghilang di balik sebuah pintu. Ia sudah sangat frustrasi sekarang. Bahkan ban mobil yang tak berdosa pun menjadi sasaran tendangan sepatu mahalnya.
Kok apes hari ini?!
“Lagi pula Mentari tidak punya pacar dan belum ada laki-laki yang melamarnya. Jadi kalau Mas Dirga melamar Mentari, tidak akan ada yang keberatan.” Ucapan Lula tadi masih membekas di ingatannya.
Jeff menjambak rambutnya. “Aku harus gerak cepat sebelum ditikung Pak Dirga.”
Tak ingin mengulur waktu, pria itu pun segera melajukan mobil meninggalkan restoran. Sebuah lagu berjudul 'Dia Milikku' dari Yovie And Nuno mengiringi perjalanannya yang menyebalkan.
.
.
.
.
Di balik kegalauan seorang Jeff Abraham, ada tawa menggema di sebuah ruangan pribadi restoran mewah. Entah setan mana yang merasuki jiwa sepasang suami istri itu, yang jelas mereka sangat puas setelah berhasil menjahili sang asisten.
“Kamu kok bisa kepikiran untuk menjahili si Jeff? Kasihan tahu, Mas!” ucap Lula setelah mampu meredam tawanya.
“Salah sendiri kemakan omongan si Allan. Sekalian saja aku kerjain.”
“Terus habis ini Jeff mau apa kira-kira?”
“Pasti ke toko perhiasan beli cincin buat melamar si Mentari.” Dirga mengusap ujung matanya yang basah karena tertawa. “Dia kelamaan jomblo makanya jadi kaku.”
“Tidak jauh beda dari kamu. Memang kamu tidak merasa kaku?” Sebuah sindiran pedas baru saja dilayangkan Lula yang berhasil membungkam suaminya itu.
“Maaf, Sayang.” Jurus andalan sudah keluar, maka Lula hanya dapat menarik napas dalam-dalam.
Beberapa pramusaji pun datang dengan sebuah troli makanan, yang kemudian mereka hidangkan ke atas meja. Makan malam romantis dengan tema candle light dinner adalah kejutan indah yang ingin dipersembahkan Dirga untuk istri sirinya itu—dengan alunan biola sebagai pelengkap.
"Kamu suka makan steak kan?" Dirga menatap lekat istrinya yang tampak semakin cantik dengan pencahayaan temaram.
"Sini aku potongkan dagingnya." Ia meraih piring dan memotong daging hingga kecil-kecil.
Makan malam pun berlalu dengan beberapa obrolan basa-basi. Baik Dirga maupun Lula sangat menikmati kebersamaan malam ini. Sebab ini adalah kencan pertama sepanjang sejarah rumah tangga mereka.
Dirga meraih jemari wanita yang duduk di sebelahnya, yang mana membuat wajah Lula bersemu merah ketika bibir suaminya menyentuh punggung tangannya.
"Terima kasih sudah berdandan cantik malam ini. Kamu usaha banget ya, kayaknya," ucap Dirga spontan.
"Kan kamu yang minta aku dandan secantik mungkin."
"Iya sih." Dua pasang mata itu kembali bertemu. Tatapan yang seolah mampu menyiratkan perasaan keduanya. "Lula, ada sesuatu yang mau aku katakan."
Lula terdiam. Perasaannya tiba-tiba menghangat. Genggaman erat dan tatapan suaminya membuat jantungnya berdebar-debar.
“Maukah kamu menikah denganku secara resmi dan memulai semuanya dari awal?” Tanpa banyak bicara, sebuah cincin berlian ia sematkan di jari manis wanita itu.
Lula menatapnya lekat. “Sebelum aku menjawab, apa boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh. Tanya saja.”
“Apa kamu mencintai aku?”
Pertanyaan itu membuat Dirga terdiam beberapa saat. Jika ditanya perihal cinta, ia pun belum memahami perasaan apa yang dimilikinya untuk istrinya itu. “Kamu mau jawaban sejujurnya?”
“Kalau jujur lebih baik kenapa harus bahagia dengan kebohongan?”
Dirga menarik napas lalu menjawab, “Kalau kamu tanya tentang cinta, sejujurnya aku tidak tahu. Aku pernah mengira mencintai seseorang yang ternyata itu hanya kepingan rasa bersalah.”
“Kalau kamu tidak mencintai aku, lalu apa alasanmu mau menikah secara resmi dengan aku?”
"Aku hanya mau menghabiskan sisa usiaku bersama kamu. Aku tidak begitu paham apa itu cinta. Yang aku tahu, saat ini aku nyaman bersama kamu dan tidak tertarik dengan yang lain."
Sebuah jawaban jujur yang mengukir senyum di bibir Lula.
"Soal cinta ... dia akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, karena terbiasa, sampai akhirnya merasa saling membutuhkan?”
.
.
.